Transformasi ala Albert Yonathan (Liminal Being)

May 10, 2010 by voj  
Filed under Seni & Budaya

Di tahun 2010 sampai saat ini Albert Yonathan tercatat sudah 2 kali mengadakan pameran tunggalnya, pertama di Sigiarts pada bulan February yang lalu, dan pada bulan Mei kali ini di The Japan Foundation. Sepertinya gairah dan semangat berkarya yang ia dapatkan saat menjalani Proses Residensi dari  Jenesys The Japan Foundation selama kurang lebih 90 hari di Jepang masih sangat kuat melekat dalam dirinya.

Liminal Being
Pada pameran Liminal Being kali ini kita masih bisa menemui karya yang sama seperti yang pernah ia pamerkan di pameran tunggalnya berjudul Cosmic Mantra di Sigiarts yang sebelumnya sudah pernah saya bahas di blog ini. Apa sebenarnya arti dari judul pameran ini ? di dalam katalog NUANSA yang dikeluarkan oleh The Japan Foundation ‘Liminal’ adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah kondisi atau keadaan transisi atau di dalam sebuah proses transformasi. Istilah ini sering digunakan dalam kajian antropologi atau psikologi.

Dari proses yang saya cari, Liminal berarti ‘In Between, Transtitional’, sedangkan di sumber lain yang saya temukan  Liminal Being diartikan sebagai makhluk legendaris yang tubuh Fisiknya terbagi dua sehingga memungkinkan timbulnya 2 sifat yang bertolak belakang.

Berdasarkan pengertian diatas sepertinya kita sudah bisa meraba apa maksud dan korelasi dari ‘Liminal Being’ tersebut dengan karya Albert Yonathan yang dipamerkan di The Japan Foundation ini. Bila kita perhatikan bentuk-bentuk yang Albert cipakan bagaikan bentuk suatu makhluk hidup yang sedang melalui proses transformasi, antara manusia dan makhluk jenis lainnya, bila kita lihat dari banyaknya bentuk simbolik sayap yang ada, burung atau makhluk dengan sayap lainnya sepertinya juga banyak mempengaruhi Albert dalam berkarya.

Albert & program Residensi Jenesys
Albert Yonathan adalah seorang seniman yang berlatar belakang akademik di ITB, ia mempunyai minat yang tinggi di bidang seni keramik dan sangat mengagumi karya-karya seni keramik yang berasal dari Jepang, negara yang ternyata akan membawanya kesana selama 90 hari dalam proses program Residensi Jenesys The Japan Foundation Indonesia.

Bagi seniman manapun, saya rasa Jepang memang menjadi suatu tujuan khusus, Jepang adalah negara yang sangat menghargai berbagai macam karya seni, mereka juga sering mengaplikasikan karya seni ke dalam kehidupan serta kebutuhan hidup sehari-hari, seperti Bento atau kotak bekal makan yang tampilan makanannya sering sekali terkandung unsur estetika. Bukti lainnya adalah nilai total karya seni yang telah di eksport oleh negara berpopulasi 127 juta penduduk ini senilai 124.895.700 US Dollar (Data PBB 2007), bandingan dengan Indonesia yang berpopulasi 240juta tapi hanya dapat mengeksport 9.900.385 US Dollar (Data PBB 2008), dari nilai tersebut kita sudah dapat menilai Jepang dengan alam dan penduduknya disana seperti sudah mendarah daging dengan karya Seni.

Di Jepang, Albert berkesempatan bertemu dengan banyak seniman dari negara lain yang juga datang melalui program residensi Jenesys di negara mereka masing-masing, di akhir programnya setiap seniman diharuskan mengadakan sebuah pameran tunggal yang pada umumnya seperti merefleksikan tentang hal apa saja yang telah mereka dapat selama program residensi. Albert mengatakan ia sangat terkagum-kagum dengan atmosfir berkesenian disana, mulai dari apresiasi masyarakat yang cukup tinggi, serta fasilitas yang mendukung seniman dalam berkarya maupun mengadakan pameran, cerita selengkapnya tentang pengalaman Albert Yonathan selama ia melakukan program residensi dapat dilihat disini.

