Menyimak dan Menikmati Jazz
April 15, 2009 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz

Bagaimana cara menikmati Jazz? Bagaimana cara mencerna apa yang didengar? Apa yang didengarkan dari Jazz? Mengapa Jazz terdengar hanya seperti nada-nada yang dijejalkan saja? Ini hanya sedikit dari banyak pertanyaan yang sudah sering saya dengar dari berbagai pihak yang baru saja mulai mendengar Jazz, atau bahkan dari mereka yang mengaku sudah sering mendengar Jazz.
Banyak juga yang akhirnya mundur teratur karena menurut mereka Jazz terlalu rumit untuk dapat dimengerti. Ini sebuah hal yang patut disayangkan karena hanya dengan meluangkan sedikit waktu untuk mempelajari sisi-sisi terdasar dari Jazz, Anda dapat membuka pintu menuju sebuah pengembaraan yang unik dan membawa diri Anda ke dalam sebuah dimensi baru dalam menikmati musik ini.
Berikut beberapa saran saya yang sekiranya dapat membantu Anda:
- Mulailah dengan memperkenalkan diri Anda kepada sedikit sejarah Jazz. Hal ini dapat dilakukan dengan membaca berbagai artikel di Internet, dan yang pasti dengan mendengarkan berbagai contoh lagu klasik hasil karya permainan musisi-musisi seperti Louis Armstrong, Ella Fitzgerald, Count Basie, Charlie Parker, Miles Davis, John Coltrane, dan lain-lain;
- Perkenalkan juga diri Anda kepada berbagai style Jazz seperti Dixie, Swing, Bebop, Cool, Free, Jazz Rock, dan lain-lain;
- Dari berbagai contoh lagu dan style tersebut, perhatikanlah perbedaan style, melodi, dan ritmenya. Ini adalah dasar-dasar dari variasi yang kemudian dapat dikembangkan oleh sang musisi dalam berimprovisasi;
- Amati juga olah komunikasi dari musisi-musisi yang bermain dan bagaimana cara mereka berinteraksi satu sama lain;
- Pergilah menikmati Jazz yang dimainkan live. Coba bandingkan apa yang Anda dengar di rumah dengan yang dimainkan di hadapan Anda. Apakah ada kesamaan atau mungkin perbedaan?
- Jangan malu-malu untuk mendekati sang musisi dan mulai bertanya atau meminta pendapat tentang musik yang mereka mainkan. Mereka merupakan nara sumber penting untuk menambah pengetahuan Anda.
Pada umumnya apresiasi musik merupakan pengalaman pribadi yang sangat intim dan berbeda nilainya bagi setiap pendengar; tentunya secara khusus Jazz juga demikian adanya. Jazz merupakan karya seni unik di mana musik yang dimainkan adalah sebuah bentuk ekspresi timbal balik antara sang musisi dan pendengar. Jazz perlu didengar, dialami, dihayati, dan yang terpenting, disimak. Semakin banyak Anda menyimak, semakin dalam pengertian dan apresiasi yang akan Anda miliki atas seni ini. Menikmati Jazz tidak sukar selama Anda memiliki keinginan dan ketertarikan untuk terjun masuk dan merangkulnya.
Alfred D. Ticoalu
Chicago, IL
21 Pebruari, 2009
Sebelumnya diterbitkan oleh WartaJazz.com format edisi cetak dalam rangka Java Jazz Festival 2009.
Nuansa Jazz – Perubahan Jam
April 3, 2009 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz

Halo teman-teman,
Karena di Amerika baru saja diterapkan Daylight Saving Time, acara Nuansa Jazz berubah sedikit waktunya. Sekarang menjadi:
- Sabtu, 10:00 am CST
- Selasa, 10:00 pm CST (tayang ulang)
Perubahan ini hanya berlaku untuk Amerika saja. Jam dan hari tayang tetap seperti biasa untuk Indonesia dan Singapura. Jam tayang di atas berlaku sampai 14 Maret, 2010. Sesudahnya Nuansa Jazz kembali hadir 9:00 am CST dan 9:00 pm CST.
Salam hangat,
Alfred Ticoalu
Chicago, IL
3 April, 2009
Howard Levy
February 26, 2009 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz

Halo teman-teman,
Untuk menyambut diputarnya edisi spesial Nuansa Jazz yang pertama di tahun ini, dengan bintang tamu Howard Levy, berikut kami tayangkan sebuah artikel* mengenai beliau.
