Hitam-Putih

Prita Mulyasari yang sempat ditahan oleh pihak Polisi karena pengaduan RS Omni akhir-akhir ini menjadi berita yang hangat. Betapa tidak banyak kepentingan yang berkaitan dengan masyarakat luas ikutan tersentil dengan adanya kasus ini. Mulai dari hak komplen, kebebasan berpendapat sampai dengan tata cara berkomunikasi di internet.
Memang kasus ini jadi memiliki “bungkus” yang banyak, dan setiap kepentingan ingin menjadikan sampel masalah yang mereka kira kita semua sudah tahu penyelesaiannya, dan ujung-ujungnya ya makin ruwet.
Seperti semua masalah perselisihan (dispute) pada umumnya, ada dua pihak yang berselisih (Prita & RS Omni), untuk menyelesaikan masalah ini tentunya dibutuhkan pihak ketiga, dan salah satu pihak (RS. Omni) menghubungi pihak ketiga tersebut (Polisi) yang lalu pengaduannya sampai ke pihak kejaksaan. Entah bagaimana ceritanya, pihak ketiga yang seharusnya bersikap netral sampai akhirnya pengadilan memutuskannya bersalah malah menjebloskan Prita ke penjara.
Sumber permasalahannya adalah pada email curhat Prita tentang pelayanan RS Omni yang tersebar kemana-mana yang dianggap oleh pihak RS Omni sebagai pencemaran nama baik. Kebiasaan dimanapun juga setahu saya jika ada sebuah tuduhan yang tidak benar maka pihak yang merasa dirugikan bisa menggunakan hak jawab nya sebelum memproses ke pihak hukum, dan ini tidak dilakukan oleh pihak RS Omni. Sementara itu respons dari Polisi dan Kejaksaan malah justru membuat kasus ini mencuat ke permukaan, karena tindakan mereka ini justru menyulut kontroversi kebebasan berpendapat dan berekspresi di dunia maya. Sehingga dalam waktu seminggu lebih dari 160 ribu orang terkumpul dalam aplikasi petisi di Facebook yang menyuarakan pembebasan Prita dari tahanan. Jumlah yang tidak main-main ini akhirnya juga membuat hampir semua media masa di tanah air ikut mengangkat, dan efek bola salju mulai terbentuk. Betapa tidak bahkan para dua dari capres/cawapres ikutan “nebeng” ekspos dari kasus Prita ini karena pusat perhatian yang ingin mereka ambil ternyata tersedot ke kasus Prita ini. Sehingga muncul hal-hal menggelikan ditengah sikap prihatin yang seharusnya dimunculkan oleh mereka (istilahnya OOT yang disengaja tapi gak masuk, sehingga keliatan gak lucu dan gak etis).
Dengan kejadian ini, tak pelak lagi, RS Omni menjadi pihak yang tercela dan dibulan-bulani hujatan dari semua pihak karena menuntut Prita. Sedangkan Prita menjadi pihak yang teraniaya karena harus mendekam di penjara (ini bisa dilihat di sini. Kita semua lupa bahwa kalau kita balik ke inti permasalahan sebenarnya hanya ada dua pihak yang berselisih dan satu penengah. Dan kita lupa bahwa tindakan memenjarakan Prita itu bukan datang dari salah satu pihak yang berselisih.
Kita cenderung melihat sesuatu dengan hitam dan putih dan langsung terjun ke sebuah konklusi yang dipengaruhi oleh hitam-putih tersebut. Padahal setiap kasus tidak pernah ada yang murni hitam-putih. Banyak hal yang membuat sebuah kasus kelihatan jadi hitam atau putih dan dibutuhkan kedewasaan kita untuk menilai setiap kasus. Ini bukan kasus satu-satunya karena belum lama ini kasus Manohara juga mendulang prasangka seolah semua orang Malaysia itu sama brengseknya dengan pangeran dari kesultananan Kelantan atau semua orang Malaysia itu maling karena berniat mencaplok Ambalat hanya dikarenakan pemerintah mereka berlaku seperti itu.
