Vox – Pada Awalnya
December 29, 2008 by voj
Filed under SimakMusik

Haa……? Saya beberapa kali mengusap kuping saya seolah tak percaya ketika menyimak track pertama dari album debut grup Vox asal Surabaya bertajuk “Pada Awalnya”.Dari intro yang diawali ketukan drum,lalu gitar telah membawa saya ke sebuah era masa lampau……tepatnya 60-an. Ya betul apalagi intro lagu ini betul-betul memorable yaitu “Wouldn’t It Be Nice” The Beach Boys dari album masterpiece-nya “Pet Sounds”.
Hmmmm…….kemanakah citarasa musik yang akan dibawa kelompok yang digawangi Josep Sudiro (bas,vokal), Donnie Setiohandono (piano, Rhodes, Harmmond, vokal), Vega Antares Setianegra (gitar elektrik, akustik, vokal) dan Gabriel Mayo Riberu (drums, vokal) ini?. Tampaknya mereka tengah silau dengan wabah musik pop era 60-an yang kadung disebut “sunshine pop” atau “power pop” dan lain sebagainya. Musik Beat memang tengah melanda dunia. Beach Boys sendiri mengaku terpengaruh The Beatles. Dan Vox bahkan mencoba menyelusupkan pula arwah The Beatles dalam komposisi lagunya yang berjumlah 11.
Keempat pemusik Vox memang punya tugas berat. Karena mereka pun menyanyi. Harus membagi harmoni vokal yang telah ditata Donnie Setiohandono.
Pada lagu “Oh Well” dengan cerdik Vox kembali menyulam aura lagu “God Only Knows” nya The Beach Boys. Permainan slide gitar Vega di lagu ini justeru mengingatkan kita pada karakteristik George Harrison dari The Beatles. Lalu di bagian koda pendengar diberi ilusi seolah terjebak deja vu aura “All You Need Is Love” nya The Beatles dengan tumpukan bebunyian brass section yang dimainkan Indra Aziz, Ijo dan Teguh. Dan mendadak kita pun bisa mengingat aura Paul McCartney pada lagu “My Baby Blue”. Apalagi ditambah arransemen brass section yang dibuat Ramondo Gascaro dari grup Sore yang mau gak mau mengingatkan saya pada “Getting Better” The Beatles (Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band). Atmosfer serupa pun tersimak pada lagu “Menjadi Dewasa” dan “Apapun Itu”.
Vox tampaknya berupaya keras pula untuk membuat lirik yang tak dangkal.Sepintas mereka lebih banyak menomosatukan ekspresi.Liriknya singkat tapi padat makna.
Simak ketika vox bercerita tentang persahabatan dalam lagu “Ingatkah Pertama” :
Ingatkah pertama kau terhenti
Dan berjanji untuk mencoba kembali
Ingatkah pertama kau menyerah
Hingga saat terakhir kau hembuskan nafas
Dan simak bagaimana vox mengungkapkan kota kelahirannya Surabaya dalam “Surabaya # 1?
walkin’ down the river, walkin’ down the river
I was born when the moon was gone
kissed the sky of Surabaya’s sunshine
I got my blues right below my shoes
it just the life that I cannot choose
I rest my soul in the rock and roll
I am the son of our traffic sounds
Jika jenuh dengan berkelebatnya band-band yang tipikal belakangan ini, Vox layak disimak.
TRACKLIST
1. PADA AWALNYA
2. GOING DOWN
3. OH WELL
4. MY BABY BLUE
5. AK.SA.RA.
6. PAGI
7. INGATKAH PERTAMA
8. MENJADI DEWASA
9. APAPUN ITU
10. DEAR LORD
11. SURABAYA # 1
JUDUL ALBUM: PADA AWALNYA
ARTIS: VOX
LABEL: AKSARA RECORDS
TAHUN: 2007
PRODUSER: DAVID TARIGAN & JOSEPH SUDIRO
DENNY SAKRIE
0818417357
Fenomena Qasidah Modern
September 27, 2008 by voj
Filed under SimakMusik
Setiap bulan suci Ramadhan, tak syak lagi begitu banyak album-album berlabel religius Islami dirilis oleh berbagai perusahaan rekaman. Ini merupakan fenomena yang berkembang sejak dasawarsa 1970-an. Artis maupun kelompok musik yang sesungguhnya menapak di jalur musik pop, melakukan terobosan dengan merilis album bertajuk Qasidah Modern.