Edisi ini akan mengudara perdana 21 Maret, 2009 dan ditayangkan ulang di minggu sesudahnya. Informasi lebih lanjut untuk hari dan jam mengudaranya Nuansa Jazz dapat ditemukan di halaman Jadwal Program.
Salam hangat,
Alfred D. Ticoalu
25 Pebruari, 2009
Chicago, IL
==========================
Kala diucapkan, nama Howard Levy selalu mengundang setidaknya dua pertanyaan. Pertanyaan pertama, yang paling banyak terdengar, “Siapa sebenarnya Howard Levy?” Pertanyaan kedua, yang juga tak kalah banyak terdengar, “Bagaimana mungkin Howard Levy, sebagai seorang manusia, dapat bermusik seperti itu?”
Jika seseorang layak dikatakan jenius maka Howard Levy lebih dari layak dimasukkan ke dalam kategori tersebut. Dia seorang musisi tanpa batasan. Pinta saja berbagai jenis musik untuk dia mainkan – dari Rock, Jazz, Blues, Latin, Classic, Country, Folk, juga musik tradisional seperti Klezmer, Celtic, Arab, Yunani, bahkan sampai Jawa, Sunda dan Bali – semua dapat dia mainkan dengan sempurna. Dan setiap saat dia selalu mencari jalan untuk mencari jenis-jenis musik baru untuk dia mainkan. “Saya tidak mampu berhenti memikirkan musik,” tuturnya. “Apapun di dunia ini, dari suara tawa canda sampai suara mesin mobil yang menderu, dapat memberikan saya inspirasi dan keinginan untuk bermusik.”
Dia aktif pula sebagai musisi studio dan ini bisa dilihat dari jumlah berbagai iklan TV dan radio yang dia telah mainkan. Sumbangan nyata ke dalam dunia musik juga bisa dilihat dari ratusan judul rekaman yang sudah dia buat. Deretan nama musisi yang pernah bermain dengannya mendatangkan decak kagum: Bela Fleck and the Flecktones, yang mana dia dikenal sebagai salah satu pendirinya, Kenny Loggins, dengan Eugene Friesen dan Glen Velez dalam kelompok Trio Globo, Dolly Parton, Jerry Garcia dan Grateful Dead, Styx, Paul Wertico, Bobby McFerrin, Jack McDuff, Toots Thielemans, Claudio Roditi, Johnny Frigo, Paul Simon, Tito Puente, Nelson Rangell, John Prine, Paquito D’Rivera, Ken Nordine, Cindy Lauper, Rabih Abou Khalil, Michael Riessler, Jean-Luc Ponty, Oregon, Jerry Bruce, Trilok Gurtu, Mark Murphy, John Tesh, Anthony Molinaro, Branford Marsalis, dan ratusan nama lainnya yang layak disebut namun jika dilakukan hanya akan memenuhi halaman ini. Berbagai penghargaan atas berbagai sumbangannya kedunia musik telah diterima dan salah satunya, Grammy Award, diraih pada tahun 1997.
Sebagai pemain piano, flute, ocarina, mandolin, saxophone, dan berbagai alat perkusi, dia selalu mendatangkan decak kagum. Namun dari semua itu sumbangan terbesar justru terletak di alat musik utamanya yaitu harmonika diatonik yang lazim dipakai oleh para pemain Blues. Sampai saat ini Howard Levy masih dinyatakan sebagai pemain harmonika diatonik paling advance yang pernah ada di dalam sejarah musik. Sebagai pencetus ide overblow dan overdraw, juga ditambah dengan teknik bending yang sudah dikenal sebelumnya, dia memungkinkan dan menciptakan teknik bermain kromatik dengan harmonika diatonik 10 lubang. Konsep bermain kromatik dengan harmonika diatonik mungkin terdengar asing bagi pembaca dan bahkan anda mungkin bertanya-tanya apa arti sebenarnya hal ini. Cara menjelaskan yang termudah adalah dengan membayangkan keyboard piano di benak anda namun hilangkan semua kunci-kunci (tuts) hitam darinya. Yang tertinggal tentu hanya kunci-kunci putih dan pada dasarnya itulah harmonika diatonik, harmonika yang diciptakan hanya untuk memainkan nada-nada natural (natural notes) tanpa hadirnya nada-nada kres dan mol (sharps dan flats). Howard Levy, dengan teknik overblow dan overdraw ciptaannya, dapat memainkan nada-nada kunci-kunci hitam, sharps dan flats, yang sebenarnya tidak ada di harmonika tersebut. Bukan hanya ide ini revolusioner namun juga secara drastis merubah ilmu bermain harmonika diatonik. Seorang diri, Howard Levy membuktikan bahwa hal ini dapat dilakukan dan terciptalah suara baru dalam dunia harmonika.