Perlu kita ketahui bersama-sama bahwa opini yang terbentuk dari point of view yang hanya sekilas sama bahayanya dengan mengendarai mobil di jalan tol tanpa kita tahu apakah remnya berfungsi atau tidak, oleh karena itu mungkin kita mesti mulai berhati-hati juga dalam melontarkan tuduhan ataupun opini, kalau tidak nanti kita sama saja dengan “penengah” dalam kasus Prita.
*Diambil dari bangwinet.com
Foto oleh gawd
Shortcut

Jalan pintas atau kalau dalam bahasa Inggris (yang mungkin malah lebih sering digunakan) disebut dengan Shortcut adalah kata kunci yang kadang-kadang bikin kisruh hidup kita dan juga hidup orang banyak. Mmmmm, sebentar…. dalam konteks apa dulu nih? hehehe, shortcut yang saya maksud disini adalah cara cepat untuk mencapai sesuatu. Memang tidak semuanya buruk, tapi dalam tulisan ini seperti yang saya singgung di atas saya akan fokuskan ke yang bikin kisruh kita. Banyak contohnya, dari mulai dari pengamen yang genjreng-genjreng dengan niat supaya kita buru-buru ngasih duit, sehingga genjreng-genjreng nya di modifikasi sehingga membuat yang mendengar terganggu; get-rich-quick scheme yang mengobral janji cepat kaya yang nyatanya justru morotin orang-orang yang kemakan sampai dengan ke tingkat milyaran yang sekarang sedang ketar-ketir karena sorotan KPK.
Mencari cara untuk segera menyelesaikan sesuatu bukanlah hal yang tercela, tapi jika cara tersebut dilakukan hanya untuk kepentingan sendiri dan merugikan orang lain maka itu lain perkara. Dan susahnya saya sendiri melihat hal ini sudah menjadi hal yang lumrah di negara kita sampai ke akar rumput sekalipun. Contoh kecil ya seperti anak-anak di pengkolan yang tiba-tiba menjadi “polisi lalu lintas” hanya karena dengan modal melambai-lambaikan tangan bisa mendapatkan uang. Saya pun pernah punya pengalaman dimana dengan enteng dan tanpa merasa bersalah client saya mengambil ide saya dan membuatnya sendiri tanpa ia membayar hak saya dari ide yang saya kembangkan tersebut. Contoh-contoh lain bisa anda dapatkan sendiri di koran-koran karena kasus-kasus seperti ini yang kalibernya kakap banyak sekali terjadi.
Baru-baru ini hal serupa terjadi juga pada Voice Of Jakarta, sebuah radio internet yang sudah ada sejak tahun 2004. Salah seorang pengguna Facebook yang menggunakan nama Hj. Sutiyoso meniru Facebook Group VOJ yang dimiliki oleh radio ini yang lalu akhirnya membuat kebingungan pada pengunjung dan pendengar radio VOJ ini. Mungkin modus nya mereka ingin mendapatkan jumlah anggota dengan cepat dengan cara “menipu” para pengguna Facebook. Kemungkinan motif-motif lain bisa diurut dan saya pikir anda semua bisa mengembangkannya sendiri apa yang diinginkan oleh seseorang yang mencuri identitas pihak lain.
Apa yang salah dengan bangsa kita? Apakah ketika sesuatu ingin dicapai maka etika dan respek terhadap orang jadi sesuatu yang tidak lagi penting?
Bagaimana menurut anda?
Karya dan Uang

Geliat sastra dan perbukuan di Indonesia perlahan naik daun. Berbagai jenis buku yang beredar di pasaran semakin beragam. Hal ini juga yang membuat banyak sekali penerbit-penerbit baru yang bermunculan, ataupun penerbit lama yang belum punya nama berusaha mengambil keuntungan dari fenomena yang terjadi. Keuntungan yang dimaksud bukan hanya nama besar, tetapi lebih kepada materi atau uang.