Mungkin masih lekat dalam ingatan bahwa pada paruh dasawarsa 70-an, tiba-tiba begitu banyak kelompok musik yang menjejali industri musik kita dengan musik ber-label qasidah modern. Ada Koes Plus (Tonny, Yon, Yok, dan Murry) dari label Remaco yang merilis album qasidah dengan sederet lagu seperti Nabi Terakhir, Ya Allah, Sejahtera dan Bahagia, Zaman Wis Akhir, Ikut Perintah-Nya, Karena Ilahi, atau Kesyukuran yang Suci. Kelompok rock asal Surabaya AKA yang didukung Utjok Harahap, Arthur Kaunang, Soenatha Tandjung, dan Syech Abidin, di perusahaan rekaman yang sama pun mengeluarkan album qasidah modern. Uniknya, baik Koes Plus maupun AKA beberapa personelnya seperti Yon Koeswoyo (Koes Plus), Soenatha Tandjung, dan Arthur Kaunang (AKA) justeru bukan penganut Islam. Lalu Bimbo pun tak ketinggalan merilis album qasidah modern dengan lagu-lagu, seperti Rindu Kami pada-Mu, Qasidah Matahari dan Rembulan, Dikaulah Tuhan Terindah, hingga Anak Bertanya pada Bapaknya. Menariknya dalam penulisan lirik lagu, Bimbo menjalin kolaborasi dengan penyair Muslim, Taufiq Ismail. Selain itu, Bimbo yang didukung Sam, Acil, Jaka, dan Iin Parlina, juga memperoleh kontribusi penulisan lirik dari KH Miftah Faridl, E.Z Muttaqien, Endang Sjaifuddin Anshari, dan banyak lagi. Tak semuanya menuai sukses. Itu patut diakui. Namun, dari pergulatan yang kompetitif, mencuat salah satu di antaranya adalah kelompok Bimbo asal Bandung, Jawa Barat, yang kemudian berlanjut hingga sekarang ini. Bahkan, Bimbo yang tahun ini genap berusia 40 tahun, memperoleh predikat sebagai kelompok musik religius.
Penggagas
Lalu siapakah sesungguhnya yang menggagas munculnya terminology qasidah modern dalam industri musik (pop) Indonesia? Dalam catatan, ada pemusik bernama Agus Sunaryo yang memimpin kelompok musik Bintang-bintang Ilahi berupaya memasukkan unsur modern dalam musik yang mengiringi qasidah. Instrumen combo band mulai dilibatkan di dalamnya, seperti keyboard, gitar elektrik, dan bass elektrik. Tersebutlah Rofiqoh Darto Wahab, penyanyi qasidah yang telah mencuri perhatian ketika tampil dengan qasidah modern pada sebuah acara keagamaan yang berlangsung di kota kelahirannya, Pekalongan, pada tahun 1964. Lalu ada kelompok qasidah wanita yang bermain dengan setumpuk instrumen band bernama Nasyidah Ria, yang antara lain memopulerkan lagu Perdamaian, lagu yang kemudian dibawakan dalam versi rock oleh kelompok Gigi. Artis lainnya yang mencoba berqasidah modern, antara lain penyanyi Fenty Effendy serta Djamain Sisters yang didukung Rien Djamain. Pro dan kontra perihal qasidah modern pun menyembur. Mochtar Luthfy El Anshary, salah seorang ahli musik qasidah, yang pernah memimpin Orkes Gambus Al Wardah dan Hasan Alaydrus dari Orkes Gambus Al Wathan, menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Agus Sunaryo dengan embel-embel qasidah modern sebetulnya tak bermuatan anasir modernisasi qasidah. ”Saya hanya melihat musik band yang pop telah dipaksakan dengan syair-syair lama,” kata Alaydrus, seperti yang ditulis majalah Tempo edisi 37/IV/16/ 22 November 1974. Mochtar Luthfy El Anshary berpendapat, ”Pantun-pantun bahasa Arab itu diletakkan dalam irama yang tidak tepat.” Namun, niat untuk ‘memodernisasi’ qasidah tiada pernah berhenti. Dari tahun ke tahun pergeseran telah terlihat dengan nyata. Saat itu, pada tahun 1974, Koes Plus yang menoreh kontroversi, karena juga merilis album Natal, menyanyikan syair religius dengan menggunakan bahasa Jawa pada lagu bertajuk Zaman Wis Akhir. Bimbo sendiri banyak mengadopsi musik Flamenco dalam racikan musik qasidahannya. Dan, Bimbo bahkan telah mencoba melepaskan diri dari pakem qasidah yang berbasis bahasa Arab. ”Kami menggunakan syair berbahasa Indonesia,” ujar Samsudin Hardjakusumah atau lebih dikenal dengan Sam Bimbo.
