Musikalisasi Puisi “Angin Pun Berbisik”
January 5, 2009 by Admin
Filed under SimakMusik

Pada hari Jumat tanggal 21 November 2008, saya datang ke sebuah kedai kecil yang biasa disebut “angkringan” di bilangan Kebayoran Baru. Saya datang memenuhi undangan seorang teman untuk ngobrol-ngobrol, lalu tidak lama kemudian muncul dua orang sahabat saya, duo Endah N Rhesa yang kebetulan juga datang memenuhi undangan meeting di kedai yang sama. Mereka memberikan sebuah CD Musikalisasi Puisi “Angin Pun Berbisik” yang beberapa saat lalu saya dengar memang sedang digarap oleh mereka. Karena kesibukan saya, seminggu kemudian saya baru bisa mendengarkan lagu-lagu pada CD tersebut secara utuh. Dan ini lah yang saya dapatkan:
Lagu pertama adalah lagu yang berjudul “Kali Ini Saja” yang liriknya dibuat oleh penyair Zeffa Yurihana. Lagunya sendiri dibawakan secara apik oleh seorang gitaris, komposer muda yang bernama Andre Harihandoyo. Sesuai dengan gaya bermusik Andre yang berkiblat pada musik blues, maka larik-larik puisi dari Zeffa langsung diinterpretasikan ulang oleh petikan-petikan nada blues dari gitar akustik Andre dengan sangat ekspresif dan jernih. Puisinya saja menurut saya sudah “blues” sehingga begitu Andre mendandani “Kali Ini Saja” dengan kord-kord blues maka jadilah lagu tersebut sebuah komposisi blues lengkap yang asik.
Duo Endah N Rhesa yang berperan sebagai salah satu penggagas proyek album ini mendapat kesempatan kedua dalam album ini walaupun mereka hampir ikut serta di proses pembuatan semua lagu pada album ini, tapi lagu kedua pada album ini lah yang mereka berdua ciptakan. Puisi karya penyair Zeffa Yurihana yang berjudul “Pasar” langsung berubah menjadi sebuah selimut hangat di malam yang dingin atau segelas teh es manis di sore yang panas ketika di gubah menjadi sebuah komposisi lagu yang asik dan menghanyutkan. Seperti biasa Endah N Rhesa memainkan lagu ini dengan aransemen khas akustik mereka. Denting gitar Endah disertai olah vokalnya yang tipis diiringi petikan bass Rhesa plus kord-kord bernuansa jazz melengkapi kenyamanan yang didapat pada saat mendengarkan lagu ini.
“Banyak orang bertukar barang
Sedikit orang bertukar senyum
Seorang anak ingin membeli senyum
Tapi tidak ada yang menjual senyum”
Itu potongan lirik yang diambil dari “Pasar”. Lucu, witty, plus harmonisasi backing vokal yang sangat soothing.
Pengembaraan musik dalam lirik-lirik puitik belum selesai karena lagu selanjutnya membawa kita pada suasana perjalanan. Kok perjalanan? Simak lagu yang berjudul Jakarta yang didasari oleh puisi milik Siti Atmamiah yang berjudul “Jakarta” dan dibawakan secara apik oleh Christian (Tiket). Komposisi yang diciptakan oleh Christian dan lalu di aransir oleh Rhesa Aditya ini seolah membawa kita seolah sedang melakukan perjalanan. Walaupun isi dari puisi yang mendasari lagu ini adalah mengenai kekecewaan terhadap kota Jakarta yang membuat si penyair merasa kecewa dan perlu meninggalkan Jakarta, tapi aransemen yang dibuat oleh Rhesa menciptakan ambience yang justru positif dan optimis. Simak potongan lirik/puisi lagu “Jakarta” dibawah ini:
“Kutinggalkan engkau
Sebab
Langitmu tak lagi biru
Diaduk asap dan debu
Aku sudah tak punya waktu
Untuk menunggu”
Nah anda akan mendapatkan kesan lain jika anda mendengarkan lagunya…:-)
Cinta & kerinduan adalah tema klasik yang tak pernah mati dimakan jaman. Tema ini lah yang paling banyak dipakai pada puisi maupun lirik lagu. Ekspresi kerinduan pada puisi pada puisi milik Siti Atmamiah yang berjudul “Ku Ingin” ini diinterpretasikan ulang dalam bentuk lagu oleh grup yang menamakan diri mereka sebagai Drew. Masih didominasi oleh riff gitar akustik yang ditingkahi oleh snare drum yang diketuk oleh brush stick plus bass gitar fretless yang dimaininkan oleh Rhesa Aditya, membuat lagu yang bersahaja ini jadi punya nyawa yang kuat. Lagu ini punya potensi untuk jadi idola di pasar.
