Futurotextiles: Surprising Textiles, Design & Art
May 18, 2010 by voj
Filed under Seni & Budaya

Pameran tahunan kerjasama Indonesia dengan Prancis kini kembali dibuka dengan tema yang berbeda dari tahun-tahun yang sebelumnya, pameran yang merupakan edisi ke-6 yang telah di selenggarakan di Jakarta ini mengambil tema Futurotextiles, dimana dalam pameran ini kita diajak untuk mengenal perkembangan tekstil yang diaplikasikan ke dalam banyak media, seperti Fashion, karpet, dan bahkan diguanakan dalam bahan bangunan.


Pameran Futurotextiles ini sebelumnya telah sukses dipamerkan di 6 negara yaitu di Kota Lilie (Prancis), Istanbul (Turki), Courtrai (Belgia), Bangkok (Thailand) dan Casablanca (Maroko). Seperti biasa, tidak hanya pameran saja yang diselenggarakan Printamps, ada banyak sekali acara-acara yang mendukung tema utama Printamps tahun ini, antara lain Pameran Fotografi, pameran mode, Tari Kontemporer, Sirkus Kontemporer, Konser Simfoni, pameran poster film, dan masih banyak yang lainnya.
Event Le Printemps yang berlangsung dari tanggal 27 April hingga 25 Juli 2010 ini dijamin akan banyak memberikan pengalaman baru buat teman-teman yang ingin mencari alternatif hiburan lain yang ada di kota Jakarta, jangan sampai melewatkan acara-acara menarik lainnya ![]()

Ana Maria Kornelia | Life Dress | 2005 | Flexothane, katun, Cartridge H20
Untuk Info lebih lanjut : www.ccfjakarta.or.id, email : info@ccfjakarta.or.id, Telp : 390 85 85
Blogpost ini disindikasi dari Out of The Box Indonesia (termasuk foto-fotonya)
Transformasi ala Albert Yonathan (Liminal Being)
May 10, 2010 by voj
Filed under Seni & Budaya

Di tahun 2010 sampai saat ini Albert Yonathan tercatat sudah 2 kali mengadakan pameran tunggalnya, pertama di Sigiarts pada bulan February yang lalu, dan pada bulan Mei kali ini di The Japan Foundation. Sepertinya gairah dan semangat berkarya yang ia dapatkan saat menjalani Proses Residensi dari Jenesys The Japan Foundation selama kurang lebih 90 hari di Jepang masih sangat kuat melekat dalam dirinya.
Liminal Being
Pada pameran Liminal Being kali ini kita masih bisa menemui karya yang sama seperti yang pernah ia pamerkan di pameran tunggalnya berjudul Cosmic Mantra di Sigiarts yang sebelumnya sudah pernah saya bahas di blog ini. Apa sebenarnya arti dari judul pameran ini ? di dalam katalog NUANSA yang dikeluarkan oleh The Japan Foundation ‘Liminal’ adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah kondisi atau keadaan transisi atau di dalam sebuah proses transformasi. Istilah ini sering digunakan dalam kajian antropologi atau psikologi.
Dari proses yang saya cari, Liminal berarti ‘In Between, Transtitional’, sedangkan di sumber lain yang saya temukan Liminal Being diartikan sebagai makhluk legendaris yang tubuh Fisiknya terbagi dua sehingga memungkinkan timbulnya 2 sifat yang bertolak belakang.
Berdasarkan pengertian diatas sepertinya kita sudah bisa meraba apa maksud dan korelasi dari ‘Liminal Being’ tersebut dengan karya Albert Yonathan yang dipamerkan di The Japan Foundation ini. Bila kita perhatikan bentuk-bentuk yang Albert cipakan bagaikan bentuk suatu makhluk hidup yang sedang melalui proses transformasi, antara manusia dan makhluk jenis lainnya, bila kita lihat dari banyaknya bentuk simbolik sayap yang ada, burung atau makhluk dengan sayap lainnya sepertinya juga banyak mempengaruhi Albert dalam berkarya.