Keragaman
Saat ini keragaman musik religius sangat terasa. Ada yang menyelusupkan pengaruh musik R&B (rhythm and blues), seperti yang dilakukan oleh kelompok Shaka hingga Nawaitu Project. Kelompok Gigi bahkan seolah meneruskan apa yang pernah dilakukan oleh kelompok rock, AKA, pada tahun 1975, memasukkan anasir musik rock yang dinamis dan sarat gegap gempita. Debby Nasution dari Gank Pegangsaan dalam album solo religiusnya malah memasukkan repertoar klasik milik Johann Sebastian Bach. Ada pula yang membaurkannya dalam musik jazz, seperti album Sound of Beliefe. Gito Rollies mendaur ulang dua hit dari The Rollies yakni Hari Hari dan Kau yang Kusayang, tetapi dengan lirik yang telah mengalami perubahan, dari tema hedonistic
materialistic menjadi kontemplasi religi. Hingga saat ini, sudah tak terhitung lagi jumlah album religius yang beredar di tengah masyarakat. Opick, seorang pemusik rock yang gagal dalam karier musik rocknya, malah menemukan jati diri musikal yang sesungguhnya pada musik religius.
—————————–
Republika,Senin 1 Oktober 2007
Fenomena Qasidah Modern
oleh Denny Sakrie
Rock Majemuk Sang Ikan
August 21, 2008 by voj
Filed under SimakMusik
Tatanan musik Tot Licht begitu kaya. Inilah album terbaik progressive rock di negeri ini setelah Guruh Gypsy.
Setelah sukses melambungkan sederet grup papan atas seperti Sheila On 7, Padi, dan Cokelat dengan penjualan jutaan keping, kini Sony Music Indonesia punya “mainan” baru: Progressive Sony atau disingkat PRS. PRS adalah sub-label Sony yang menampung grup-grup musik marginal atau “terpinggirkan” alias tidak bermain dalam jalur pop mainstream. Mereka, grup musik yang tak pernah dijamah industri musik karena muatan idealisme yang dianggap berseberangan dengan selera pasar, digamit oleh Sony Music Indonesia. Produk perdana PRS adalah Discus, grup progressive rock yang pernah dua kali tampil dalam event progressive rock internasional: ProgDay di North Carolina, Amerika Serikat (2000), Baja Prog di Meksiko (2001). Album pertama Discus, Discus 1St, bahkan dirilis secara internasional oleh sebuah label independen Italia, Mellow Record. Selain dirilis di Indonesia oleh PRS Record, album kedua, Tot Licht, juga dirilis di Jepang oleh Gohan Records dan di Prancis oleh Musea Records.