Setiap seniman yang utuh dalam bentuk apapun ia akan selalu punya ciri dalam berkarya. Saya pikir statement ini bisa dilihat pada karya-karya musikalisasi puisi dalam album ini. Salah satu contoh yang kuat selain lagu “Pasar” gubahan Endah N Rhesa adalah lagu yang berjudul “Cemburu” yang didasari oleh puisi karya Irwan Dwi Kustanto yang pencipta dan arranger lagunya adalah Anindyo Baskoro atau lebih dikenal dengan Nino RAN. Ya, ia adalah salah satu personil trio yang sedang naik daun pada saat ini, RAN. Menyambung statement diawal paragraf diatas, kita tentunya tau bagaimana lagu-lagu dari RAN, dan pada lagu yang diciptakan oleh Nino berdasarkan puisinya Irwan ini, ciri RAN tersebut tidak hilang tapi bermetamorfosis dalam bentuk yang jauh lebih bersahaja, dengan balutan musik akustik ala Maxwell yang membuat para pendengar seperti saya merinding mendengarnya. Tentunya peran Raisa, yang bernyanyi bersama Nino tidak mengurangi keindahan lagu ini. Sangat menenangkan, walaupun sebenarnya liriknya menyiratkan kegundahan yang kental.
Pada lagu berikutnya yang berjudul “Luka Seorang lelaki” yang diambil dari puisi berjudul sama milik Irwan Dwi Kustanto. Saya mendengar nafas folk yang muncul pada duet Dody-Riqo dimana mereka juga betindak sebagai arranger dan pencipta lagunya. Gaya bermain gitar dan karakter vokal duo ini yang saya pikir membawa nafas folk yang bukan berarti lagu ini kekurangan nilai estetisnya tapi malah jadi kekuatan sinergi yang lumayan kuat.
Lagu “Sepi” yang diciptakan oleh Endah N Rhesa berdasarkan puisi karya Siti Atmamiah membawa kita ke lorong-lorong sunyi. Illustrasi pembacaan puisi oleh Maudy Koesnaedi dengan latar belakang suara enharmonik dari bass Rhesa terasa sangat dalam. Saya seolah sedang menonton sebuah trailer film yang bercerita tentang kesepian yang mendalam ketika mendengarkan lagu ini, dan saya yakin andapun demikian.
Cornelia Agatha….aktris yang sudah kita kenal berhasil membacakan puisi dengan sangat baik. Adalah puisi milik Irwan Dwi Kustanto yang berjudul “Angin Pun Berbisik” yang ia bawakan dengan penghayatan yang saya mesti acungkan jempol. Peranan Yessi Kristianto & Rhesa Aditya sebagai arranger pun punya andil yang cukup baik. Intro yang kuat lalu mulai masuk ke background ketika Lia mulai membaca puisi membuat ekspresi Lia ketika membacakan puisi jadi semakin kuat.
Lagu “Angin” yang dibawakan oleh Jodhy Yudono yang didasari oleh puisi karya Zeffa Yurihana juga dibawakan dengan gaya folk dari perspektif yang berbeda dibandingkan dengan duo Dody-Riqo. Judhy yang memainkan gitar diiringi oleh Choirul Alhuda yang memainkan violin & viola membawa kita ke suasana alam nan bersahaja. Jangan lupa oleh pembacaan puisi oleh si kecil Yoga Sukma Khalid Nan Agung yang diselipkan pada tengah lagu. Sangat syahdu dan bersahaja.
Album Musikalisasi “Angin Pun Berbisik” ini bisa saya kategorikan sebagai salah satu musikalisasi puisi yang berhasil memadukan dua ranah seni ini menjadi satu kesatuan yang cantik. Dahulu saya sempat terperangah ketika duo Ari & Reda membuat musikalisasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, nah kali ini kembali saya terperangah ketika mendengarkan album musikalisasi puisi ini. Terima kasih buat semua yang terlibat yang membuat puisi-puisi dalam album ini jadi bisa didengarkan oleh semua orang termasuk saya.