The Exhibition
Meski karya yang dipamerkan di Pameran Liminal Being ini tidak sebanyak saat di Cosmic Mantra, pengaturan serta tata letak pada pameran ini menurut saya briliant! dengan menggunakan salah satu ruang di The Japan Foundation, pameran Liminal Being ini menempatkan karyanya memusat seperti sedang memandang panggung pertunjukan, tidak ada ruang yang sia-sia sehingga pengunjung dapat dengan leluasa menikmati pameran ini, satu-satunya yang kurang manarik menurut saya adalah tidak adanya katalog, dan hanya disediakan Press release yang berbentuk poster yang dapat dilipat, yah..memang sih tempat pameran ini bukan Gallery Seni, jadi saya maklum saja cuma dapet seadanya, tapi untuk karya Albert Yonathan ini, sayang rasanya hanya dicetak di poster lembaran HVS.

Exhibition Name : Liminal Being
Place : The Japan Foundation
Curator :
Time : 5 May – 19 May 2010
Artist : Albert Yonathan

Blogpost ini disindikasi dari Out of The Box Indonesia (termasuk foto-fotonya)

Eksplorasi Fairy Tale Dalam Vector (Happily (N)ever After)

May 10, 2010 by voj  
Filed under Seni & Budaya

Kalau ada pameran yang paling saya tunggu-tunggu di bulan April yang lalu, Happily (N)ever After – Amalia Kartika Sari oleh Amalia Kartika Sari lah pamerannya. Amalia Kartika Sari atau lebih dikenal dengan nickname Loveshugah adalah seorang Vector Artist, saya sengaja mengambil istilah Vector Artist karena memang semua karya luar biasa miliknya dibuat dengan Vector, coba teman-teman mampir ke deviantart miliknya.

Gaya ilustrasi Vector yang lucu, menarik dan penuh warna mamaksa kita untuk menyukai ilustrasi tersebu, lalu apa yang terjadi bila semua ilustrasi tersebut di masukan ke dalam sebuah Galeri Seni? hasilnya sangat luar biasa, Amalia Kartika Sari berhasil membuat suatu kejutan luar biasa dari tiap karya yang ia buat. Setiap lukisan berukuran besar tersebut disertai pigura yang dibuat satu tema dengan lukisannya, sehingga kita masih merasa bahwa pigura tersebut adalah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari lukisannya. Dari semua karyanya, ”Loro Jonggrang’ bisa disebut sebagai fenomena dalam pameran ini, lukisan yang disertai oleh instalasi Stainless Steel emas ditempatkan tepat di posisi pintu masuk, sehingga dari awal kita sudah diberi kejutan akan ukuran serta detail dari karya tersebut.

Tema yang diangkat oleh Amalia Kartika Sari dalam pameran ini sebagian besar merupkan cerita-cerita Fairy Tale dari Barat, sebut saja judul-judul seperti Alice In Hurryland, Happily (N)ever After – Amalia Kartika Sari, Lie, pinokio, lie, Little Red Hiding what, adanya perubahan nama tersebut sepertinya merupakan keisengiannya dalam berkarya, begitu juga dalam pembuatan ilustrasinya, Amalia Kartika Sari hampir selalu menggunakan figur dirinya sebagai karakter, dan di setiap ada figur dirinya disana selalu tampak karakter laki-laki yang ada bersamanya.

Rasanya saya bisa merasakan, pameran Happily (N)ever After ini akan menjadi tonggak awal kemajuan para Vector Artist Indonesia dalam melebarkan sayapnya ke dalam ranah Galeri Seni, bila benar maka bersiaplah menyambut awal yang baru dalam dunia seni lukis kontemporer Indonesia, Kita lihat saja nanti :)

Exhibition Name : Happily (N)ever After
Place : Kemang Icon Art Space
Curator : Asmudjo Jono Irianto
Time : 15 April – 6 May 2010
Artist : Amalia Kartika Sari

Blogpost ini disindikasi dari Out of The Box Indonesia (termasuk foto-fotonya)

Trotoar untuk Siapa?

