Trotoar untuk Siapa?

May 8, 2010 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Jalan adalah sebuah prasarana penting dalam tata kota dimana banyak prasarana lain ikut bergantung pada keberadaan jalan tersebut yaitu salah satunya transportasi. Beragamnya pengguna jalan maka dirasakan penting untuk dibuat pembagian penggunaan jalan berdasarkan penggunanya, maka kita bisa menemukan apa yang kita sebut dengan trotoar yang saya yakin semua orang sudah tahu fungsinya untuk apa, yaitu untuk pejalan kaki yang melakukan perjalanan dengan alat transportasi alam yang built-in dengan tubuh kita, yaitu sepasang kaki.

Jika kita simak Wikipedia tentang trotoar maka akan kita dapati penjelasan sebagai berikut:

Trotoar adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan  pejalan kaki yang bersangkutan.

Para pejalan kaki berada pada posisi yang lemah jika mereka bercampur dengan kendaraan, maka mereka akan memperlambat arus lalu lintas. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama dari manajemen lalu lintas adalah berusaha untuk memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, tanpa menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan pembangunan trotoar.

Pertanyaan pada judul tulisan ini muncul karena definisi pada Wikipedia tersebut di atas tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada trotoar-trotoar di Jakarta. Banyaknya pelencengan yang terjadi pada trotoar, antara lain:

  1. Jalur motor
  2. Tempat parkir
  3. Tempat melakukan usaha (warung dan kaki lima)
  4. Tempat menanam pohon
  5. Jadi satu dengan tempat beradanya tiang-tiang (tiang listrik, tiang telpon, tiang lampu jalan, dll)

Apakah memang di kota Jakarta semua orang diharapkan untuk menggunakan kendaraan sehingga fungsi trotoar untuk pejalan kaki dikorbankan? Tentu seharusnya tidak ya. Yang terjadi adalah law enforcement yang tidak berjalan sehingga masyarakat merasa boleh melakukan hal-hal yang dilarang.

Bagaimana menurut Anda?

Foto oleh: Margie Meiranie Sudiro

Transportasi Publik Yang Bisa Diandalkan

April 26, 2010 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Setiap kali saya pulang ke Jakarta, saya selalu merasakan kesumpekan dan keruwetan yang terus bertambah. Saya bisa merasakan ini karena seperti penduduk Jakarta yang lain, saya adalah termasuk dari salah satu warga Jakarta yang tiap hari harus melakukan commute dari kawasan suburb di selatan Jakarta ke tempat saya beraktifitas dengan menghabiskan waktu sekitar 45 menit kalau kondisi jalanan tidak macet (silahkan bayangkan sendiri berapa lama yang harus tempuh jika kondisi jalanan sedang macet). Bagi warga yang tinggal di kawasan kota satelit Jakarta bahkan harus menghabiskan waktu yang lebih lama lagi untuk mencapai tempat kerja mereka.

Apa yang sebenarnya menjadi masalah? Memang sebagai sentra aktifitas bagi sebagian besar warga, kondisi Jakarta yang semakin tidak nyaman untuk dijadikan tempat bekerja dan tinggal ini tidak memiliki jalan keluar lain selain mencoba untuk beradaptasi dengan kondisi yang makin lama makin memburuk ini. Dampak langsungnya adalah pengorbanan yang sangat besar dari kualitas hidup kita demi kelanjutan hidup. Ya coba bayangkan saja, kita harus menyiapkan ekstra waktu dan ekstra kekuatan mental hanya untuk bisa bekerja di Jakarta. Atau bisa dikatakan perjalanan pergi dan pulang serta beraktifitas adalah perjuangan tersendiri dalam kehidupan sehari-hari di Jakarta di luar perjuangan untuk hidup itu sendiri (bekerja). Ini menjadikan hidup di Jakarta saya bisa bilang sama sekali tidak bisa dibilang nyaman.