Cerita di balik album ini pun tak kalah menarik dan menyentuh kalau boleh saya bilang demikian. Dari mulai puisi-puisi yang dihadirkan adalah puisi pilihan dari buku antalogi puisi “ANGIN PUN BERBISIK”. Karya Irwan Dwi Kustanto, Siti Atmamiah dan Zeffa. Pak Irwan adalah seorang tuna netra, sedangkan Ibu Siti dan Zeffa adalah istri dan anaknya yang bermata awas sampai dengan tekad menyumbangkan hasil penjualan seluruh CD ini pada 100% pada Yayasan Mitra Netra sebagai pendanaan buku Braille untuk tuna netra.
Saya iseng menanyakan bagaimana cara mendapatkan CD tersebut dan informasi yang saya dapatkan adalah:
CD musikalisasi puisi dapat Anda pesan melalui :
Yayasan Mitra Netra (021-7651386) (www.mitranetra.or.id)
dan HP nya Endah N Rhesa 08161443431 atau email di endahwidiastuti@yahoo.com
(datang ke Loca tiap Rabu malam, anda bisa bertemu dengan Endah N Rhesa di sana dan beli CDnya di mereka)
Well, jadi bila kita membeli CD ini selain kita mendapatkan lagu-lagu yang bagus, kitapun beramal.
Selamat Tahun Baru 2009
January 1, 2009 by Admin
Filed under Kabar-Kabari

Tahun berganti. Kita sudah mengucapkan selamat tinggal pada 2008 dan menyambut 2009 tentunya dengan cara kita masing-masing. Banyak kejadian yang bisa jadi menentukan arah jalan hidup kita semua pada tahun 2008. Seperti kita ketahui perubahaan apapun akan selalu bisa merubah struktur jalan hidup. Dan sebagai pengendara dari tubuh kita masing-masing, kita mesti pintar-pintar menjalaninya. Ibarat kata seorang pelancar, pengalaman dan pengetahuan tentang ombak, angin dan berdiri di atas papan selancar akan sangat menentukan kita bisa tetap ada di atas ombak atau mesti mulai mengayuh lagi.
Setelah berpuluh-puluh tahun baru kita lewati, tahun baru yang sekarang selalu akan melengkapi pengalaman hidup, dan untuk itu saya pribadi bersyukur sebesar-besarnya pada Allah SWT yang sudah memberikan semua pengalaman hidup ini.
Akhir kata, sekali lagi saya ucapkan….Selamat Tahun Baru 2009
Shortcut

Jalan pintas atau kalau dalam bahasa Inggris (yang mungkin malah lebih sering digunakan) disebut dengan Shortcut adalah kata kunci yang kadang-kadang bikin kisruh hidup kita dan juga hidup orang banyak. Mmmmm, sebentar…. dalam konteks apa dulu nih? hehehe, shortcut yang saya maksud disini adalah cara cepat untuk mencapai sesuatu. Memang tidak semuanya buruk, tapi dalam tulisan ini seperti yang saya singgung di atas saya akan fokuskan ke yang bikin kisruh kita. Banyak contohnya, dari mulai dari pengamen yang genjreng-genjreng dengan niat supaya kita buru-buru ngasih duit, sehingga genjreng-genjreng nya di modifikasi sehingga membuat yang mendengar terganggu; get-rich-quick scheme yang mengobral janji cepat kaya yang nyatanya justru morotin orang-orang yang kemakan sampai dengan ke tingkat milyaran yang sekarang sedang ketar-ketir karena sorotan KPK.
Mencari cara untuk segera menyelesaikan sesuatu bukanlah hal yang tercela, tapi jika cara tersebut dilakukan hanya untuk kepentingan sendiri dan merugikan orang lain maka itu lain perkara. Dan susahnya saya sendiri melihat hal ini sudah menjadi hal yang lumrah di negara kita sampai ke akar rumput sekalipun. Contoh kecil ya seperti anak-anak di pengkolan yang tiba-tiba menjadi “polisi lalu lintas” hanya karena dengan modal melambai-lambaikan tangan bisa mendapatkan uang. Saya pun pernah punya pengalaman dimana dengan enteng dan tanpa merasa bersalah client saya mengambil ide saya dan membuatnya sendiri tanpa ia membayar hak saya dari ide yang saya kembangkan tersebut. Contoh-contoh lain bisa anda dapatkan sendiri di koran-koran karena kasus-kasus seperti ini yang kalibernya kakap banyak sekali terjadi.