Penghargaan terhadap sastra baik itu prosa, cerpen, maupun puisi dapat kita temui setiap tahunnya. Salah satu acara penganugrahan sastra nasional yang sarat dengan hadiah berupa uang baru saja terjadi di salah satu Mal di dearah Jakarta Selatan. Selain itu lomba-lomba penulisan baik itu cerpen, cerbung, atau hanya sekedar surat cinta sudah menjadi agenda tahunan. Para penulis banyak yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan mendapatkan hadiah serta nama besar.
Hal ini memang terlihat positif bagi perkembangaan sastra dan karya. Namun apakah berkarya harus selalu didasari oleh materi. Apakah benar penulis hanya bisa berkarya dalam rangka memenuhi agenda tertentu. Melimpahnya uang yang diterima oleh penerbit dan penulis merupakan fenomena tersendiri yang bisa menjadi motivasi berkarya dan menerbitkan buku. Tentunya ada juga kelemahan dari fenomena ini, dimana para penulis dan penerbit berlomba-lomba menerbitkan buku yang sejenis dengan buku-buku yang menjadi best seller. Saat hal ini terjadi akan menyebabkan penurunan kreatifitas para penulis yang sudah ter mind set untuk berlomba-lomba menjadi terkenal dan kaya.
Sebenarnya situasi seperti ini sudah ada sejak lama, dimana ada dua kelompok penulis. Kelompok penulis yang pertama adalah kelompok yang berkarya demi karya itu sendiri, dan yang kedua adalah penulis yang berkarya demi uang. Bukan berarti menulis itu tidak menghasilkan, menulis bisa menjadi sebuah pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Namun yang menyedihkan adalah saat tulisan atau karya yang beredar di pasaran merupakan karya-karya ‘sampah’ yang hanya mendompleng kepopuleritasan dari jenis karya atau buku yang menjadi best seller.
Pertanyaan besarnya adalah, apakah ideology dari dasar berkarya itu sudah mati? Apakah seseorang hanya berkarya demi uang? Contohnya adalah seperti penulis-penulis muda yang berusaha mati-matian untuk mencoba menulis seperti Habiburahman dan Andrea Hirarta. Lalu kemana kreatifitas dan orisinalitan yang seharusnya menjadi dasar dari sebuah karya.
Karya itu sendiri sebenarnya adalah ‘anak’ dari penulis. Saat penulis menghasilkan sebuah naskah cerpen, cermin, puisi, atau novel mereka seharusnya merasa bangga dan senang walaupun karya mereka tidak di terbitkan, atau diterbitkan namun tidak menjadi best seller. Memang kebanggaan seorang penulis adalah pada saat karya mereka dibaca. Yang menjadi masalah adalah apakah karya mereka itu mencerminkan kepribadian, kreafitas, orisinalitas dari si penulis.
Pantaskah sebuah karya tulis dinilai dengan uang? Jawabannya mungkin terletak pada individu masing-masing penulis. Sayangnya, sudah sedikit penulis yang berkarya untuk karya itu sendiri. Jadi fenomena saat ini adalah berkarya untuk kaya. Secara langsung fenomena ini ‘membunuh’ kreatifitas dan perkembangaan dunia sastra di Indonesia. Karena penulis sudah ter mind set untuk menelorkan karya yang populer atau best seller, hal ini menyebabkan hancurnya keberagaman karya yang ada.
Penulis bukanlah satu-satunya aspek yang menjadi tolak ukur. Seorang penulis tidak akan bisa menerbitkan karyanya tanpa campur tangan penerbit, kecuali penulis ingin menempuh jalan self publish yang membutuhkan biaya besar. Disinilah letak tanggug jawab penerbit. Penerbitan tentunya adalah sebuah media usaha yang berbasis komersil. Penerbitan biasanya hanya akan menerbitkan buku-buku yang memang sedang ‘panas-panas’nya atau hanya menerbitkan naskah-naskah dari individu yang sudah memiliki nama.