Masalah transportasi publik di Jakarta adalah masalah yang tidak pernah selesai, dan seperti juga permasalahan-permasalahan lainnya, karena saking lama nya tidak dipecahkan maka warga Jakarta menjadi skeptik dan mencoba memecahkan permasalahannya masing-masing sendiri yang akhirnya menimbulkan masalah baru lagi. Untuk lebih jelasnya saya akan coba memaparkan dari sudut pandang seorang warga Jakarta:

  1. Jakarta memiliki sistem transportasi publik dalam kota seperti bis kota, kereta api, minibus (Metromini & Kopaja), angkot, dan taksi
  2. Jakarta tidak memiliki sistem pembatasan jumlah mobil pribadi seperti yang dilakukan oleh negara tetangga kita Singapura, sehingga perkembangan jumlah mobil pribadi tidak bisa di kontrol.
  3. Menaikkan besaran pajak terhadap kendaraan pribadi ternyata bukanlah jalan keluar yang baik untuk membatasi jumlah kendaraan pribadi.  Karena itu seperti menaikkan standar harga, begitu masyarakat bisa membeli mobil dengan harga katakanlah tingkat menengah, maka opsi membeli kendaraan pribadi jadi semakin luas karena kendaraan tingkat bawah pun jadi bisa terjangkau.
  4. Naiknya jumlah pemilik kendaraan pribadi tidak bisa diimbangi oleh pertumbuhan jalan, sehingga yang terjadi adalah munculnya kemacetan di mana-mana.
  5. Kemacetan di mana-mana ini merugikan seluruh warga Jakarta, dan warga menjadi skeptis karena selama bertahun-tahun tidak ada perbaikan (dari pemerintah) untuk kondisi ini. Oleh karena itu mereka mencoba memecahkan masalah ini dengan hanya melihat pada diri mereka masing-masing (no time to pay attention to others), yaitu dengan membeli kendaraan pribadi yang bisa at least memecahkan masalah waktu tempuh dan kenyamanan (dibadingkan dengan menggunakan kendaraan umum). Kendaraan pribadi ini adalah Motor.
  6. Pertumbuhan jumlah motor yang merupakan pemecahan jangka pendek bagi pemiliknya ternyata menciptakan masalah baru, karena motor maupun mobil tetap saja mengkonsumsi tiap jengkal jumlah jalan yang pertumbuhannya sangat timpang.
  7. Alhasil, kondisi bukannya menjadi semakin nyaman tapi ya semakin buruk.
  8. Tambahan lagi, warga kita sudah sejak lama tidak pernah dibiasakan patuh hukum, karena jujur saja pelaku hukumnya pun kebanyakan di jalan raya sering melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum yang ujung-ujungnya jadi muncul paradigma tidak ada yang tidak boleh di jalanan Jakarta asal kita bisa membayar.

Itulah yang bisa saya tangkap, silahkan kalau ingin menambahkan. Lalu apa kira-kira yang bisa sekiranya memperbaiki kondisi ini?
Kebetulan saya mendapat kesempatan untuk tinggal di dua kota yang memiliki sistem transportasi cukup baik, yaitu New York City dan Singapura. Eits jangan terburu-buru menyebutkan bahwa Jakarta tidak sebanding dengan dua kota ini? Kita akan tetap jalan di tempat jika tidak mau melihat dan membandingkan dengan tempat-tempat lainnya. Pengalaman tinggal di dua kota ini membuat saya mengerti bahwa wajar jika warga kota ini tidak perlu punya kendaraan pribadi sendiri. Transportasi publik yang mereka miliki sangatlah bisa diandalkan. Sehingga warga lebih memilih menggunakan transportasi publik dibandingkan kendaraan pribadi karena bahan bakar mahal dan tempat parkir gila2an mahalnya. Namun transportasi publiknya nyaman. Lalu apakah artinya di kedua kota tersebut tidak dikenal yang namanya macet/traffic jam? Jangan salah, tetap ada, tapi jauh lebih bisa di manage dan pengertian traffic jam mereka berbeda. Jika di Jakarta rumah-kantor = 1-2 jam karena traffic jam, kalau di Singapura/New York, naik kendaraan molor 20 menit = traffic jam.