May 8, 2010 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Jalan adalah sebuah prasarana penting dalam tata kota dimana banyak prasarana lain ikut bergantung pada keberadaan jalan tersebut yaitu salah satunya transportasi. Beragamnya pengguna jalan maka dirasakan penting untuk dibuat pembagian penggunaan jalan berdasarkan penggunanya, maka kita bisa menemukan apa yang kita sebut dengan trotoar yang saya yakin semua orang sudah tahu fungsinya untuk apa, yaitu untuk pejalan kaki yang melakukan perjalanan dengan alat transportasi alam yang built-in dengan tubuh kita, yaitu sepasang kaki.

Jika kita simak Wikipedia tentang trotoar maka akan kita dapati penjelasan sebagai berikut:

Trotoar adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan  pejalan kaki yang bersangkutan.

Para pejalan kaki berada pada posisi yang lemah jika mereka bercampur dengan kendaraan, maka mereka akan memperlambat arus lalu lintas. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama dari manajemen lalu lintas adalah berusaha untuk memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, tanpa menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan pembangunan trotoar.

Pertanyaan pada judul tulisan ini muncul karena definisi pada Wikipedia tersebut di atas tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada trotoar-trotoar di Jakarta. Banyaknya pelencengan yang terjadi pada trotoar, antara lain:

  1. Jalur motor
  2. Tempat parkir
  3. Tempat melakukan usaha (warung dan kaki lima)
  4. Tempat menanam pohon
  5. Jadi satu dengan tempat beradanya tiang-tiang (tiang listrik, tiang telpon, tiang lampu jalan, dll)

Apakah memang di kota Jakarta semua orang diharapkan untuk menggunakan kendaraan sehingga fungsi trotoar untuk pejalan kaki dikorbankan? Tentu seharusnya tidak ya. Yang terjadi adalah law enforcement yang tidak berjalan sehingga masyarakat merasa boleh melakukan hal-hal yang dilarang.

Bagaimana menurut Anda?

Foto oleh: Margie Meiranie Sudiro

Transportasi Publik Yang Bisa Diandalkan

April 26, 2010 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Setiap kali saya pulang ke Jakarta, saya selalu merasakan kesumpekan dan keruwetan yang terus bertambah. Saya bisa merasakan ini karena seperti penduduk Jakarta yang lain, saya adalah termasuk dari salah satu warga Jakarta yang tiap hari harus melakukan commute dari kawasan suburb di selatan Jakarta ke tempat saya beraktifitas dengan menghabiskan waktu sekitar 45 menit kalau kondisi jalanan tidak macet (silahkan bayangkan sendiri berapa lama yang harus tempuh jika kondisi jalanan sedang macet). Bagi warga yang tinggal di kawasan kota satelit Jakarta bahkan harus menghabiskan waktu yang lebih lama lagi untuk mencapai tempat kerja mereka.

Apa yang sebenarnya menjadi masalah? Memang sebagai sentra aktifitas bagi sebagian besar warga, kondisi Jakarta yang semakin tidak nyaman untuk dijadikan tempat bekerja dan tinggal ini tidak memiliki jalan keluar lain selain mencoba untuk beradaptasi dengan kondisi yang makin lama makin memburuk ini. Dampak langsungnya adalah pengorbanan yang sangat besar dari kualitas hidup kita demi kelanjutan hidup. Ya coba bayangkan saja, kita harus menyiapkan ekstra waktu dan ekstra kekuatan mental hanya untuk bisa bekerja di Jakarta. Atau bisa dikatakan perjalanan pergi dan pulang serta beraktifitas adalah perjuangan tersendiri dalam kehidupan sehari-hari di Jakarta di luar perjuangan untuk hidup itu sendiri (bekerja). Ini menjadikan hidup di Jakarta saya bisa bilang sama sekali tidak bisa dibilang nyaman.