Albert & program Residensi Jenesys
Albert Yonathan adalah seorang seniman yang berlatar belakang akademik di ITB, ia mempunyai minat yang tinggi di bidang seni keramik dan sangat mengagumi karya-karya seni keramik yang berasal dari Jepang, negara yang ternyata akan membawanya kesana selama 90 hari dalam proses program Residensi Jenesys The Japan Foundation Indonesia.
Bagi seniman manapun, saya rasa Jepang memang menjadi suatu tujuan khusus, Jepang adalah negara yang sangat menghargai berbagai macam karya seni, mereka juga sering mengaplikasikan karya seni ke dalam kehidupan serta kebutuhan hidup sehari-hari, seperti Bento atau kotak bekal makan yang tampilan makanannya sering sekali terkandung unsur estetika. Bukti lainnya adalah nilai total karya seni yang telah di eksport oleh negara berpopulasi 127 juta penduduk ini senilai 124.895.700 US Dollar (Data PBB 2007), bandingan dengan Indonesia yang berpopulasi 240juta tapi hanya dapat mengeksport 9.900.385 US Dollar (Data PBB 2008), dari nilai tersebut kita sudah dapat menilai Jepang dengan alam dan penduduknya disana seperti sudah mendarah daging dengan karya Seni.
Di Jepang, Albert berkesempatan bertemu dengan banyak seniman dari negara lain yang juga datang melalui program residensi Jenesys di negara mereka masing-masing, di akhir programnya setiap seniman diharuskan mengadakan sebuah pameran tunggal yang pada umumnya seperti merefleksikan tentang hal apa saja yang telah mereka dapat selama program residensi. Albert mengatakan ia sangat terkagum-kagum dengan atmosfir berkesenian disana, mulai dari apresiasi masyarakat yang cukup tinggi, serta fasilitas yang mendukung seniman dalam berkarya maupun mengadakan pameran, cerita selengkapnya tentang pengalaman Albert Yonathan selama ia melakukan program residensi dapat dilihat disini.
The Exhibition
Meski karya yang dipamerkan di Pameran Liminal Being ini tidak sebanyak saat di Cosmic Mantra, pengaturan serta tata letak pada pameran ini menurut saya briliant! dengan menggunakan salah satu ruang di The Japan Foundation, pameran Liminal Being ini menempatkan karyanya memusat seperti sedang memandang panggung pertunjukan, tidak ada ruang yang sia-sia sehingga pengunjung dapat dengan leluasa menikmati pameran ini, satu-satunya yang kurang manarik menurut saya adalah tidak adanya katalog, dan hanya disediakan Press release yang berbentuk poster yang dapat dilipat, yah..memang sih tempat pameran ini bukan Gallery Seni, jadi saya maklum saja cuma dapet seadanya, tapi untuk karya Albert Yonathan ini, sayang rasanya hanya dicetak di poster lembaran HVS.
Exhibition Name : Liminal Being
Place : The Japan Foundation
Curator :
Time : 5 May – 19 May 2010
Artist : Albert Yonathan
Blogpost ini disindikasi dari Out of The Box Indonesia (termasuk foto-fotonya)
Eksplorasi Fairy Tale Dalam Vector (Happily (N)ever After)
May 10, 2010 by voj
Filed under Seni & Budaya

Kalau ada pameran yang paling saya tunggu-tunggu di bulan April yang lalu, Happily (N)ever After – Amalia Kartika Sari oleh Amalia Kartika Sari lah pamerannya. Amalia Kartika Sari atau lebih dikenal dengan nickname Loveshugah adalah seorang Vector Artist, saya sengaja mengambil istilah Vector Artist karena memang semua karya luar biasa miliknya dibuat dengan Vector, coba teman-teman mampir ke deviantart miliknya.
Gaya ilustrasi Vector yang lucu, menarik dan penuh warna mamaksa kita untuk menyukai ilustrasi tersebu, lalu apa yang terjadi bila semua ilustrasi tersebut di masukan ke dalam sebuah Galeri Seni? hasilnya sangat luar biasa, Amalia Kartika Sari berhasil membuat suatu kejutan luar biasa dari tiap karya yang ia buat. Setiap lukisan berukuran besar tersebut disertai pigura yang dibuat satu tema dengan lukisannya, sehingga kita masih merasa bahwa pigura tersebut adalah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari lukisannya. Dari semua karyanya, ”Loro Jonggrang’ bisa disebut sebagai fenomena dalam pameran ini, lukisan yang disertai oleh instalasi Stainless Steel emas ditempatkan tepat di posisi pintu masuk, sehingga dari awal kita sudah diberi kejutan akan ukuran serta detail dari karya tersebut.