Hal lainnya lagi adalah yang berkaitan dengan poin nomer 8, yaitu law enforcement. Di NYC/Singapura, practically tidak ada masalah serius, sedangkan di Jakarta, untuk mengatur agar dua jalur (busway & umum) bisa dipergunakan sebagaimana mestinya saja susahnya bukan main.

Sekali lagi, saya sangat yakin, jika kita memiliki transportasi publik yang bisa diandalkan maka hampir sebagian masalah warga Jakarta akan bisa terselesaikan.

Bagimana menurut Anda?

Tulisan ini bisa dibaca juga di sini

Foo Fighters Live Streaming

October 30, 2009 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Foo Fighters Live Performance from Studio 606 on Friday October 30, 2009, 7PM PT/10PM ET (October 31, around 9AM (pagi) – WIB)

Sneak-Preview: Good For The Soul

October 14, 2009 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Salah satu band indie, Andre Harihandoyo & SONICPEOPLE minggu ini merilis album mereka yang berjudul Good For The Soul. Sebelum membeli tentunya kita semua ingin tahu bagaimana musik mereka, lalu bagi yang sudah kenal dengan mereka tentunya ingin tahu ada cerita apa di balik terbentuknya album ini.

VOJ memberikan waktu buat mereka untuk bercerita dan juga memperdengarkan album baru mereka disini, caranya mudah. Silahkan tune-in di website kami ini pada:

  • Hari Rabu Tanggal 14 Oktober 2009
  • Jam 11 siang dan 11 malam (dua kali siaran) WIB

Silahkan ikutan ngobrol juga di Kotak Ngobrol kami dan kemungkinan kalian bisa ngobrol langsung dengan personil-personil Andre Harihandoyo & SONICPEOPLE pada saat acara berlangsung.

Thanks and enjoy the show…:-)

IndieAsia: Indonesia

April 14, 2009 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Pada tanggal 17 – 19 April 2009, kembali VOJ membawa 3 band indie Indonesia untuk perform di acara yang bernama INDIEASIA: INDONESIA yang akan berlangsung di Waterfront Stage – Esplanade, Singapore. Band indie yang sudah lama malang melintang di dunia musik independen Indonesia, Cozy Street Corner, duo Endah ‘N Rhesa, dan Bonita & the husBand yang kami yakin akan membuat teman-teman pencinta musik Indonesia terkagum-kagum.

Silahkan lihat jadwal pementasan mereka di bawah ini:

Andre @ Mosaic Music Festival

April 1, 2009 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Tahun 2009 ini adalah tahun dimana banyak band band indie Indonesia mulai merambah arena musik international. Andre Harihandoyo and SONIC PEOPLE, menjadi salah satu band Indonesia yang turut meramaikan festival musik terbesar di Singapura, bersama dengan Mocca yang tampil beberapa hari sebelumnya di Mosaic Music Festival 2009. Pesta musik yang diselenggarakan di Esplanade ini diramaikan oleh para musisi internasional papan atas seperti di antaranya adalah Brian McKnight, Indigo Girls, N.E.R.D., Mike Stern and the Yellowjackets, dan Dave Weckl, menjadikan MMF sebuah event musik yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Tidak sedikit penikmat penikmat musik dari negara-negara tetangga seperti Indonesia, Malaysia, Thailand dan Philipina rela terbang untuk menikmati pesta musik selama 2 minggu ini.

Sebagai band yang terhitung baru, Andre Harihandoyo and SONIC PEOPLE menunjukkan kualitasnya sebagai band yang memang pantas diperhitungkan di arena musik regional Asia Tenggara dengan menyedot sedikitnya 1000 orang penonton di panggung terbuka. Dengan warna musik blues yang kental, dipadukan dengan musik akustik dan keterampilan berimprovisasi yang di atas porsi rata-rata, Sonic People – demikian band ini secara singkat disebut – ternyata mendapat hati di banyak penikmat musik Singapura, yang notabene selama festival ini berlangsung banyak berasal dari aneka negara tetangganya.