Walaupun banyak penulis dan penerbit yang menutup mata akan hal ini. Sebenarnya hal inilah yang membuat perkembangan sastra menjadi stagnan. Penerbitan harus berani mengambil resiko dengan menerbitkan naskah dari individu yang belum memiliki nama di kancah sastra nasional, dengan syarat naskah yang diterbitkan haruslah berkualitas. Tapi sepertinya hal ini masih jauh dari mungkin. Penerbit yang memang profit oriented nampaknya enggan mengambil langkah ini demi perkembangan sastra nasional. Padahal banyak karya sastra yang baik namun berasal dari ‘orang baru’.
Untungnya sekarang banyak media yang memungkan seorang penulis, sehingga karyanya diapresiasi oleh orang lain. Yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah mereka memang murni berkarya atau merintis karier sehingga bisa menembus barikade yang telah dibuat sendiri oleh penerbitan? Jika memang demikian apakah esensi dari berkarya itu masih menjadi ideology atau hanya untuk meraup materi semata? Jika hal ini terjadi, maka pantaslah jika karya sastra identik dengan materi berupa uang.
Aulya Elyasa
New Best Friend
Kemarin selepas acara Nuansa Jazz yang di host Alfred Ticoalu, jam 2 pagi, aku masih chat dengan teman dekatku untuk mengeluarkan uneg2 yang ada di pikiran dan hatiku….[kemarin adalah hari yang kurasa agak melelahkan].
Jam 3 pagi….. tidak terasa 1 jam sudah aku chat dengan temanku….lalu aku pamit, ingin tidur dulu.
Terlalu sering insomnia, aku pingin tidur tidak terlalu pagi lagi kali ini. Sekarang jam 3.44, aku masih 100% terjaga. Lelah namun tanpa rasa kantuk. Aku bangkit dan mendekati laptopku, kupungut lalu kupangku sambil selonjoran di tempat tidur. Menyiapkan extra bantal untuk ganjelan punggung biar dapet posisi ‘wenak’…. mulai kubuka lagi laptopku. Kulihat teman-temanku sudah offline. Ya…sudah terlalu pagi. Browse sana … browse sini, dan tentu aku juga mengunjungi salah satu situs favoritku: facebook.
Mencari teman2 lama dan juga teman2 baru… aku emang suka iseng. Mulai asik. Aku jadi makin melek. Dasar geblek hahaha…..Satu teman yang masih terjaga … di belahan negara lain, baru saja menjadi temanku di situs ini, mengirim message:
“Do I know you from the past? “
Ku reply:
“We do not know each other from the past, I found you from friends …. I would like to meet many new people who live abroad.
As we are running an internet radio with market segment Indo people abroad….who miss to listen to musik2 anak negri [thru www.voiceofjakarta.com]
Everyone is welcome to listen/ tune in for free.
Sorry to bother though…..adding you without enuf info…. My apology”
Ga disangka-sangka dia balas lagi:
“Hi Chloe, that’s fine really. I’m just curious… as I don’t do good in memorizing friends and people …ha.ha..maklum limited space in my brain..he2..
Wah, bagus niih…bisa di add dari itunes ga yaah jd bisa didenger dari iphone/ipod…Usul juga kenapa ga bikin page/group gitu di facebook, nanti gw bantuin promosi ke teman2 di Brisbane sini, kebetulan lagi sekolah disini. Thanks bgt untuk add gw yaah”
Malah jadi chat lewat facebook-message, hatiku gumbira dan sumringah karena keinginan berkawanku mendapat sambutan positif & bersahabat. Meski dah mulai trasa teler n kantuknya, aku balas:
“hehehe…udah kok. Kami punya page n group juga….silakan jadi member. Justru gw say ‘thank U’ for spreading our VOJ …..I really do appreciate that
.