Tema yang diangkat oleh Amalia Kartika Sari dalam pameran ini sebagian besar merupkan cerita-cerita Fairy Tale dari Barat, sebut saja judul-judul seperti Alice In Hurryland, Happily (N)ever After – Amalia Kartika Sari, Lie, pinokio, lie, Little Red Hiding what, adanya perubahan nama tersebut sepertinya merupakan keisengiannya dalam berkarya, begitu juga dalam pembuatan ilustrasinya, Amalia Kartika Sari hampir selalu menggunakan figur dirinya sebagai karakter, dan di setiap ada figur dirinya disana selalu tampak karakter laki-laki yang ada bersamanya.
Rasanya saya bisa merasakan, pameran Happily (N)ever After ini akan menjadi tonggak awal kemajuan para Vector Artist Indonesia dalam melebarkan sayapnya ke dalam ranah Galeri Seni, bila benar maka bersiaplah menyambut awal yang baru dalam dunia seni lukis kontemporer Indonesia, Kita lihat saja nanti ![]()
Exhibition Name : Happily (N)ever After
Place : Kemang Icon Art Space
Curator : Asmudjo Jono Irianto
Time : 15 April – 6 May 2010
Artist : Amalia Kartika Sari
Blogpost ini disindikasi dari Out of The Box Indonesia (termasuk foto-fotonya)
Berkelana Di atas Gelombang Estetika (album “…Laju” – Bonita)
December 23, 2009 by voj
Filed under Seni & Budaya

Mendengarkan album “…Laju” dari Bonita ini seperti menjelajah negeri dongeng yang terpendam dalam setiap sanubari umat manusia. Hampir semua lagu-lagu yang diciptakan, dipilih dan dibawakan oleh Bonita pada album ini berpotensi membuat kita semua melamun dan terbang.
Mendengarkan album “…Laju” dari Bonita ini membuat kita kembali disadarkan bahwa sebuah karya musik tidak lah perlu harus hingar bingar dan jor-joran untuk mendapatkan sebuah impact yang kuat. Kesederhanaan eksekusi pada tiap-tiap lagu membuat lagu-lagu dalam album ini menjadi mencuat kepermukaan sehingga masing-masing bisa jadi sebuah nomor yang memiliki independensi di telinga kita semua.
Album ini benar-benar seperti sebuah papan selancar yang digunakan oleh Bonita untuk menjelajahi gelombang estetika bermusik mereka. Kenapa saya sebut mereka? karena tanpa kehadiran musisi-musisi dan produser yang bisa bersinergi dengan Bonita maka akan sangat sulit mencapai tingkatan seperti ini. Di gawangi oleh Yuka Dian Narendra dan juga sang suami Adoy (P.B. Adi), bisa disebut Bonita ada dalam jalur yang tepat untuk mengekspresikan karya-karyanya.
Lagu yang berjudul “Rumahku” karya Bonita & Boris Simandjuntak (gitaris dari Flower) membuka album ini. Semburat kesederhanaan dan masa kecil menyeruak dalam komposisi ini. Sebuah sambutan yang menyenangkan. Dan lucunya album ini juga diakhiri oleh sebuah lagu yang bernuansa kanak-kanak yang berjudul “Jatuh Cinta”, sebuah representasi jatuh cinta ala Bonita? well we should ask Bonita for this.
Selain lagu “Komidi Putar” yang juga dipakai untuk film Sang Pemimpi (MiLes), coba simak lagu “Telur” dan “Pengulangan” cukup membuat saya kembali mengulang beberapa kali untuk menyimak lagu-lagu yang menarik ini. Seperti memperhatikan seorang anak yang sedang bergumam asik dengan dunianya, dan karena anak ini adalah Bonita, maka jadilah lagu-lagu ini seperti yang kita dengarkan.