***
Lahir dan dibesarkan di New York City, Howard memulai dunia musiknya diusia dini. “Saya mulai belajar bermain piano diusia 8 tahun, musik klasik, walau entah mengapa saya selalu berusaha untuk berimprovisasi,” ucap Howard kepada penulis. “Tak lama kemudian selera musik saya mulai berkembang, tak semata mendengarkan dan memainkan musik klasik saja. Sewaktu di bangku SMU saya bergabung dengan sebuah kelompok musik dan pemain drum kelompok tersebut sedang belajar memainkan harmonika blues dari mendengarkan berbagai rekaman yang ada. Dari dia lah saya mulai tertarik dengan blues, bahkan saya jatuh cinta dengan blues.” Howard meneruskan, “Tak lama kemudian saya mulai mempelajari blues dengan piano dan setelah dapat memainkannya dengan baik saya mulai berpikir mungkin ada baiknya juga belajar memainkan harmonika. Waktu itu saya hanya memikirkan betapa enaknya memainkan harmonika, tak perlu berat-berat membawanya,” tukas Howard seraya tertawa. “Saya berkenalan dengan Jazz tak lama sesudah itu dan dunia saya berubah secara drastis. Betapa tertantangnya saya untuk dapat memainkan musik itu!”
“Sejak dulu saya melihat diri saya sebagai pemain piano. Secara langsung maupun tak langsung, saya berpikir sebagai pemain piano kala memainkan alat musik lain,” ucap Howard. “Ini juga bisa dilihat dari cara saya melihat harmonika. Banyak yang bertanya mengapa saya bersusah payah memilih memainkan harmonika diatonik ketimbang kromatik, yang jelas-jelas lebih mudah dimainkan karena semua nada-nada yang diperlukan ada.” Dilanjutkan oleh Howard, “Bagi saya, dan saya rasa juga banyak pemain harmonika diatonik lainnya, harmonika diatonik lebih ekspresif ketimbang kromatik. Justru karena ketidakberadaan semua nada-nada yang diperlukan, bermain lebih ekspresif merupakan satu-satunya jalan keluar. Sekali lagi, saya memandang harmonika itu sebagai piano. Sebenarnya semua nada-nada itu ada di harmonika tersebut hanya saja anda harus memiliki keinginan untuk menemukannya!”
Setelah meninggalkan bangku SMU, Howard melanjutkan pendidikannya di Manhattan School of Music, berkonsentrasi di dalam dunia musik klasik dengan alat musik piano. Pendidikannya dilanjutkan dengan belajar memainkan pipe organ di bawah bimbingan Carl Lambert dan di tahun 1969 dia mengambil keputusan untuk pindah ke Northwestern University di Evanston, IL, sekitar setengah jam dari Chicago. Di sana Howard mulai aktif bermain Jazz dengan menggabungkan dirinya ke dalam sebuah kelompok musik yang khusus memainkan musik itu. Dua tahun di Northwestern memberikan berbagai kesempatan kepada Howard untuk berkenalan dengan musisi-musisi studio di Chicago. Steve Goodman, John Prine, Bonnie Koloc, Tom Paxton dan Johnny Frigo, hanyalah sebagian kecil dari musisi-musisi tersebut. Beberapa tahun bermain musik iklan di berbagai studio memberikan kesempatan bagi Howard untuk mengasah dan membentuk dirinya. Dia juga mulai terjun masuk kedalam dunia musik teater dan berbagai sumbangannya terbukti dari penghargaan Joseph Jefferson Award untuk kategori musik sandiwara terbaik.
Di pertengahan tahun 80 Howard memulai karir baru dengan memulai perjalanan keliling Amerika dan Eropa dengan Paquito D’Rivera yang dijumpai pertama kali kala Howard sedang bermain piano untuk Tito Puente. Tak lama sesudah itu Howard menetaskan album perdananya, Harmonica Jazz, yang juga diproduserinya sendiri. Album ini secara tuntas memperkenalkan Howard Levy sebagai pemain harmonika yang mampu memainkan hal-hal yang sebelumnya dianggap tak mungkin dapat dimainkan dengan alat musik tersebut. Memainkan Donna Lee karya Charlie Parker, Epistrophy karya Thelonius Monk dan Resolution, bagian kedua dari A Love Supreme, karya John Coltrane, adalah contoh nyata dari kemampuan Howard dalam berimprovisasi secara handal bahkan jenius.