Everyone wherever they might be…. feel free to become our new best friends.Bisa kok pake itunes…Thanks again n enjoy!”
The next reply, ia bilang sudah mulai tune in di VOJ. WOW so fast, my friend!
Menyusul di belakang teman baruku ini, 15 teman baru menerimaku di facebook.
Selepas subuh… aku mencoba tidur dengan senyum tersungging.
Yaa…..kenapa engga?
VOJ is your new best friend…who always b there 4 u 24/7 with music…. Indonesian Music, di tengah kesibukan aktifitas sehari2mu….di saat kamu bete….di saat ga bisa tidur ….. dan tentu saja di saat kamu kangen Indonesia.
> jadi maaf ya temen2 yang aku add…smoga ga mrasa offended…aku ga punya niat buruk di luar bertemen dan bertemen…..Ya! bertemen baik saja <
Cheers,
- Chloe-
Mister Botak
Kalo liat dari judul artikel ini mungkin kalian pada mikir: siapa yg dimaksud sih? Is it Jimi G? Hahaha bukan koq. Jimi itu gonjez.
Ceritanya pas hari sabtu lalu team VOJ janjian dengan salah satu pendengar setia kami…..ialaaah: OrionKnight alias Bayu. Janjian makan siang bareng di suatu tempat makan bernama Botak Jones.
Siang itu cerah sekali, tepatnya puanaaaas menyengat ngat ngaat…perjalanan jauh yang penuh perjuangan ke daerah ujung east Singapura kami tempuh dengan semangat, mengingat mau makan soalnya
.
Setelah transfer 10 kali MRT (kreta bawah tanah –red) akhirnya nyampe juga di wilayah bernama Clementi. Oreo yang sedari tadi sudah sms kasih tau: “guys, gua di deket exit B!” udah ga sabar tentunya nungguin team VOJ yang ga kunjung tiba. Dengan modal petunjuk minim di sms itu…kami keluar dari stasiun MRT menuju arah Exit B dan mencari wajah2 celingukan yang bisa dijadikan korban bernama Oreo. Mana ga kenal muka pula huihihiih !
Ternyata ga sulit sih…tinggal liat mana yg tampangnya mupengma (muka pengen makan) bin celingak celinguk. Ahaa…nemu juga. Kusapa dia: “Hey, situ Oreo ya? Sini Ve Ou Je” Yg di ajak omong goyang2 kepala a la india. Pria yang lagi asik maen game itu ga langsung beranjak mendekati kami karena harus nyelesai-in game nya dulu…daripada loss hehehe.
Abis bersalam-salaman dan cium pipi kiri dan kanan sambil tepok tepok tangan-pundak-kaki-lutut sebanyak 3 kali, akhirnya Oreo led kita semua ke arah yang mengeluarkan bau2 masakan (mengikuti aroma bak di filem2 kartun –red).
Kaya apa sih ya? Kami masih penasaran dengan Botak Jones itu. Akhirnya setelah jalan kaki beberapa meter, nemu juga tempat yg diidamkan. Ternyata Botak Jones di daerah ini hanya berupa sebuah stand kecil di antara jenis2 makanan lainnya di food court tersebut. Oreo memberikan sedikit pengarahan (seperti yang sering dia lakukan sesuai profesinya sebagai trainer fitness): ”Jadi, Botak Jones ini menawarkan makanan a la Amerika namun dengan bumbu bernuansa asia, makanan yang rekomended ada di etalase, tapi di luar itu juga banyak menu lain seperti yang tertulis di papan dekat kasir itu”.
Setelah melihat beberapa pilihan, akhirnya kuputuskan untuk memilih menu Black Pepper Chicken lengkap dengan coleslaw dan french fries-nya yang gurih. Sementara Oreo dan Jimi G sehati dengan menu Cajun Chicken yang juga disertai coleslaw plus french fries. Imaji (salah seorang pendengar VOJ juga) yang juga bergabung dengan kami, memilih menu: Botak Jones Burger plus coleslaw dan french fries.