Baru-baru ini hal serupa terjadi juga pada Voice Of Jakarta, sebuah radio internet yang sudah ada sejak tahun 2004. Salah seorang pengguna Facebook yang menggunakan nama Hj. Sutiyoso meniru Facebook Group VOJ yang dimiliki oleh radio ini yang lalu akhirnya membuat kebingungan pada pengunjung dan pendengar radio VOJ ini. Mungkin modus nya mereka ingin mendapatkan jumlah anggota dengan cepat dengan cara “menipu” para pengguna Facebook. Kemungkinan motif-motif lain bisa diurut dan saya pikir anda semua bisa mengembangkannya sendiri apa yang diinginkan oleh seseorang yang mencuri identitas pihak lain.
Apa yang salah dengan bangsa kita? Apakah ketika sesuatu ingin dicapai maka etika dan respek terhadap orang jadi sesuatu yang tidak lagi penting?
Bagaimana menurut anda?
Vox - Pada Awalnya
December 29, 2008 by Admin
Filed under SimakMusik

Haa……? Saya beberapa kali mengusap kuping saya seolah tak percaya ketika menyimak track pertama dari album debut grup Vox asal Surabaya bertajuk “Pada Awalnya”.Dari intro yang diawali ketukan drum,lalu gitar telah membawa saya ke sebuah era masa lampau……tepatnya 60-an. Ya betul apalagi intro lagu ini betul-betul memorable yaitu “Wouldn’t It Be Nice” The Beach Boys dari album masterpiece-nya “Pet Sounds”.
Hmmmm…….kemanakah citarasa musik yang akan dibawa kelompok yang digawangi Josep Sudiro (bas,vokal), Donnie Setiohandono (piano, Rhodes, Harmmond, vokal), Vega Antares Setianegra (gitar elektrik, akustik, vokal) dan Gabriel Mayo Riberu (drums, vokal) ini?. Tampaknya mereka tengah silau dengan wabah musik pop era 60-an yang kadung disebut “sunshine pop” atau “power pop” dan lain sebagainya. Musik Beat memang tengah melanda dunia. Beach Boys sendiri mengaku terpengaruh The Beatles. Dan Vox bahkan mencoba menyelusupkan pula arwah The Beatles dalam komposisi lagunya yang berjumlah 11.
Keempat pemusik Vox memang punya tugas berat. Karena mereka pun menyanyi. Harus membagi harmoni vokal yang telah ditata Donnie Setiohandono.
Pada lagu “Oh Well” dengan cerdik Vox kembali menyulam aura lagu “God Only Knows” nya The Beach Boys. Permainan slide gitar Vega di lagu ini justeru mengingatkan kita pada karakteristik George Harrison dari The Beatles. Lalu di bagian koda pendengar diberi ilusi seolah terjebak deja vu aura “All You Need Is Love” nya The Beatles dengan tumpukan bebunyian brass section yang dimainkan Indra Aziz, Ijo dan Teguh. Dan mendadak kita pun bisa mengingat aura Paul McCartney pada lagu “My Baby Blue”. Apalagi ditambah arransemen brass section yang dibuat Ramondo Gascaro dari grup Sore yang mau gak mau mengingatkan saya pada “Getting Better” The Beatles (Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band). Atmosfer serupa pun tersimak pada lagu “Menjadi Dewasa” dan “Apapun Itu”.
Vox tampaknya berupaya keras pula untuk membuat lirik yang tak dangkal.Sepintas mereka lebih banyak menomosatukan ekspresi.Liriknya singkat tapi padat makna.
Simak ketika vox bercerita tentang persahabatan dalam lagu “Ingatkah Pertama” :
Ingatkah pertama kau terhenti
Dan berjanji untuk mencoba kembali
Ingatkah pertama kau menyerah
Hingga saat terakhir kau hembuskan nafas
Dan simak bagaimana vox mengungkapkan kota kelahirannya Surabaya dalam “Surabaya # 1?
walkin’ down the river, walkin’ down the river
I was born when the moon was gone
kissed the sky of Surabaya’s sunshine
I got my blues right below my shoes
it just the life that I cannot choose
I rest my soul in the rock and roll
I am the son of our traffic sounds
Jika jenuh dengan berkelebatnya band-band yang tipikal belakangan ini, Vox layak disimak.