Di suatu malam, 20 Maret 2009, mereka tampil untuk pertama kalinya di sebuah tempat yang sangat cozy, yang dikenal dengan Haagen Daaz Living Room. Kedekatan antara mereka dengan penonton sangat terasa disini, dengan musik musik akustik yang cenderung membuat penonton untuk ikut bersenandung dan bernyanyi, sampai bergoyang dengan alunan bluesy yang disajikan oleh Andre Harihandoyo and SONIC PEOPLE.

Perpaduan antara sayatan lick-lick gitar Andre yang sangat bluesy dan berpondasi ritmik yang sangat khas lewat petikan-petikannya, memang merupakan warna yang jarang kita temui belakangan ini. Ditingkahi pula oleh liukan klarinet yang khas oleh Andreas, yang juga turut menggawangi sesi ritmik lewat permainan rhodes dan organ-nya bersama dentuman bas Brian dan gebukan drum Tobias yang amat groovy, makin melengkapi band ini sebagai suatu paket yang unik dan solid. Tidak heran bila hal itu bisa amat mudah kita rasakan, karena memang latar belakang musikal masing-masing personil telah membekali mereka dengan perlengkapan perang yang mantap. Tobias merupakan langganan penggebuk drum untuk artis internasional Nestor Torres (pemain flute asal Puerto Rico) dan Doug Cameron (pemain biola jazz Amerika Serikat) di setiap pertunjukkan mereka di festival Java Jazz di Jakarta, juga pernah bermain bersama Michael Bogart (pemain trumpet band funk Tower of Power) dan pernah pula memenangkan Mezzo Jazz Award 2007 bersama bandnya, Quicky. Ia juga sempat bermain sebagai perkusionis di beragam orkestra lokal di Jakarta dan Karawaci. Andreas juga telah seringkali menulis aransemen untuk berbagai orkestra dan ensembel musik kamar, termasuk untuk peluncuran album perdana grup Everybody Loves Irene, dan belakangan ini membentuk grup orkestranya sendiri, Andreas Arianto Orchestra, yang baru saja menyelesaikan tur 6 kota bersama SLANK. Kebetulan pula Tobias dan Andreas sama-sama mengajar di Universitas Pelita Harapan Conservatory of Music. Sedangkan Brian selain menjalani kehidupannya sebagai produser musik salah satu label independent di Indonesia, juga memiliki segudang pengalaman sebagai stage and studio session player, semakin mempersolid fondasi band ini.

Kemudian di panggung yang lebih besar di luar ruangan, Waterfront Stage, Sonic People kembali bermain dengan set akustik di hari kedua pentas mereka, dengan Tobias menggunakan cajon dan beberapa simbal. Lebih dari 1000 orang terpincut untuk menonton mereka hingga akhir pertunjukkan yang seharusnya hanya 45 menit menjadi 70 menit itu. Reaksi penonton yang luar biasa akan aneka improvisasi permainan dan kecakapan Andre dalam membangun komunikasi lah yang mengharuskan mereka untuk melakukan penambahan waktu pertunjukkan. Dan sama seperti pada hari pertama, mereka pun membagi-bagikan bundel CD dari koleksi 2 CD mini album mereka yang bertajuk Two Sides for Every Story. Malam yang amat fantastis itu terus berlanjut hingga pentas mereka di hari terakhir festival Mosaic, namun kali ini dengan set elektrik dengan lagu-lagu yang lebih upbeat dan juga penuh akan improvisasi.

Oh ya, tidak lupa Sonic People pun di hari kedua membuat sesak perpustakaan Esplanade, tempat di mana acara In the House FM berlangsung dengan aneka sesi wawancara yang mengupas tentang pembuatan album terbaru mereka, juga latar belakang historis pembentukan band ini. Dalam acara ini pula mereka berkesempatan untuk bermain dua lagu. Wawancara yang amat menyenangkan ini dipandu oleh duo MC berbakat nan musikal, Jack & Rai yang sangat terkemuka di sana .