Kedalaman lirik yang puitis juga sebuah nilai yang buat saya tidak bisa diindahkan. Kebanyakan lirik dibuat oleh Bonita sendiri dan didapatnya dari kontemplasi dalam diri selama perjalanan hidupnya. Simak lagu “Dendangku”:
ketika cinta berbalik
membunuhmu
maukah kau mati ditangannya
hidup dengan benci yang mendalam
meraungkan pilu yang
menyayat hati
Pada lagu ini Bonita seperti menyuarakan sebuah aftermath dari peristiwa yang telah terjadi dalam hidupnya.
Pada lagu “Mellow”, Bonita mencoba menggambarkan bagaimana ia menikmati suasana “mellow” yang bagi sebagian orang adalah sebuah suasana muram.
Tema bersyukur banyak digunakan oleh Bonita, yang saya duga mungkin memang dengan album ini Bonita mencoba mengekspresikan perasaan bersyukurnya atas hidup yang telah ia lalui selama ini. Dan salah satu lagu yang menurut saya berhasil merefleksikan rasa syukur seorang Bonita adalah pada lagu “It’s Over Now”
Satu hal yang agak mengganggu dalam album ini adalah cover CD. Saya mengagumi artwork yang digunakan pada album ini. Ilustrasinya boleh dibilang sangat menarik dan pas, tapi pemilihan warna dan type membuat kita agak kesulitan untuk membaca judul-judul lagu di bagian belakang cover CD tersebut. Pemilihan warna background (dark pink) dan tulisan (hitam) pada ukuran fonts sekecil itu pun jadi menyulitkan untuk dibaca pada bagian Ucapan Terimakasih. Ya secara artistik keseluruhan memang menarik tapi secara desain masalahnya ya itu tadi.
Over all, saya merekomendasikan album “…Laju” dari Bonita ini untuk disimak, terutama bagi yang ingin merasakan berkelana di atas gelombang estetika musik ala Bonita.
Tracklist:
- Rumahku
- Komidi Putar
- Telur
- Pengulangan
- Dendangku
- Bangun
- Hari Ini
- Pena
- Mellow
- Ari
- Tinggal
- Kelana Bersama
- You Cheer Me Up
- It’s Over Now
- Reprise
- Jatuh Cinta
Musikalisasi Puisi “Angin Pun Berbisik”
January 5, 2009 by voj
Filed under Seni & Budaya

Pada hari Jumat tanggal 21 November 2008, saya datang ke sebuah kedai kecil yang biasa disebut “angkringan” di bilangan Kebayoran Baru. Saya datang memenuhi undangan seorang teman untuk ngobrol-ngobrol, lalu tidak lama kemudian muncul dua orang sahabat saya, duo Endah N Rhesa yang kebetulan juga datang memenuhi undangan meeting di kedai yang sama. Mereka memberikan sebuah CD Musikalisasi Puisi “Angin Pun Berbisik” yang beberapa saat lalu saya dengar memang sedang digarap oleh mereka. Karena kesibukan saya, seminggu kemudian saya baru bisa mendengarkan lagu-lagu pada CD tersebut secara utuh. Dan ini lah yang saya dapatkan:
Lagu pertama adalah lagu yang berjudul “Kali Ini Saja” yang liriknya dibuat oleh penyair Zeffa Yurihana. Lagunya sendiri dibawakan secara apik oleh seorang gitaris, komposer muda yang bernama Andre Harihandoyo. Sesuai dengan gaya bermusik Andre yang berkiblat pada musik blues, maka larik-larik puisi dari Zeffa langsung diinterpretasikan ulang oleh petikan-petikan nada blues dari gitar akustik Andre dengan sangat ekspresif dan jernih. Puisinya saja menurut saya sudah “blues” sehingga begitu Andre mendandani “Kali Ini Saja” dengan kord-kord blues maka jadilah lagu tersebut sebuah komposisi blues lengkap yang asik.