Di tahun 1989, kala Howard mengajar harmonika di The Augusta Heritage Arts Workshop di Elkins, WV, dia berkenalan untuk pertama kalinya dengan Bela Fleck. Lorraine Duisit, rekan musisi Howard di kelompok Trapezoid, memperkenalkan mereka. Dalam sebuah bincang-bincang santai dengan penulis Howard mengingat kembali peristiwa tersebut. “Ada-ada saja! Baru kali itu saya diseret oleh seorang wanita untuk bertemu seseorang. Bela sedang duduk di lobi hotel tempat semua musisi menginap dan ketika kami sudah saling berhadap-hadapan Lorraine hanya berkata: Howard, Bela … MAIN!” Howard tertawa tergelak-gelak mengingat peristiwa tersebut. “Akhirnya kami bermain, jamming, sampai jam 7 pagi di lobi itu.” Pengalaman itu beberkas di hati Bela karena tak lama kemudian dia mengajak Howard untuk bermain dengan Victor dan Roy Wooten dan lahirlah Bela Fleck and the Flecktones. Dari tahun 1989 sampai 1992 Howard bermain di kelompok tersebut dan menghasilkan empat album, Bela Fleck & The Flecktones, Flight of the Cosmic Hippo, Live Art dan UFO Tofu. Masa-masa ini penting karena Howard untuk pertama kalinya menarik perhatian massa umum secara luas dan tentu saja dunia industri musik.

Howard berpisah dengan The Fleckstones dengan alasan yang amat khas darinya, “Sudah waktunya untuk saya berpisah dengan mereka untuk mencari bahasa musik yang baru. Tahun-tahun itu penuh dengan berbagai kesenangan. Namun sekali lagi, sudah saatnya bagi saya untuk melangkah lebih maju.” Dua album Howard selanjutnya, Carnival of Souls dan Trio Globo, dibuat dengan kelompok musik Trio Globo yang sampai hari ini masih dianggotainya. Anggota lain kelompok musik tersebut adalah Eugene Friesen pada cello dan Glen Velez pada perkusi. Kehadiran alat-alat musik tersebut memberikan suara, warna dan harmoni tersendiri yang amat unik. Komposisi-komposisi yang dimainkan di album itu semuanya ditulis oleh mereka sendiri dan masing-masing dibentuk sedemikian rupa untuk dapat menunjukkan kemampuan bermain dan olah pikir mereka.
Selain Trio Globo Howard juga memiliki beberapa projek musik lain yang semua masih aktif digelutinya. The Molinaro/Levy Project, kelompok duet piano-harmonika yang dimotori oleh Anthony Molinaro dan Howard telah menghasilkan sebuah album, The Molinaro /Levy Project-Live, yang direkam live di Green Mill, sebuah klub Jazz ternama di Chicago dan beberapa aula kesenian di propinsi New York. Album mereka penuh berisi dengan musik yang menantang; dari komposisi 19/8 yang tentu saja diberi judul dari ketukan komposisi tersebut, Mood Indigo – karya Barney Bigard dan Duke Ellington – di mana Howard memainkan harmonika dengan menggunakan sebuah cangkir, sebuah cara yang patennya dimiliki Howard, untuk mendapatkan pola suara plunger mute yang biasanya hanya kita dengar dari pemain trumpet dan trombone, sampai Amazing Grace, tour-de-force Howard yang sampai saat ini tak tertandingi. Projek yang lain adalah Accoustic Express, sebuah kelompok musik akustik yang berakar dari kelompok musik Django Reinhardt and Stephane Grappelli, dimotori oleh Howard, Chris Siebold dan Pat Fleming pada gitar, dan Larry Kohut pada bass. Mereka telah merekam sebuah album yang rencananya akan dilepas tak lama lagi. Chévere, projek ketiga Howard, merupakan kelompok musik yang diakui sebagai kelompok musik Latin/Jazz/Funk/Blues tingkat kelas atas di Chicago dalam kualitas musiknya. Di sini Howard juga berperan sebagai pemimpin dari kelompok tersebut, komposer dan penata musik.