Seperti album pertamanya, Discus 1St (Chicoira Productions, 1999), grup yang dimotori gitaris Iwan Hasan ini masih percaya pada konsep musik fusi: menggabungkan sedemikian banyak style musik. Dengan basis rock, Discus, yang didukung delapan pemusik, mengadon musiknya dengan anasir jazz, klasik, folk, dan etnik Indonesia. Bahkan mereka pun kini terlihat berani dengan menampilkan sentuhan metal. Simak saja riff-riff gitar Iwan Hasan yang tegas, tebal, dan sarat distorsi. Permainan drum Hayunaji yang powerful serta dipertegas dengan growl (teknik nyanyi menggeram yang menjadi ciri musik metal) yang dilakukan oleh Ombat Nasution, penyanyi grup metal Tengkorak, menjadi bintang tamu pada lagu Breathe. Anasir musik yang beraneka ragam ini tampaknya diperlakukan sebagai simbolisasi. Untuk lagu yang cenderung bertendensi kritik sosial seperti System Manipulation dan Breathe, simbol bunyi itu jatuh pada sentuhan metal, yang memang memiliki kesan anger. Dalam atmosfer yang lain, Discus memberi ruang untuk bunyi-bunyian instrumen etnik dari Bali, Kalimantan, ataupun Toraja. Cerdiknya, Discus tidak berupaya memempelaikan instrumen Barat dan Timur, tapi lebih mementingkan hadirnya instrumen tradisional sebagai elemen bunyi. Tak jauh seperti pemahaman musik yang pernah dilontarkan pemusik I Wayan Sadra: mainkanlah instrumen etnik itu dengan mengabaikan pakem. Sangat berbeda dengan apa yang pernah dilakukan Eberhard Schoener, pemusik Jerman yang mencoba menggabungkan musik rock dengan gamelan Bali pada album Bali Agung (1976), yang terkesan tempelan belaka. Menyimak musik Discus di album ini, kita seperti tengah menaiki roller coaster. Nyaris tidak ada ruang untuk bernapas. Rhythm dan komposisi melodinya padat. Beat berubah-ubah. Tapi toh mereka tak menampakkan kesan pamer kemampuan. Bahkan dinamika ritme, melodi, dan beat yang tidak konstan ini sepertinya memang diupayakan untuk mendramatisasi tema lirik. Teror musikal semacam ini memang mengingatkan kita pada upaya yang sering dilakukan Frank Zappa. Musik Discus yang bermain tanpa batas musik ini—berlari dari rock, jazz, hingga klasik—memang tak jauh dari apa yang pernah dilakukan pemusik 70-an seperti Frank Zappa ataupun Canterbury Scene, gerakan pemusik Inggris yang berasal dari Canterbury seperti National Health, Egg, Khan, Soft Machine, Matching Mole, yang bereksperimen menampilkan rock dengan dimensi majemuk. Satu-satunya lagu yang agak menyempal di album ini adalah P.E.S.A.N, yang justru bercorak ear candy. Harmonisasi vokalnya terasa bagai kelompok PAHAMA. Paling tidak, di lagu yang dilatari petikan gitar akustik ini, kebetulan lagu ini ditempatkan pada pertengahan dari susunan 6 lagu album Tot Licht, bisa dijadikan jeda setelah dibombardir deretan lagu yang njelimet. Pada komposisi Music 4.5 Players, Discus menampilkan dialog instrumen biola (Eko Partitur), gitarharpa 21 senar (Iwan Hasan), dan klarinet (Anto Praboe). Sebuah chamber music yang bernuansa kontemporer dan mengingatkan kita pada Dixie Dregs, grup progressive rock-nya gitaris Steve Morse. Dibanding album sebelumnya, di album Tot Licht ini, selain ingin menyajikan tatanan musik yang kaya dan majemuk, Discus juga ingin serius dalam menggarap tema lirik. Mereka ingin melakukan ekspansi tema, tidak ingin terjebak dalam tema-tema mitologi atau fiksi ilmiah seperti yang menjadi tipikal kelompok-kelompok progressive-rock mainstream di era 70-an seperti Yes atau Genesis. Kritik terhadap perilaku korup, yang masih jadi isu nasional sekarang ini, termaktub dengan lugas dan gamblang pada lagu System Manipulation:
Ethical manipulation gets justified as such
Contextual proposition, considered absolute
You thinks you’re such a noble, you’re just another clown
Manipulate, take advantage, twist meanings as you wish….