Duo Endah N Rhesa yang berperan sebagai salah satu penggagas proyek album ini mendapat kesempatan kedua dalam album ini walaupun mereka hampir ikut serta di proses pembuatan semua lagu pada album ini, tapi lagu kedua pada album ini lah yang mereka berdua ciptakan. Puisi karya penyair Zeffa Yurihana yang berjudul “Pasar” langsung berubah menjadi sebuah selimut hangat di malam yang dingin atau segelas teh es manis di sore yang panas ketika di gubah menjadi sebuah komposisi lagu yang asik dan menghanyutkan. Seperti biasa Endah N Rhesa memainkan lagu ini dengan aransemen khas akustik mereka. Denting gitar Endah disertai olah vokalnya yang tipis diiringi petikan bass Rhesa plus kord-kord bernuansa jazz melengkapi kenyamanan yang didapat pada saat mendengarkan lagu ini.
“Banyak orang bertukar barang
Sedikit orang bertukar senyum
Seorang anak ingin membeli senyum
Tapi tidak ada yang menjual senyum”
Itu potongan lirik yang diambil dari “Pasar”. Lucu, witty, plus harmonisasi backing vokal yang sangat soothing.
Pengembaraan musik dalam lirik-lirik puitik belum selesai karena lagu selanjutnya membawa kita pada suasana perjalanan. Kok perjalanan? Simak lagu yang berjudul Jakarta yang didasari oleh puisi milik Siti Atmamiah yang berjudul “Jakarta” dan dibawakan secara apik oleh Christian (Tiket). Komposisi yang diciptakan oleh Christian dan lalu di aransir oleh Rhesa Aditya ini seolah membawa kita seolah sedang melakukan perjalanan. Walaupun isi dari puisi yang mendasari lagu ini adalah mengenai kekecewaan terhadap kota Jakarta yang membuat si penyair merasa kecewa dan perlu meninggalkan Jakarta, tapi aransemen yang dibuat oleh Rhesa menciptakan ambience yang justru positif dan optimis. Simak potongan lirik/puisi lagu “Jakarta” dibawah ini:
“Kutinggalkan engkau
Sebab
Langitmu tak lagi biru
Diaduk asap dan debu
Aku sudah tak punya waktu
Untuk menunggu”
Nah anda akan mendapatkan kesan lain jika anda mendengarkan lagunya…:-)
Cinta & kerinduan adalah tema klasik yang tak pernah mati dimakan jaman. Tema ini lah yang paling banyak dipakai pada puisi maupun lirik lagu. Ekspresi kerinduan pada puisi pada puisi milik Siti Atmamiah yang berjudul “Ku Ingin” ini diinterpretasikan ulang dalam bentuk lagu oleh grup yang menamakan diri mereka sebagai Drew. Masih didominasi oleh riff gitar akustik yang ditingkahi oleh snare drum yang diketuk oleh brush stick plus bass gitar fretless yang dimaininkan oleh Rhesa Aditya, membuat lagu yang bersahaja ini jadi punya nyawa yang kuat. Lagu ini punya potensi untuk jadi idola di pasar.
Setiap seniman yang utuh dalam bentuk apapun ia akan selalu punya ciri dalam berkarya. Saya pikir statement ini bisa dilihat pada karya-karya musikalisasi puisi dalam album ini. Salah satu contoh yang kuat selain lagu “Pasar” gubahan Endah N Rhesa adalah lagu yang berjudul “Cemburu” yang didasari oleh puisi karya Irwan Dwi Kustanto yang pencipta dan arranger lagunya adalah Anindyo Baskoro atau lebih dikenal dengan Nino RAN. Ya, ia adalah salah satu personil trio yang sedang naik daun pada saat ini, RAN. Menyambung statement diawal paragraf diatas, kita tentunya tau bagaimana lagu-lagu dari RAN, dan pada lagu yang diciptakan oleh Nino berdasarkan puisinya Irwan ini, ciri RAN tersebut tidak hilang tapi bermetamorfosis dalam bentuk yang jauh lebih bersahaja, dengan balutan musik akustik ala Maxwell yang membuat para pendengar seperti saya merinding mendengarnya. Tentunya peran Raisa, yang bernyanyi bersama Nino tidak mengurangi keindahan lagu ini. Sangat menenangkan, walaupun sebenarnya liriknya menyiratkan kegundahan yang kental.