Indonesia, secara khususnya Jawa dan Bali, tidak asing di mata Howard yang mana amat menggemari musik gamelan. “Sudah lebih dari 30 tahun saya mendengarkan dan mempelajari gamelan,” ucap Howard. “Bonang, saron, gong, rebab, suling, kendang, kecapi bahkan sampai kulintang, amat menarik perhatian saya. Saya memiliki satu set kulintang di kamar belakang rumah saya yang pernah saya mainkan dengan Bela Fleck and the Fleckstones!” Ditambahkan olehnya, “Saya mempelajari musik gamelan dari puluhan album-album yang saya miliki. Saya belum pernah ke Indonesia dan semoga suatu hari nanti saya dapat melakukannya.”
Ketika kelompok musik Krakatau datang ke Amerika sebagai duta budaya Indonesia, Howard berpartisipasi dalam rekaman mereka di Chicago. Hasil rekaman, yang saat tulisan ini dibuat masih dalam proses mixing di Jakarta, amat ditunggu oleh Howard untuk didengarnya kembali secara keseluruhan**. “Rekaman itu merupakan sebuah pengalaman yang amat berharga dan tak akan dapat saya lupakan. Krakatau merupakan kelompok musik yang amat bagus, paduan musik timur dan barat yang sesungguhnya. Setiap musisi di kelompok itu tahu persis posisi mereka dan apa yang akan mereka lakukan. Sebagai sebuah kelompok mereka adalah kesatuan yang unik.”
Tiada batasan yang bisa diberikan ke Howard dalam hal bermusik. Satu-satunya keinginan dia adalah bermusik dan menumpahkan berbagai ide yang ada di jiwa dan raganya melalui berbagai alat musik yang dapat dimainkannya, terutama harmonika diatonik. Terobosannya yang tak tertandingi adalah keberhasilan dalam memainkan harmonika diatonik secara melodis ke dalam tingkat yang sebelumnya tak dapat dan tak pernah terbayangkan. Dia percaya bahwa dia dapat melakukannya dan melalui kerja keras mencapainya. Tepuk tangan dan pujian kerap diberikan kepada setiap musisi sehabis mereka bermain. Dan di dalam lingkaran dunia musik Howard itu adalah hal yang sewajarnya terjadi dan dia lebih dari berhak untuk mendapatkannya. Setiap tepukan, setiap pujian.
Alfred D. Ticoalu
Chicago, IL
31 Agustus, 2004
Diskografi terpilih Howard Levy:
1986 – Harmonica Jazz (Tall Thin)
1986 – Paquito D’Rivera: Explosion (CBS)
1988 – Ken Nordine: Grandson Of Word Jazz (Snail)
1990 – Bela Fleck & The Flecktones (Warner Bros.)
1992 – Trio Globo: Carnival of Souls (Silver Wave)
1993 – Kenny Loggins: Outside: From the Redwoods (Sony)
1993 – Paul Wertico: Yin and the Yout (Intuition Records)
1994 – Trio Globo (Silver Wave)
1996 – The Old Country (M.A.)
1997 – Rabih Abou Khalil: Odd Times (Enja)
1999 – The Stranger’s Hand (Tone Center)
2003 – Anthony Molinaro/Howard Levy-Live (nineteeneight records)
2005 – Krakatau: 2 Worlds (MusiKita)
2005 – Howard Levy and Fox Fehling: Cappuccino (Balkan Samba Records)
2005 – Chevere: Secret Dream (Balkan Samba Records)
* Artikel ini sebelumnya pernah diterbitkan oleh www.wartajazz.com.
** sudah dilepas dengan judul 2 Worlds.
Nuansa Jazz di tahun 2009
January 1, 2009 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz
Halo teman-teman,
Tak terasa dalam sekejap 2008 akan berganti dengan 2009. Selamat Tahun Baru kami ucapkan bagi semua pendengar Voice of Jakarta dan khususnya acara Nuansa Jazz. Di tahun baru ini kami harap Nuansa Jazz semakin berkembang dan dapat sekiranya membantu terhapusnya dahaga akan musik Jazz yang makin lama makin minim terdengar di udara.
Banyak sudah ide-ide yang masuk ke kotak surat dari para pendengar. Dengan semua ide tersebut, sekiranya kami dapat membentuk sebuah gambaran bagaimana agenda Nuansa Jazz di tahun 2009 akan terbentuk. Berbagai masukkan positif kami terima atas edisi spesial yang telah kami tayangkan dan, dengan demikian, akan lebih banyak lagi kami tampilkan untuk anda semua.