TRACKLIST
1. PADA AWALNYA
2. GOING DOWN
3. OH WELL
4. MY BABY BLUE
5. AK.SA.RA.
6. PAGI
7. INGATKAH PERTAMA
8. MENJADI DEWASA
9. APAPUN ITU
10. DEAR LORD
11. SURABAYA # 1
JUDUL ALBUM: PADA AWALNYA
ARTIS: VOX
LABEL: AKSARA RECORDS
TAHUN: 2007
PRODUSER: DAVID TARIGAN & JOSEPH SUDIRO
DENNY SAKRIE
0818417357
Desain Baru Website VOJ
December 29, 2008 by Admin
Filed under VOJ Updates

Halo,
Akhirnya setelah beberapa saat lamanya menunggu waktu yang lowong dan juga template yang tepat, akhirnya desain baru website Voice of Jakarta jadi juga. Themes yang kami pakai adalah themes yang dibuat oleh Brian Gardner yang kebetulan saya pernah jadi customernya beliau. Themes yang namanya adalah Revolution Church ini merupakan turunan dari themes sebelumnya yang namanya Revolution Music, dan yang saya suka adalah ada featured gallery nya dan juga untuk menyisihkan thumbnail-thumbnail didepan jadi lebih mudah.
Silahkan memberikan komen berupa masukkan-masukkan pada kami, dan untuk itu kami ucapkan terima kasih…:-)
salam,
-Admin-
Membayangkan: Hidup Tanpa Kebencian
December 8, 2008 by Admin
Filed under Sekitar Kita

foto oleh jimjarmo
Tragedi kembali terjadi lagi. Belum hilang ingatan kita ketika para teroris membom beberapa tempat di Bali dan menyebabkan 200 orang lebih meninggal dunia. Kini dunia dihadapkan pada peristiwa serupa yang terjadi di Mumbai, India. Lebih dari 150 orang meninggal ketika teroris membom empat buah tempat, menahan sandera serta membunuh sandera-sandera tersebut. Sama seperti ketika bom Bali terjadi, para pelaku menargetkan orang-orang yang berasal dari negara-negara barat seperti Amerika, Inggris dan juga bangsa yang dianggap sekutu barat, Yahudi.
Mohon maaf, saya tidak akan mendiskreditkan religi, kepercayaan atau faham di sini, tapi seperti yang saya yakini, semua religi dan kepercayaan tidak ada yang menganjurkan kita berbuat jahat terhadap orang lain walaupun ada perbedaan faham dengan kita.
Dua tragedi yang terjadi di atas jelas didasari oleh kebencian. Kebencian yang sudah berakar dan mendarah daging. Kebencian yang sampai saat ini saya tidak bisa mengerti menagap harus terjadi. Sedikitnya ada tiga agama yang terlibat dalam lingkaran kebencian di dunia ini dan mereka mulai menularkan benih-benih kebencian tersebut ke kelompok-kelompok lain. Dan ironisnya ketiga agama tersebut berasal dari orang yang sama, dan bangsa yang sama, Ibrahim (atau Abraham). Bagi umat Kristiani, Isaac (Ishak) anak dari Abraham (Ibrahim) adalah titik mulainya agama mereka ketika pada saat itu muncul perintah YHWH (sebutan Tuhan oleh bangsa Yahudi) kepada Abraham untuk mengorbankan anaknya (Isaac). Buat umat Islam, diyakini bahwa mulainya agama Islam adalah dari Ismail (Ishmael) saudara dari Ishak, dimana menurut Al Quran, Ismail lah yang di perintahkan untuk di korbankan oleh Allah kepada Ibrahim untuk menguji kesetiaannya terhadap Allah. Abraham sendiri disebut sebagai bapak bangsa Semit (Arab & Israel).