Pada lagu berikutnya yang berjudul “Luka Seorang lelaki” yang diambil dari puisi berjudul sama milik Irwan Dwi Kustanto. Saya mendengar nafas folk yang muncul pada duet Dody-Riqo dimana mereka juga betindak sebagai arranger dan pencipta lagunya. Gaya bermain gitar dan karakter vokal duo ini yang saya pikir membawa nafas folk yang bukan berarti lagu ini kekurangan nilai estetisnya tapi malah jadi kekuatan sinergi yang lumayan kuat.
Lagu “Sepi” yang diciptakan oleh Endah N Rhesa berdasarkan puisi karya Siti Atmamiah membawa kita ke lorong-lorong sunyi. Illustrasi pembacaan puisi oleh Maudy Koesnaedi dengan latar belakang suara enharmonik dari bass Rhesa terasa sangat dalam. Saya seolah sedang menonton sebuah trailer film yang bercerita tentang kesepian yang mendalam ketika mendengarkan lagu ini, dan saya yakin andapun demikian.
Cornelia Agatha….aktris yang sudah kita kenal berhasil membacakan puisi dengan sangat baik. Adalah puisi milik Irwan Dwi Kustanto yang berjudul “Angin Pun Berbisik” yang ia bawakan dengan penghayatan yang saya mesti acungkan jempol. Peranan Yessi Kristianto & Rhesa Aditya sebagai arranger pun punya andil yang cukup baik. Intro yang kuat lalu mulai masuk ke background ketika Lia mulai membaca puisi membuat ekspresi Lia ketika membacakan puisi jadi semakin kuat.
Lagu “Angin” yang dibawakan oleh Jodhy Yudono yang didasari oleh puisi karya Zeffa Yurihana juga dibawakan dengan gaya folk dari perspektif yang berbeda dibandingkan dengan duo Dody-Riqo. Judhy yang memainkan gitar diiringi oleh Choirul Alhuda yang memainkan violin & viola membawa kita ke suasana alam nan bersahaja. Jangan lupa oleh pembacaan puisi oleh si kecil Yoga Sukma Khalid Nan Agung yang diselipkan pada tengah lagu. Sangat syahdu dan bersahaja.
Album Musikalisasi “Angin Pun Berbisik” ini bisa saya kategorikan sebagai salah satu musikalisasi puisi yang berhasil memadukan dua ranah seni ini menjadi satu kesatuan yang cantik. Dahulu saya sempat terperangah ketika duo Ari & Reda membuat musikalisasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, nah kali ini kembali saya terperangah ketika mendengarkan album musikalisasi puisi ini. Terima kasih buat semua yang terlibat yang membuat puisi-puisi dalam album ini jadi bisa didengarkan oleh semua orang termasuk saya.
Cerita di balik album ini pun tak kalah menarik dan menyentuh kalau boleh saya bilang demikian. Dari mulai puisi-puisi yang dihadirkan adalah puisi pilihan dari buku antalogi puisi “ANGIN PUN BERBISIK”. Karya Irwan Dwi Kustanto, Siti Atmamiah dan Zeffa. Pak Irwan adalah seorang tuna netra, sedangkan Ibu Siti dan Zeffa adalah istri dan anaknya yang bermata awas sampai dengan tekad menyumbangkan hasil penjualan seluruh CD ini pada 100% pada Yayasan Mitra Netra sebagai pendanaan buku Braille untuk tuna netra.
Saya iseng menanyakan bagaimana cara mendapatkan CD tersebut dan informasi yang saya dapatkan adalah:
CD musikalisasi puisi dapat Anda pesan melalui :
Yayasan Mitra Netra (021-7651386) (www.mitranetra.or.id)
dan HP nya Endah N Rhesa 08161443431 atau email di reiproject@yahoo.com
(datang ke Loca tiap Rabu malam, anda bisa bertemu dengan Endah N Rhesa di sana dan beli CDnya di mereka)
Well, jadi bila kita membeli CD ini selain kita mendapatkan lagu-lagu yang bagus, kitapun beramal.