Discus pun merasa perlu membolak-balik catatan dua wanita yang tertindas dengan konteks yang berbeda: R.A. Kartini, wanita Jawa yang terbelenggu nilai adat, dan Anne Frank, gadis Jerman Yahudi yang melarikan diri dari holocaust Nazi dan meninggal di Kamp Konsentrasi Belsen pada usia 16 tahun. Dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisikan kumpulan surat-surat Kartini, lalu muncul lagu “Verso Kartini – Door Duisternis tot Licht!”. Sedangkan buku harian Anne Frank yang legendaris itu menjadi gagasan utama lagu Anne, yang berdurasi 19,23 menit. Liriknya digarap oleh Fadhil Indra, sang pemencet bilah-bilah kibor. Kedua lagu ini disajikan dalam gaya naratif dan sedikit berkesan operatic. Lagu ini rasanya punya potensi kuat untuk dikembangkan menjadi semacam opera rock seperti Tommy (Pete Townshend) atau Jesus Christ Superstar (Andrew Lloyd Weber & Tim Rice). Sayangnya, kedua lagu ini terasa sangat mubazir. Padatnya narasi harus tumpang tindih dengan music score yang juga sangat padat. Terlalu menjelas-jelaskan. Sepertinya, Discus tidak begitu yakin pesan dari tema lagu tersebut bisa dipahami pendengarnya. Padahal, dengan hanya menggunakan bunyi-bunyian musik sebagai idiom, sebetulnya Discus mampu bertutur tentang pedihnya penderitaan yang dialami Kartini ataupun Anne Frank, tanpa harus bertutur secara verbal. Uniknya lagi, Discus menampilkan tematik historis ini dengan interpretasi yang agak nyeleneh. Misalnya, cuplikan surat Kartini terhadap Stella Zeehandelaar dan Ms. Abendanon justru dibacakan oleh suara pria dengan nada geram dan tegas. Atau, gamelan Bali dan kor Kecak menyelimuti aransemen lagu Anne, bukannya musik klasik, musik yang akrab dengan atmosfer Eropa. Dan Tot Licht merupakan album progressive rock terbaik negeri ini setelah Guruh Gipsy, album kolaborasi Guruh Sukarno Putra dengan grup rock Gipsy 27 tahun yang lalu.
Denny Sakrie – pengamat musik
Diambil dari:
Majalah Tempo No. 34/XXXII/20 – 26 Oktober 2003
‘Rock’ Majemuk Sang Ikan
The Adams – v2.05
May 28, 2008 by voj
Filed under SimakMusik

Judul Album : v2.05
Artis : The Adams
Label : Aksara Records
Tahun : 2006
Produser : Ario Hendrawan & The Adams
Harmonisasi vokal berbaur dengan riff gitar yang crunchy dan tegas bahkan terkadang kadang menyilang ke solo minimoog yang imajinatif. Itulah kesan yang mencuat ketika menyimak album kedua kelompok The Adams ini. Sajian semacam ini memang mengingatkan kita pada gerakan “power pop” yang berkecambah di akhir era 60-an terutama jika kita menyimak komposisi The Beatles, Beach Boys bahkan The Byrds. Di Indonesia bisa kita telusuri lewat Koes Plus/Bersaudara atau pun Noor Bersaudara. Ditengah riuhnya, band-band berwarna seragam belakangan ini, The Adams terlihat memiliki keunikan. Apalagi saat ini, harmonisasi vokal agak sering diabaikan. The Adams melakukan “pecahan pecahan” nada yang membentuk harmoni melodius nan catchy. Harmoni vokal ini berasal dari semua personil the Adams tanpa terkecuali. Jadi kebayang betapa repotnya konsentrasi jika tampil di pentas pertunjukan. Disamping melodi yang catchy dan akurasi harmoni vokal, The Adams pun menoreh daya pikat dalam pola penulisan lagu yang lugas, ekspresif dan imajinatif. Persoalan simpel sehari-hari tak jarang diangkat menjadi tema lagu. Tak jarang pula mereka mengetengahkan idiom atau ungkapan-ungkapan yang pernah populer di dasawarsa silam. The Adams seolah memoles sesuatu yang vintage dalam konteks kekinian. Jadi tak hanya terjebak dalam romantisme nostalgia. Melainkan memberlakukan hal-hal vintage sebagai materi untuk berekspresi dalam bermusik. Sudah pasti ini bukan hal mudah.