Tampilan wawancara merupakan satu hal yang sangat ditunggu oleh pendengar dan dengan itu kami akan berusaha menambah tampilnya wawancara di Nuansa Jazz. Beberapa calon tamu sudah berhasil kami dapatkan, antara lain:
- Howard Levy;
- Jeremy Monteiro;
- Luluk Purwanto dan René van Helsdingen;
- Nyak ‘Ubiet’ Ina Raseuki; dan
- Paul Blair.
Mereka akan hadir satu demi satu sesuai dengan jalannya waktu di tahun yang akan datang.
Edisi spesial lainnya juga sudah mulai terbentuk. Gitar Jazz merupakan fokus dari 2 episode Nuansa Jazz dan topik-topik berikut diharapkan tampil di tahun yang akan datang:
- Penjabaran style: Trad, Swing, Bop, Hard Bop, dll;
- Tokoh-tokoh Jazz Indonesia (antara lain): Nick Mamahit, Jack Lemmers (Lesmana), Bubi Chen, Bill Saragih, dll;
- Tokoh-tokoh Jazz internasional (antara lain): Charlie Parker, Benny Carter, Roy Eldridge, Duke Ellington, Count Basie, Artie Shaw, Charles Mingus, dll;
Tentunya masukkan dari anda sangat kami harapkan untuk menambah kayanya acara kami. Jika anda memiliki kesan, pesan, saran, atau permintaan lagu, langsung saja mengirimkan e-mail ke nuansajazz at voiceofjakarta dot com. Kami tunggu!
Salam hangat dan Jazz Always!
Alfred D. Ticoalu
Chicago, IL
31 Desember, 2008
NB: Terima kasih banyak kepada Yuke Tjandra yang telah menciptakan logo Nuansa Jazz.
Lambert, Hendricks, and Ross
December 26, 2008 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz

Lambert, Hendricks and Ross merupakan salah satu kelompok vokal Jazz terhebat sepanjang masa. Tanpa mereka tidak akan ada yang kita ketahui sekarang seperti Manhattan Transfer, LA Voices, New York Voices, dan lain-lain. Dave Lambert, bersama Buddy Stewart, adalah 2 orang pertama yang menyanyikan style Bop secara keseluruhan. Tak heran julukan Lambert adalah “The Oldest Living Bop Singer”. Jon Hendricks dikenal sebagai penyanyi dan juga penulis lirik yang amat handal. Sesukar apapun sebuah komposisi dapatlah dibuat dan dimasukkan lirik oleh Jon Hendricks. Hal yang sama juga dimiliki oleh Lambert namun untuk LH&R lebih kental peranan Hendricks ketimbangnya. Annie Ross, dari Inggris, sebenarnya adalah seorang artis teater dan juga merupakan guru olah suara. Namun dengan kapasitas suaranya yang handal dan kemampuannya untuk berimprovisasi, tak salah dia ditarik masuk sebagai anggota ketiga dari kelompok ini.
Style musik mereka mencakup semua jenis yang ada di Jazz namun satu keistimewaan membuat hal ini wajib dijadikan sebuah kategori terpisah. Style dari kategori ini dinamakan “Vocalese.” Apakah itu? Kala seseorang mengambil sebuah lagu yang sudah pernah dimainkan oleh seorang musisi lain dan juga diambil solo improvisasi yang dilakukan oleh musisi itu, kemudian diberikan lirik, dan dinyanyikan nada demi nada, dus itu adalah “Vocalese.” Sebuah tekhnik yang pertama kalinya digunakan oleh musisi seperti King Pleasure dan Eddie Jefferson. King dikenal atas karya vocalese-nya terhadap karya saxophonist James Moody, “I’m in the Mood for Love” alias “Moody’s Mood for Love” sementara Eddie Jefferson dikenal atas karya vocalese-nya atas karya Charlie Parker, “Parker’s Mood.”
Dave Lambert lah yang pertama kali memikirkan penggunaan metoda Vocalese ini terhadap sebuah kelompok musik alias “vocal group”. Pada saat yang bersamaan Jon Hendricks juga memikirkan hal yang sama, dan tak lama kemudian setelah mereka bertemu, dimulailah sebuah hubungan kerja profesional yang berlangsung sampai tewasnya Dave Lambert dalam sebuah kecelakaan yang terjadi di ruas jalan tol New Jersey (New Jersey Turnpike) di tahun 1966. Dikenal sebagai seorang yang murah hati, Lambert berusaha membantu orang yang ban mobilnya pecah; dan kala sedang berusaha mengganti ban tersebut lewatlah sebuah truk yang seketika menghisap dan melindasnya. Sebuah akhir hidup yang tragis dari seseorang yang sangat tinggi bakat dan sumbangannya kepada dunia musik.