Sehabis milih2 minuman kami kembali ke tempat duduk sambil nunggu makanan kami diantar ke meja. Ngobrol2 deh kita dengan seru namun gelisah karena masih laper hahaha.
Sekian menit kemudian…datang makanan kami satu per satu seperti terlihat di foto2 ini:

Tuh muka hepi Oreo saat makanan datang dan saat sudah kenyang (huihihi).
Thank you Oreo yang udah memperkenalkan kita ke Mister Botak!! Lain kali kita kesana lagi yach temen2
Cheers,
Chloe Voj
Jimi & The Gemblunk

Whoaah…!
Aktifitas siaran Jimi makin intens dan para pendengar makin betah untuk nongkrong bareng Jimi, hehehe…..contohnya sudah dua kali di program acara Late Night with Jimi, kita ngumpul, ngobrol dan bareng-bareng ngebahas musik. Tercatat dalam ingatan gue yang hadir disitu adalah mulai dari duo Endah & Rhesa, Andre Harihandoyo, Dimaz, Adyuta Abandhika, dan ada juga teman-teman pendengar setia VOJ yang juga ikutan ngumpul seperti Remy (Washington, DC), Kenzo (NYC), pak Rurun (NYC), dll (kalau ada yg belum kesebut please notify me and I will update it). Kita membahas musik2 yang gue putarkan lalu sempat gue memutarkan lagu-lagu dari indie band yang belum sempat signed dengan label yang ada. Dan end upnya beberapa band/artis mengirimkan lagu2 mereka ke gue untuk diputarkan (Endah & Rhesa, Andre Harihandoyo & Sonic People, Dimaz).
Guys you are the best audience I’ve ever had….you’re rullleeezzzz…!!!
Setelah selesai siaran tadi malam akhirnya gue nyempetin motret studio siaran Jimi & The Gemblunk untuk di share ke kalian semua, dan hasilnya ya itu yang diatas….hehehehe
regards,
Jimi Gemblunk
Thank U !!
Halo lagi…..
Chloe mau ucapin terima kasih buat salah satu pendengar setia VOJ dari Jakarta….mba’ Iyus , yang udah banyak kasih input, usul…saran serta kritik yang amat sangat membangun. Juga ga lupa terima kasih buat sumbangan lagunya sehingga menambah koleksi deretan lagu2 VOJ.
Sejauh ini makin seru aja pendengar VOJ…nambah lagi, bahkan dari Netherland, Malaysia dan Jepang!
Tune in terus yach, temen2 !
Cheers,
Chloe
Lagi lagi siaran uji coba VOJ ..:)
Walaaaaah………..
Kamis ini selama kurang lebih 7 jam uji coba siaran live VOJ berjalan cukup lancar. Thank God. Ga terlalu banyak tapi lumayanlah yang tune in ada 8 dari Indonesia, Washington DC, New York dan Singapore. Empat di antaranya ikut partisipasi aktif dalam request lagu serta memberikan masukan2/ saran2 juga ikutan sumbang lagu2……seru sekali…….90% request lagu2 terpenuhi. Terima kasih buat yang udah ikutan: Remmy, Kenzo, Azhang dan Satria.
Kami coba tampung segala kritik dan sarannya…… untuk tindak lanjut berikutnya demi kesukyesyan VOJ…yippie…
Jam testing siaran memang masih belum berketentuan…. Tapi diusahakan hampir tiap hari. Jadi buat yang penasaran pengen tau siaran VOJ…..sering2 aja dicek status online/ offline nya website VOJ ini …..atau bisa cek di posting shoutout account facebook: chloe@voiceofjakarta.com (admin VOJ Group).
Sgini dulu update testing VOJnya
Masih ditunggu input2 kalian semua yach
:)
Chaoooo….