Tur mereka di Singapura ini baru saja berakhir dan Andre Harihandoyo akan melanjutkan tur promo ke Australia selama bulan April mendatang untuk terus mempromosikan bundel Two Sides for Every Story, sehingga album mereka dapat dimiliki oleh sebanyak mungkin pendengar di sebanyak mungkin tempat. Konsep yang sangat unik mereka terapkan dalam promosi, yaitu dengan memperbolehkan para pendengar untuk meng-copy lagu-lagu mereka menjadi format mp3 di komputer-komputer, untuk kemudian melibatkan para pendengar tersebut untuk meneruskan memberikan bundel itu kepada orang lain, dan begitu seterusnya. Tidak hanya itu, mereka juga akan mengirimkan T-shirt Sonic People kepada setiap pendengar yang mengunggah foto mereka bersama bundel tersebut ke halaman grup ini di Facebook. Wah, suatu konsep yang baru pertama dijalani oleh band dalam promosi karyanya! Hal ini dilakukan, ujar Andre, dengan tujuan untuk menambah gaung ketika mereka merilis album perdana mereka dalam waktu dekat ini.

Buat teman-teman yang ingin mengunduh lagu-lagu mereka secara gratis, silakan kunjungi Myspace Profile mereka  atau Imeem Profile mereka, lalu untuk reportase fotografi silakan kunjungi di Facebook Photo mereka.

Untuk info lebih lanjut silakan kunjungi website resmi Andre Harihandoyo and SONIC PEOPLE.

*Tulisan ini dibuat oleh Andreas Arianto Yanuar*

Everybody Loves Irene @ SG

February 26, 2009 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Everybody Loves Irene

Satu lagi band indie Indonesia akan manggung di luar negeri dalam waktu dekat, yaitu Everybody Loves Irene yang akan manggung di Singapura pada tanggal 27 Februari 2009. Venue tempat mereka manggung adalah Waterfront stage, Esplanade, dengan jadwal dua kali pementasan (19:30 & 22:00).

Sekilas mengenai Everybody Loves Irene (ELI), band ini mulai dirintis ditahun 1998 dengan nama Gooton yang terdiri dari Yudhi Arfani (guitar), Dimas Anindityo (bass), dan Mulyadi Triharsono (drum) yang semuanya merupakan teman satu SMP. Ketiganya jadi berteman akrab bersamaan dengan bermunculannya pementasan-pementasan britpop yang merebak subur pada saat itu di Jakarta. Pada saat itu mereka tidak memiliki penyanyi tetap, dan setelah beberapa saat pada tahun 2001 mereka bertemu dengan Irene Yohanna, gadis dengan suara yang memukau. Karakter suara yang dimiliki oleh Irene benar-benar membuat mereka terpesona dan akhirnya membuat everybody loves Irene! Ya ini lah yang mereka rasakan ketika akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan Everybody Loves Irene sebagai nama band mereka. Dan dengan segera Irene langsung menjadi icon band mereka.

Dengan perpaduan musik yang mengalir konstan serta vokal yang memelintir emosi, ELI memainkan musik mereka ketika kegembiraan mulai luntur dan berubah menjadi dingin. Mereka menyebut musik mereka dengan istilah dance-noir bagi orang yang sudah jemu untuk bergerak. Musik mereka makin diperkaya ketika Aulia Naratama (synthetizer) bergabung, yang menjadikan formasi terakhir dari ELI ini sebagai formasi yang solid dan sempurna untuk menghasilkan lagu-lagu seperti Memento Mori, Gravity Always Win, Try Try Try, The Lullaby Show, dan yang lainnya.