Sebelum kecelakaan itu terjadi Annie Ross sudah meninggalkan kelompok tersebut (1962), kembali ke Inggris, karena masalah kesehatan dan juga karena masalah izin kerja yang sudah habis. Kalau anda pernah mendengar nama kelompok Lambert, Hendricks and Bavan, maka inilah kelompok yang dibentuk sesudah perginya Ross. Bavan adalah dari nama sang penyanyi baru, Yolande Bavan, seorang wanita Asia yang berasal dari Ceylon atau Sri Lanka sekarang. Namun tak lama setelah itu, dengan meninggalnya Dave Lambert, bubarlah kelompok ini untuk selamanya.
=====
NB: Tulisan pendek di atas dibuat untuk seorang pendengar Nuansa Jazz yang bertanya soal kelompok ini setelah mendengarkan edisi spesial Natal Nuansa Jazz (yang mana sebuah lagu karya LH&R terdengar). Sebagai bonus akan gw mainkan lagu-lagu karya kelompok ini di beberapa edisi Nuansa Jazz yang akan datang.
Salam hangat,
Alfred D. Ticoalu
Chicago, IL
25 Desember, 2008
Musik Natal + Jazz @ Nuansa Jazz
December 18, 2008 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz

Untuk menyambut datangnya hari raya Natal Nuansa Jazz akan menampilkan berbagai lagu pilihan yang pada dasarnya lagu-lagu Natal yang sudah umum diketahui namun kali ini diberikan sentuhan Jazz menarik. Salah satu yang terpilih adalah sebuah lagu Natal unik yang ditulis oleh Thelonius Monk. Lagu ini ditulis oleh beliau dan kemudian terkubur bertahun-tahun dan tak diketahui selain oleh orang-orang tertentu. Akan hadir dua buah versi: instrumental piano oleh Benny Green dan vokal oleh Dianne Reeves. Dan tentunya akan dimainkan pula beberapa lagu Natal dengan sentuhan Jazz dari musisi negeri kita seperti Indra Lesmana, Ireng Maulana, Margie Segers, dan lain-lain.
Jadi jangan lupa untuk untuk mendengarkan edisi Nuansa Jazz Sabtu ini, 20 Desember, 2008 jam 9:00am CST, 22:00 WIB, atau 23:00 Singapore. Akan ditayangkan ulang pula di minggu selanjutnya.
Salam hangat,
Alfred Ticoalu
Nuansa Jazz – Perubahan Jam
November 4, 2008 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz
Halo teman-teman,
Karena di Amerika baru saja diterapkan Daylight Saving Time, acara Nuansa Jazz berubah sedikit waktunya. Sekarang menjadi:
- Sabtu, 9:00 am CST
- Selasa, 9:00 pm CST
Jam tayang di atas berlaku sampai 8 Maret, 2009. Sesudahnya Nuansa Jazz kembali hadir 10:00 am CST dan 10:00 pm CST. Perubahan ini hanya berlaku untuk Amerika saja. Jam dan hari tayang tetap seperti biasa untuk Indonesia dan Singapura.
Salam hangat,
Alfred Ticoalu
Aku Dengar Alfred Ticoalu Memutar Jazz
October 23, 2008 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz
Tak disangka, tak diduga. Seorang pendengar Nuansa Jazz, penyair ternama Hasan Aspahani, mendapat inspirasi untuk menulis sebuah puisi kala mendengaran edisi spesial gitar jazz. Dengan izin beliau, berikut terlampir puisi tersebut. Sekali lagi, terima kasih Bung Hasan!
Jangan lupa untuk mengunjungi blog beliau. Di sana anda bisa temukan banyak karyanya.
Selamat menikmati.
NB: Terima kasih juga untuk semua pendengar Nuansa Jazz; terutama mereka yang kala edisi spesial gitar jazz mengudara memberikan berbagai saran dan komentar. Beberapa saran yang masuk secara langsung memberi ide baru untuk edisi-edisi spesial berikutnya. Jadi, tunggu saja tanggal mainnya!
============================
Aku Dengar Alfred Ticoalu Memutar Jazz
/1/
Gerimis, aih, yang semakin genit,
menari menunggangi menit-menit
/2/
Gerimis, aih, yang semakin berlapis,
derap baris, menebal di tepi pelipis
/3/
Adakah gerimis yang tak sampai?