Chloe
The Revolution In Radio
Pagi ini, saya mulai membersihkan mailbox yang ada sekitar 4000 lebih email yang memang sudah seharusnya disortir untuk dipilih yang mana yang harus dibuang-buangin dan disimpan. Dan disela-sela proses pembersihan tersebut saya menemukan satu email yang sempat saya posting di beberapa milis, termasuk milis Musik_Indonesia juga, yaitu berisi sebuah link yang menuju ke artikel dari Time.Com, berjudul “The Revolution in Radio”. Artikel yang dibuat oleh Daren Fonda untuk Time.Com ini sangat lah menarik karena disitu dipaparkan dengan contoh kasus sebuah radio internet yang bernama Radio Paradise yang dikelola oleh mantan penyiar radio FM di California. Untuk selanjutnya silahkan ikuti artikel tersebut dibawah ini yang sengaja saya copy-paste kan diblog ini, supaya tidak merepotkan untuk pindah-pindah situs lagi untuk membacanya. Silahkan….
The Revolution In Radio
Online and satellite stations are finally starting to chip away at the dominance of the AM/FM dial
By DAREN FONDA
Bill and Rebecca Goldsmith are making a living from an idea that would probably get you laughed out of business school: running an Internet radio station commercial free. From their home in Paradise, Calif., in the foothills of the Sierra Nevada, they operate Radioparadise.com, a format-busting station that spins a tasteful mix of music ranging from the Beatles to Norah Jones to the Strokes. Fewer than 5,000 listeners tune in during peak times, but fans like it so much, they sent the couple $120,000 in contributions last year, covering the cost of bandwidth, song royalties and other expenses and leaving enough to support a “comfortable lifestyle,” says Bill Goldsmith, who quit a 30-year career in FM radio to run and DJ his homegrown version.
If you can’t bear another spin of Britney Spears, you’re one of the reasons that stations like Radioparadise are beginning to prosper and investors are again flocking to another alternative to the AM/FM dial: satellite radio. After years of unmet promise, online stations, along with satellite offerings like Sirius and XM Satellite Radio, are building audiences even as regular radio struggles through a decade-long slump (time spent listening is down 14% since 1994, according to the ratings firm Arbitron). Critics say industry consolidation has turned AM/FM stations into McRadio: nationally uniform, repetitive and clogged more than ever with ads and promos. But scores of high-quality alternatives are now competing for your ears (and dollars).
Just a few years ago, online radio heads were mainly tech geeks willing to put up with patchy, low-quality sound. These days about 19 million people listen to online radio at least once a week, up from 7 million in 2000, according to Arbitron. Online listenership is growing at an average 43% a year as more people get broadband connections at home and tune in for content that’s unavailable or in short supply on commercial stations, from blues to folk to Al Franken’s new liberal Air America network, which is broadcast in just a few markets on the AM/FM dial but was streamed 2 million times in its first week, according to its exclusive webcaster, RealNetworks. “People are fed up with terrestrial radio,” says Dave Goldberg, who oversees Yahoo’s music site and radio network, Launchcast, which draws 1 million listeners a week.
For now, it’s the satellite guys, together claiming around 2 million subscribers, who are drawing Wall Street’s attention. Though their stock prices had plummeted over concerns that they might run out of cash, their shares have soared in the past year. XM is up 379%; Sirius, 491%. Analyst April Horace of Janco Partners in Denver predicts that within five years 16 million Americans will be listening to satellite radio. She says the market would explode if a popular shock jock like Howard Stern were to defect with his 15 million listeners, a prospect that looked more likely last week after six traditional stations dropped his show following an FCC proposal to fine their corporate parent, Clear Channel Communications, $495,000 for airing his “indecent” content.
Satellite broadcasters use a pay-radio model, beaming dozens of channels coast to coast commercial free, with original programming such as comedy and kids’ shows. Financially backed in part by automakers, the satellite firms charge between $10 and $13 a month, mainly targeting car-radio users. Increasingly, though, listeners are buying portable tuners for their homes. To neutralize a key AM/FM advantage, both satellite broadcasters have started to provide traffic and weather updates in select markets.