Bila ingin mengenal band ini lebih jauh silahkan berkunjung ke website mereka di http://www.everybodylovesirene.com/ dan juga kalau mau lihat video-video mereka bisa lihat di http://www.youtube.com/user/everybodylovesirene

Selamat Tahun Baru 2009

January 1, 2009 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Tahun berganti. Kita sudah mengucapkan selamat tinggal pada 2008 dan menyambut 2009 tentunya dengan cara kita masing-masing. Banyak kejadian yang bisa jadi menentukan arah jalan hidup kita semua pada tahun 2008. Seperti kita ketahui perubahaan apapun akan selalu bisa merubah struktur jalan hidup. Dan sebagai pengendara dari tubuh kita masing-masing, kita mesti pintar-pintar menjalaninya. Ibarat kata seorang pelancar, pengalaman dan pengetahuan tentang ombak, angin dan berdiri di atas papan selancar akan sangat menentukan kita bisa tetap ada di atas ombak atau mesti mulai mengayuh lagi.

Setelah berpuluh-puluh tahun baru kita lewati, tahun baru yang sekarang selalu akan melengkapi pengalaman hidup, dan untuk itu saya pribadi bersyukur sebesar-besarnya pada Allah SWT yang sudah memberikan semua pengalaman hidup ini.

Akhir kata, sekali lagi saya ucapkan….Selamat Tahun Baru 2009

VOJ @ JakJazz

December 2, 2008 by Elyasa  
Filed under Jakarta Kita

Bulan November 2008, pada tanggal 28, 29, dan 30 VOJ menjadi media partner resmi dari JakJazz 2008. Akhirnya VOJ mengirimkan dua orang VJ mereka yaitu Uly a.k.a Elyasa (Sastra dan Kita) dan Gito a.k.a Inggita (Manifesto), dan juga seorang fotographer handal yang langsung bertolak dari Singapore bernama Budi a.k.a Imaji. Kami bertiga dengan tangguh dan tanpa lelah meliput segala yang terjadi pada salah satu event Jazz terbesar di Indonesia itu. Semuanya demi para pendengar setia VOJ yang penasaran mengenai JakJazz 2008.

Pada hari pertama Uly dengan semangat mewawancarai penonton yang kebetulan sedang istirahat. Imaji dengan gagah dan perkasa, tanpa lelah mengarahkan kameranya untuk mengabadikan suasana yang sangat menarik dan asik. Begitu juga dengan Inggita yang dengan sabar membuat laporan acara secara lengkap untuk disiarkan. Penampilan penutup oleh TOMPI sangat mengugah suasana, rasa ngantuk dan lelah seakan hilang dari wajah penonton yang hadir. Selain TOMPI hari pertama juga menampilkan Devian, Maliq and D’Essential, serta Idang Rasidi and friends

Hari kedua ternyata tak seramai hari pertama. Tetapi pada hari kedua JakJazz, VOJ memutuskan untuk mengadakan Kuis On The Road. Kuis ini bertujuan untuk membagi-bagikan tiket gratis, dengan cara memberikan pertanyaan seputar Jazz. Uly yang menjadi koordinator Kuis On The Road ini, dengan gigih mencari orang-orang yang menjadi “korban” untuk ikut kuis. Tanpa diduga, antusiasme orang sangat luar biasa.

Inggita bertugas untuk mewawancarai Sister Duke pada hari kedua ini. Penonton dihari kedua umumnya orang tua tidak seperti hari pertama yang dipadati oleh remaja dan ABG. Penampilan menggugah dari Barry Likumahuwa dan Daniel Sahuleka menjadi yang terbesar di hari kedua.

Hari terakhir yang merupakan hari penutup event JakJazz 2008 berlangsung pada hari minggu tanggal 30 November. Sayangnya pada hari terakhir ini Imaji tidak bisa bergabung bersama kami, karena dia harus segera bertolak balik ke negara asalnya. Setelah Uly dan Inggita berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk meminta bantuan dari dua orang VOJers. Arik dan Nina terpilih menjadi orang yang beruntung. Arik bertugas menggantikan Imaji, dan Nina mendapat kesempatan untuk mewawancarai Gugun and The Bluesbug.