Ia yang terkibas, sangkut di lambai
lambai yang lekas, kembali bergegas,
jangan aku memungut bekas-bekas.
/4/
Jangan percaya pada cuaca,
kata nasihat lama, angin bisa
berdusta, gerimis bisa ia
permainkan sesuka hatinya….
/5/
Siapa memetik senar sepimu? Lepas
lagu demi lagu, meningkah jantungmu
Berdentingan, dan kau curiga pada
jemari gerimis itu, ia ciptakan jazz
bersama angin yang parau mengembus
dari lorong kosong paru-parumu
/6/
Kemana kau cari riuh gerimismu?
di lekuk kelok sungai tak ada
/7/
Aih, akhirnya, reda jua, kau redakan
sepimu, sepi redakan gerimismu,
gerimis meredakan degup jantungmu.
Siapa yang akan bilang selamat tinggal?
Tayang Ulang Edisi Spesial Nuansa Jazz: Gitar Jazz, episode 1 & 2
October 9, 2008 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz
Terima kasih banyak kepada para pendengar yang telah menyimak kedua episode edisi spesial Nuansa Jazz dalam jangka 2 minggu terakhir. Atas banyak masuknya permintaan dari pendengar setia VOJ, dan Nuansa Jazz khususnya, yang berhalangan atau sedang keluar kota untuk menayangkan kembali kedua episode spesial Nuansa Jazz, kami mengambil keputusan untuk melakukannya.
Berikut jadwal tayang setiap episode:
Gitar Jazz, episode 1: 1890-1956
Sabtu, 11 Oktober, 2008 (22:00 WIB, 23:00 Singapore, atau 10:00am CST)
Selasa, 14 Oktober, 2008 (10:00pm CST) atau Rabu, 15 Oktober, 2008 (10:00 WIB, 11:00 Singapore)
Anda akan mendengarkan penjabaran secara lugas sejarah penggunaan gitar di Jazz melalui karya permainan berbagai musisi; antara lain: Vess Ossman, Eddie Lang, Carl Kress, Django Reinhardt, Freddie Green, Eddie Durham, Charlie Christian, George van Eps, Tal Farlow, dan lain-lain.
Gitar Jazz, episode 2: 1956 – sekarang
Sabtu, 18 Oktober, 2008 (22:00 WIB, 23:00 Singapore, atau 10:00am CST)
Selasa, 21 Oktober, 2008 (10:00pm CST) atau Rabu, 22 Oktober, 2008 (10:00 WIB, 11:00 Singapore)
Anda akan mendengarkan penjabaran secara santai dan lugas sejarah penggunaan gitar di Jazz melalui karya permainan berbagai musisi; antara lain: George van Eps, T-Bone Walker, Mary Osborne, Wes Montgomery, Buddy Emmos, Charlie Byrd, Derek Bailey, James Blood Ulmer, Jim Hall, Joe Pass, Pat Metheny, Charlie Hunter, dan banyak lainnya.
Jangan lupa untuk bergabung bersama kami di acara Nuansa Jazz dan selamat mendengarkan!
Salam hangat dan Jazz Always…
Alfred Ticoalu
Edisi Spesial Nuansa Jazz: Gitar Jazz, episode 2: 1956 – sekarang
October 2, 2008 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz
Episode ini akan diputar ulang Selasa, 7 Oktober (10:00pm CST-Amerika) atau Rabu, 8 Oktober (10:00 WIB Indonesia, 11:00 Singapore).
========
Nuansa Jazz di hari Sabtu, 4 Oktober, 2008 (22:00 WIB, 23:00 Singapore, atau 10:00am Amerika CST) akan menampilkan edisi spesial: Gitar Jazz, episode 2: 1956 – sekarang. Anda akan mendengarkan penjabaran secara santai dan lugas sejarah penggunaan gitar di Jazz melalui karya permainan berbagai musisi; antara lain: George van Eps, T-Bone Walker, Mary Osborne, Wes Montgomery, Buddy Emmos, Charlie Byrd, Derek Bailey, James Blood Ulmer, Jim Hall, Joe Pass, Pat Metheny, Charlie Hunter, dan banyak lainnya.
Jangan lupa untuk bergabung bersama kami hari Sabtu ini dan selamat mendengarkan!
Salam hangat dan Jazz Always…
Alfred Ticoalu
Edisi Spesial Nuansa Jazz: Gitar Jazz, episode 1: 1890-1956