Dalam lagu “Berwisata”, kita mungkin tergelitik menyimak penyampaian The Adams secara a cappela. Dari segi historis, power pop memang pernah timbul tenggelam. Di era 70-an kita mendengar kiprah Badfinger dan The Raspberries. Dan di era 80-an ada Cheap Trick hingga The Knack. Lalu ada Teenage Fan Club hingga The Posies di era 90-an.Melihat fenomena ini, The Adams mestinya sudah membuat planning apabila sajian musik mereka ini berakhir dengan kulminasi.
Tetapi jika mengamati pergeseran antara album pertama dan keduanya, The Adams pasti mampu menyiasatinya. Yang jelas, lewat album ini, The Adams berhasil mencahar iklim industri musik yang sering berkonotasi epigonistik.
TRACK LIST
1.Pahlawan Lokal
2.Selamat Pagi Juwita
3.Halo Beni
4.Lega
5.15/8
6.Gelisah
7.Berwisata
8.Hanya Kau
9.Suara
10.Pijakkan
11.Pagi Siang Malam
12.Sendiri
DENNY SAKRIE
0818417357
http://musicalbox.jdfi.co.id/n
Thanks To : David Tarigan (Aksara Records), Meidy Ferialdi, Kristanto Gunawan (Aquarius Musikindo), Kunto & Mumu (Sony BMG), Adib Hidayat (Warner Music), Aldo Sianturi (Universal Music ) untuk CD-CD nya !
Endah N’ Rhesa – Nowhere To Go
May 22, 2008 by voj
Filed under SimakMusik

Judul Album: Nowhere To Go
Artis: Endah n’ Rhesa
Label: REI Project
Tahun: 2006
Mendengarkan 7 lagu dari duo Endah n’ Rhesa di album “Nowhere to Go” ini seakan-akan kita dibawa ke suasana alam yang damai, di mana kuping kita tidak dipaksa untuk mendengarkan nada-nada rumit, melainkan dibuai oleh alunan duet gitar akustik dan bass. Kalau menurut saya pribadi, lagu-lagu yang bernuansa acoustic pop-folk-jazzy ini adalah merupakan proses pematangan berkarya dari Endah sendiri yang sudah kenyang untuk menjelajahi genre musik dengan gitar.
Album ini diawali oleh hentakan gitar akustik dari Endah yang membawakan lagu yang berjudul “Bad Lecturer”, ada sedikit sentuhan style dari Beautiful South pada lagu ini, terutama pada stroke nya Endah di gitar akustiknya. Lagu-lagu bernuansa acoustic pop jazzy sangat ketara di lagu-lagu “Blue Day”, “Uncle Jim” dan juga “Understand Me”
Lagu ketiga yang berjudul “When You Love Someone” adalah lagu jagoan dari duo Endah n’ Rhesa di mana lagu ini sempat menduduki 10 besar top download di IM:port. Lagu manis ini memang punya potensi untuk jadi hits, di mana lirik yang begitu puitis dan juga suara gitar akustik Endah ditingkahi dentuman bass gitar Rhesa yang sekaligus menjaga beat dari keseluruhan lagu membuat lagu ini menjadi sangat catchy dan nyaman untuk didengar.
Lagu keempat yang berjudul “Living With Pirates” mewakili nuansa folk-rock versi akustik minus drum, di mana basic lagunya sendiri adalah rock & roll, yang ditingkahi sentuhan pada akustik guitalele pada part solo yang dilakukan oleh Rhesa (selain memainkan electric bass, Rhesa ini juga memainkan guitalele).
Sangat menarik kalau melihat bagaimana duo ini menciptakan sebuah lagu yang didedikasikan untuk almarhum Munir dari Kontras yang tewas di perjalanan ke Belanda tempo hari. Judul lagunya adalah “Thousand Candles Lighted”, dengan ritme hentakan konstan bass nya Rhesa, lalu stroke gitar Endah yg ekspresif membuat lagu ini enak diikuti lirik maupun iramanya.
Selain itu perlu diketahui bahwa duo ini mendistribusikan cd album mereka ini secara indie dan juga melalui IM:port untuk digital full-track serta RBTnya
TRACKLIST
1. Bad Lecturer
2. Blue Day
3. When You Love Someone
4. Living With Pirates
5. Uncle Jim
6. Thousand Candles Lighted (Dedicated to Munir Kontras)
7. Understand Me