Masalah transportasi publik di Jakarta adalah masalah yang tidak pernah selesai, dan seperti juga permasalahan-permasalahan lainnya, karena saking lama nya tidak dipecahkan maka warga Jakarta menjadi skeptik dan mencoba memecahkan permasalahannya masing-masing sendiri yang akhirnya menimbulkan masalah baru lagi. Untuk lebih jelasnya saya akan coba memaparkan dari sudut pandang seorang warga Jakarta:

  1. Jakarta memiliki sistem transportasi publik dalam kota seperti bis kota, kereta api, minibus (Metromini & Kopaja), angkot, dan taksi
  2. Jakarta tidak memiliki sistem pembatasan jumlah mobil pribadi seperti yang dilakukan oleh negara tetangga kita Singapura, sehingga perkembangan jumlah mobil pribadi tidak bisa di kontrol.
  3. Menaikkan besaran pajak terhadap kendaraan pribadi ternyata bukanlah jalan keluar yang baik untuk membatasi jumlah kendaraan pribadi.  Karena itu seperti menaikkan standar harga, begitu masyarakat bisa membeli mobil dengan harga katakanlah tingkat menengah, maka opsi membeli kendaraan pribadi jadi semakin luas karena kendaraan tingkat bawah pun jadi bisa terjangkau.
  4. Naiknya jumlah pemilik kendaraan pribadi tidak bisa diimbangi oleh pertumbuhan jalan, sehingga yang terjadi adalah munculnya kemacetan di mana-mana.
  5. Kemacetan di mana-mana ini merugikan seluruh warga Jakarta, dan warga menjadi skeptis karena selama bertahun-tahun tidak ada perbaikan (dari pemerintah) untuk kondisi ini. Oleh karena itu mereka mencoba memecahkan masalah ini dengan hanya melihat pada diri mereka masing-masing (no time to pay attention to others), yaitu dengan membeli kendaraan pribadi yang bisa at least memecahkan masalah waktu tempuh dan kenyamanan (dibadingkan dengan menggunakan kendaraan umum). Kendaraan pribadi ini adalah Motor.
  6. Pertumbuhan jumlah motor yang merupakan pemecahan jangka pendek bagi pemiliknya ternyata menciptakan masalah baru, karena motor maupun mobil tetap saja mengkonsumsi tiap jengkal jumlah jalan yang pertumbuhannya sangat timpang.
  7. Alhasil, kondisi bukannya menjadi semakin nyaman tapi ya semakin buruk.
  8. Tambahan lagi, warga kita sudah sejak lama tidak pernah dibiasakan patuh hukum, karena jujur saja pelaku hukumnya pun kebanyakan di jalan raya sering melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum yang ujung-ujungnya jadi muncul paradigma tidak ada yang tidak boleh di jalanan Jakarta asal kita bisa membayar.

Itulah yang bisa saya tangkap, silahkan kalau ingin menambahkan. Lalu apa kira-kira yang bisa sekiranya memperbaiki kondisi ini?
Kebetulan saya mendapat kesempatan untuk tinggal di dua kota yang memiliki sistem transportasi cukup baik, yaitu New York City dan Singapura. Eits jangan terburu-buru menyebutkan bahwa Jakarta tidak sebanding dengan dua kota ini? Kita akan tetap jalan di tempat jika tidak mau melihat dan membandingkan dengan tempat-tempat lainnya. Pengalaman tinggal di dua kota ini membuat saya mengerti bahwa wajar jika warga kota ini tidak perlu punya kendaraan pribadi sendiri. Transportasi publik yang mereka miliki sangatlah bisa diandalkan. Sehingga warga lebih memilih menggunakan transportasi publik dibandingkan kendaraan pribadi karena bahan bakar mahal dan tempat parkir gila2an mahalnya. Namun transportasi publiknya nyaman. Lalu apakah artinya di kedua kota tersebut tidak dikenal yang namanya macet/traffic jam? Jangan salah, tetap ada, tapi jauh lebih bisa di manage dan pengertian traffic jam mereka berbeda. Jika di Jakarta rumah-kantor = 1-2 jam karena traffic jam, kalau di Singapura/New York, naik kendaraan molor 20 menit = traffic jam.

Hal lainnya lagi adalah yang berkaitan dengan poin nomer 8, yaitu law enforcement. Di NYC/Singapura, practically tidak ada masalah serius, sedangkan di Jakarta, untuk mengatur agar dua jalur (busway & umum) bisa dipergunakan sebagaimana mestinya saja susahnya bukan main.

Sekali lagi, saya sangat yakin, jika kita memiliki transportasi publik yang bisa diandalkan maka hampir sebagian masalah warga Jakarta akan bisa terselesaikan.

Bagimana menurut Anda?

Tulisan ini bisa dibaca juga di sini