Uly pada hari ketiga mengadakan kuis On the Road di salah satu mal di daerah Jakarta Selatan. Setelah itu Uly langsung bertolak ke Senayan, karena sudah ada jadwal Interview dengan DIva Jazz Indonesia Syaharani. Sehabis mewawancarai Syaharani, Arik dan Nina baru datang bergabung. Arik langsung menjadi seorang fotographer handal dan mengabadikan sesi wawancara Uly dengan MOMENTO. Arik juga mengambil gambar para pemenang kuis.

Inggita yang baru datang jam 7 malam WIB, langsung mengejar RAN. RAN adalah Boy Band baru tanah air yang sedang naik daun. Baru jam 9 malam WIB, Inggita berhasil menemui RAN dan mewawancarai mereka. Uly yang ikut menemani Inggita sebagai sidekick, langsung mengabadikan inggita yang sedang wawancara.

Hari ketiga diisi oleh artis-artis top seperti Syaharani, Kiboud Maulana, Yellow Jackets, Sister Duke, dan banyak lagi. Pada akhir acara sekitar jam 1 dini hari, acara ditutup dengan penampilan spektakuler dari artis-artis Jazz papan atas Indonesia. Setelah berakhirnya penampilan kolaborasi tersebut, bukan berarti tugas VOJ berakhir. Kami masih harus mengedit hasil rekaman dan foto-foto yang kami dapatkan, sehingga pendengar setia VOJ bisa ikut menikmati liputan kami. Jadi jangan lewatkan siaran khususnya yang akan dipandu oleh Chloe.

-The end of Paint a Whole Lotta Jazz-

-Sampai ketemu lagi di JakJazz 2009-

Manifesto for a Consumptive World

October 22, 2008 by inggita  
Filed under Jakarta Kita

Comments Off

Radio kayu yang imut dan minimalis ini ternyata sarat cerita dan pembelajaran. Dari perbincangan MANIFESTO edisi 17 Oktober 2008 dengan Singgih Susilo Kartono, desainernya, terungkap bahwa Magno, seri radio kayu keluaran studio desain dari Temanggung ini merupakan reaksi dia atas ‘kelakuan’ kita yang sangat konsumtif dan gemar ‘nyampah’, saban ada model gadget baru, yang lama dibuang, menimbulkan sampah yang sukar terurai dan mencemari lingkungan. “Jangan beli kalau tidak bisa memelihara!” ucapnya. Pilihan material kayu ingin mengingatkan kita bahwa hidup ini ada batasnya, karena kayu suatu saat akan lapuk tidak seperti plastik dan material ‘modern’ yang menjanjikan kehidupan abadi namun tidak ramah lingkungan.  Pada Magno ”personal” radio, tidak ada skala frekuensi karena Singgih ingin menyatakan bahwa kita harus punya hubungan dengan benda-benda milik kita, bukan hanya memakai atau membanggakannya saja. Apabila kita sudi sedikit berpayah mengasah “feeling”, kita akan bisa menemukan radio station kesayangan kita. Radio ini sangat ‘bersih’ tanpa banyak tulisan di permukaannya yang tidak dipernis, juga menonjolkan desain yang ‘hangat’ dengan pasak kayu bahkan karet dan kancing untuk mekanisme penutup tempat baterainya.

Dengarkan obrolan dengan Singgih Kartono, tamu MANIFESTO yang pertama, perjalanan hidupnya, perjuangannya melatih karyawan dan membesarkan usaha kecilnya, dan prinsip-prinsip di balik kreasinya, seri radio kayu Magno yang kini tengah bertarung di People’s Award dari Cooper-Hewitt Design Museum di New York City.  Sudah banyak yang memberi dukungan bagi Magno berupa vote – sudahkah Anda voting?  Kunjungi www.magno-design.com untuk mengakses voting page People’s Award.

Next Page »