So far, digital radio’s growth isn’t hurting big radio empires such as Clear Channel. With 1,213 stations and roughly a 30% ratings share in markets such as Phoenix, Ariz., and Milwaukee, Wis., Clear Channel had a record 2003: revenues of $8.9 billion and a net income of $1.1 billion. But listeners are clearly spending less time with terrestrial radio. One cause may simply be more media competition, from DVDs to video games to an expanding universe of digital TV. But critics of the radio industry say consolidation is partly to blame too. They claim Clear Channel and other big groups have ruined the airwaves by homogenizing song lists, politicizing the dial with conservative talk and sucking out local flavor with voice-tracking technology, which enables DJs to sound like local talent even if they’re a thousand miles away. Clear Channel contends that its cost-cutting measures have saved hundreds of stations from bankruptcy and that it’s the programming’s popularity, reflected in ratings, that ultimately drives the business.
Nonetheless, teenagers and young adults are increasingly going online to find new music (not just file-sharing networks), particularly alternative content that rarely gets airplay on the commercial FM dial. About 13% of Americans ages 12 to 24 now listen to online radio on a weekly basis, up from 6% of that age group in 2001, according to Edison Media Research/Arbitron. With 185 stations, AOL’s radio network, which, like TIME, is part of Time Warner, draws a weekly listenership of 1.5 million (by that measure, Arbitron notes, it’s the nation’s largest online network). Advertising remains tiny, but that may change. Ronning Lipset, an upstart Internet-radio ad firm in New York City, recently started packaging AOL, Live365.com, MSN and Yahoo into a kind of national network, which has a combined audience of at least 250,000 listeners in a quarter hour, the minimum needed to appeal to national-media planners. The firm says the networks will start running audio spots from national advertisers in May.
For now the AM/FM industry doesn’t seem too concerned. Arbitron estimates that 228 million Americans ages 12 and up still listen to broadcast radio weekly, and radio remains the top broadcast medium after TV for advertisers who want to reach a mass market. Radio ad sales in Arbitron markets are forecast to rise 5.5% this year, to $14 billion, according to BIA Financial Network, a media consultancy in Chantilly, Va. Yet as more consumers tune to stations like Radioparadise, those numbers could slip. Goldsmith’s thoughtful playlists are organized by musical theme, moving from, say, a bluesy Tracy Chapman tune to a Latin-blues Carlos Santana track to a rock-blues number by the Hellecasters. He heeds listener feedback and says the only thing he really cares about is “playing good music,” regardless of whether it’s a hot single being pitched by a promoter or a classic. That’s why his fans are pulling out their wallets to support him.
“The Story Of Music” on Saturday
Sabtu pagi ini, untuk pertama kali saya mencoba untuk siaran “Live”, hehehe…memang masih testing sih, ceritanya sewaktu browsing sembari mendengarkan lagu-lagu dari album pertama KEANE (English Piano Rock band) yang berjudul Hopes & Fears, sekaligus baca-baca sejarah mereka di Wikipedia. Tiba-tiba terbersit ingin membacakan sejarah mereka dan microphone juga masih terpasang…ya sudah, tancaaap, dan mulai lah cuap-cuap tiap 2 lagu mereka. Wuiiih sensasi nya masih sama, deg2an nya masih sama. Sayangnya gak direkam. Hanya satu hal yang saya putuskan pada hari ini, yaitu akan ada programme yang membawakan biografi grup-grup musik, musisi, atau penyanyi yang pernah menorehkan sejarah masuk dalam kuping-kuping kita semua di dunia. Nama programme ini yang saya sebut “The Story Of Music” bukan merupakan ide baru, di jauh-jauh hari saya memang punya impian untuk membuat programme serupa (dulu saya namakan “Music Legend”). Nah, anggap saja ini akan menjadi perwujudan impian saya yang dulu….amiiien
regards,
G(embel)IZMO