Cerita di atas adalah cerita yang saya dapatkan dari sejarah. Masih ada missing link yang besar, mengapa mereka mesti saling membenci? dan mengapa Agama yang kita peluk yang seharusnya menjadi life-guidance buat kita semua justru mereka jadikan sebagai dasar dari kebencian tersebut? Dan yang sangat ironis adalah di negara kita pun ada orang-orang yang memiliki pandangan yang didasari kebencian serupa. Coba simak komen-komen yang masuk menanggapi blog entry di sini, jelas sekali banyak yang pro terhadap kebencian tersebut dan banyak juga yang menanggapi balik dengan kebencian serupa. Apa yang terjadi dengan Indonesia yang cinta damai? Indonesia yang punya toleransi tinggi terhadap perbedaan?
Kalau sudah begini saya jadi ingat apa yang John Lennon bilang dalam lagu karyanya, Imagine:
Imagine there’s no Heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for todayImagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peaceYou may say that I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as oneImagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the worldYou may say that I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will live as one
Still wondering til now. Will it be happening to us?
Jimi’s Journal
October 30, 2008 by Admin
Filed under VOJ Updates
Halo,
Hanya ingin mengumumkan bahwa kami akan mengganti nama acara Late Nite with Jimi dengan nama yang lebih relevan bagi pendengar di seluruh dunia. Dan nama yang akan kami pergunakan adalah Jimi’s Journal, sehingga kali ini tidak akan ada lagi kerancuan waktu ketika membaca nama acara ini.
Satu hal lagi, ada kemungkinan acara ini akan dibuat recorded juga dengan komposisi kapan saja yang recorded dan kapan yang live akan ditentukan lebih lanjut.
Sekian pengumuman dari saya.
Vote for Singgih’s Wooden Radio
Salah satu desainer produk Indonesia kembali menorehkan kebanggaan buat kita semua bangsa Indonesia, kali ini Singgih Kartono, nama desainer produk tersebut hasil karyanya yaitu Radio Kayu Magno masuk dalam nominasi People’s Design Award yang diadakan oleh Cooper Hewit - National Design Museum di New York City. Untuk mendukung Radio Kayu Magno nya Singgih ini silahkan vote di sini agar Radio Kayu Magno nya Singgih ini bisa naik urutannya, sekalian anda bisa melihat wujud rupa Radio Kayu ini…:-)
What is your MANIFESTO to the world? Whatever it is… DO NOT LET YOUR VOICE BE UNHEARD…
October 13, 2008 by Admin
Filed under VOJ Updates
Helo voicesters… Mari kita ucapkan selamat datang buat MANIFESTO - inilah ruang tempat berbagi kisah dan musik unik, bersama Inggita Notosusanto tiap Jumat jam 7 malam WIB, dengan tayang ulang tiap hari jam 7 malam.
Jangan lewatkan episode perdana hari Senin tgl 13 Oktober 2008 jam 12:30 WIB
Jangan lupa kirimkan musik dan kisah Anda, terutama bila Anda punya band indie, ke manifesto@voiceofjakarta.com
Welcome to MANIFESTO! For voicesters, Voice of Jakarta listeners, this is a space to share your unique story, creations, passions, personal discoveries, and personal worries…
and, of course, music for the free souls…
An hour with Inggita Notosusanto, every Friday 8pm Singapore time… with reruns every day at 8pm
Tune in for its debut episode on Monday, October 13th, 2008, at 10am Singapore time.
For indie bands and alternative music, send in your music… for the rest of you, send in your stories - to manifesto@voiceofjakarta.com
VOJ menjadi Media Partner JakJazz 2008
October 1, 2008 by Admin
Filed under VOJ Updates

Voice Of Jakarta menjadi salah satu online media partner untuk acara perhelatan besar musik jazz tingkat dunia yang dilangsungkan di Jakarta pada bulan November 2008. JakJazz 2008, yang kali ini merayakan tahun ke 10 menggamit Voice Of Jakarta sebagai salah satu online media partner mereka. Seperti kita semua ketahui, VOJ sebagai radio internet selalu diakses oleh pendengar yang datang dari seluruh dunia, oleh karena itu pihak penyelenggara JakJazz 2008 tertarik untuk menjadikan VOJ sebagai online media partner mereka dikarenakan sifat jangkauan radio ini yang “mendunia”.
Selain menjadi online media partner, VOJ pun rencananya juga akan bertindak sebagai ticket box bagi calon pengunjung JakJazz 2008 nantinya.
Informasi tentang JakJazz 2008 bisa dilihat di:
www.jakjazz.com



