Futurotextiles: Surprising Textiles, Design & Art

May 18, 2010 by voj  
Filed under Seni & Budaya

Pameran tahunan kerjasama Indonesia dengan Prancis kini kembali dibuka dengan tema yang berbeda dari tahun-tahun yang sebelumnya, pameran yang merupakan edisi ke-6 yang telah di selenggarakan di Jakarta ini mengambil tema Futurotextiles, dimana dalam pameran ini kita diajak untuk mengenal perkembangan tekstil yang diaplikasikan ke dalam banyak media, seperti Fashion, karpet, dan bahkan diguanakan dalam bahan bangunan.

Pameran Futurotextiles ini sebelumnya telah sukses dipamerkan di 6 negara yaitu di Kota Lilie (Prancis), Istanbul (Turki), Courtrai (Belgia), Bangkok (Thailand) dan Casablanca (Maroko). Seperti biasa, tidak hanya pameran saja yang diselenggarakan Printamps, ada banyak sekali acara-acara yang mendukung tema utama Printamps tahun ini, antara lain Pameran Fotografi, pameran mode, Tari Kontemporer, Sirkus Kontemporer, Konser Simfoni, pameran poster film, dan masih banyak yang lainnya.

Event Le Printemps  yang berlangsung dari tanggal 27 April hingga 25 Juli 2010 ini dijamin akan banyak memberikan pengalaman baru buat teman-teman yang ingin mencari alternatif hiburan lain yang ada di kota Jakarta, jangan sampai melewatkan acara-acara menarik lainnya :)

Ana Maria Kornelia | Life Dress | 2005 | Flexothane, katun, Cartridge H20

Untuk Info lebih lanjut : www.ccfjakarta.or.id, email : info@ccfjakarta.or.id, Telp : 390 85 85

Blogpost ini disindikasi dari Out of The Box Indonesia (termasuk foto-fotonya)

Sehat dengan Makanan Organik

May 10, 2010 by voj  
Filed under Jakarta Green

Banyak sekali makanan yang walaupun terlihat segar dan sehat, namun tanpa disadari sudah ‘disusupi’ dengan zat kimia beracun yang lambat laung bisa mengancam kesehatan tubuh kita. Untuk itu, salah satu solusinya adalah pilihlah makanan organik, yang tidak hanya baik bagi kesehatan, tapi juga aman bagi lingkungan.

Apa itu produk organik?

Yang disebutkan “produk organik” adalah hasil pertanian yang memenuhi kaidah-kaidah pertanian organik, diantaranya tidak menggunakan pestisida sintetis, pupuk kimia sintetis, zat pengatur tumbuh, rekayasa genetika, dll.

Lalu, bagaimana dengan bahan pangan yang biasa kita beli untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Timbul pertanyaan di benak kita, apakah bahan pangan tersebut sudah tercemar? Jelas tidak semua, tetapi ada upaya yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan produk pangan yang sehat dan aman. Mengonsumsi produk organik adalah pilihan yang bijak.

Dengan mengonsumsi makanan organik, organ tubuh kita bekerja lebih ringan. Menurut penelitian yang dilakukan pada 2007, buah dan sayuran organik mengandung lebih dari 40% antioksidan dibandingkan buah dan sayuran produk pertanian konvensional.

Ada banyak alasan mengapa memilih produk organik. Diantaranya bila kita berbicara lingkungan, pertanian konvensional (non-organik) berdampak buruk khususnya terhadap ekosistem lahan pertanian. Dan bila dihubungkan dengan kesehatan, ternyata juga berdampak buruk terhadap kesehatan petani itu sendiri, misalnya dengan adanya paparan pestisida kimia sintetis saat proses produksi atau pun proses penyemprotan.

Di mana kita bisa mendapatkan produk organik?

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan produk organik, yaitu berbelanja di toko, outlet khusus, belanja online, belanja komunitas,belanja langsung ke produsen atau petani, belanja melalui pasar tani yang hanya ada dihari-hari tertentu.

  • JAKARTA
    • Pasar Tani MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)
      Halaman Dept Pertanian Ragunan, Jakarta
      Setiap hari jumat, jam 7.30 – 14.00
      (ada sayur, buah, beras, kacang2an dll)

Terus, bagaimana saya bisa yakin bahwa produk yang saya beli termasuk produk organik ?

  • Periksalah ciri-ciri produk. Ciri-ciri pangan organik seperti sayur dan buah secara kasat mata sekarang tidak terlalu berbeda. Tidak semua sayur/buah organik harus bolong-bolong atau berpenampilan buruk, akan tetapi bisa juga bagus, mulus karena memang pas sedang musimnya dan pengendalian hama terpadunya baik. Kalau dari rasa untuk yang sudah biasa memang terasa perbedaannya, diantaranya teksturnya lebih renyah, padat, dan aroma yang lebih kuat.
  • Cermati masalah label sertifikasi atau penjaminan. Di Indonesia ada badan khusus yang didirikan untuk sertifikasi produk organik, salah satunya yaitu BioCert.
  • Kenali sumber atau produsen atau petani yang mensuplai produknya. Bisa dilakukan kunjungan langsung ke lahan pertanian bila memungkinkan sehingga terjalin hubungan saling mempercayai antara produsen – konsumen.
  • Pilih produk lokal setempat, setidaknya melakukan variasi dan keragaman konsumsi pangan sehari-hari, seperti buah kita bisa beralih ke jenis buah-buahan lokal setempat seperti kecapi, manggis, salak, jambu bol, belimbing untuk menggantikan buah-buahan impor (setidaknya memperkecil jejak karbon). Dari segi nilai gizi, buah-buahan lokal  tidak kalah hebat dengan buah impor seperti pear.
  • Lakukan penanaman sendiri di pekarangan atau halaman bila memungkinkan. Untuk kita yang tinggal di perkotaan bisa melakukan pertanian kota, seperti menanam bumbu dapur dan buah.

Eits, bukankah produk organik termasuk mahal?

Kalau masalah harga itu relatif, tergantung di mana kita membelinya, selain ada masalah jarak tempuh dari produk sampai ke konsumen, serta masalah kualitas. Apakah bentuk curah atau memang yang premium (seperti ukuran rata, kemasan) tentu harganya berbeda.

Satu alasan lagi untuk harga tinggi dari produk organik karena ketersediaannya yang masih terbatas, petani juga perlu biaya lebih untuk menyehatkan tanah sebelum tanahnya layak menghasilkan produk organik. Belum lagi masalah tenaga kerja yang lebih banyak karena menggunakan cara manual.

Ada banyak hal untuk menyiasati keterbatasan dana atau budget rumah tangga untuk membeli produk organik diantaranya kita lakukan prioritas, lakukan bertahap untuk beralih. Belilah produk lokal, belanja secara komunitas atau langsung ke petani.

Informasi lebih lanjut

(Penulisan artikel ini dibantu oleh Ibu Bibong)

Artikel ini diambil dari Greenlifestyle

Foto oleh: thebittenworld.com

Transformasi ala Albert Yonathan (Liminal Being)

May 10, 2010 by voj  
Filed under Seni & Budaya

Di tahun 2010 sampai saat ini Albert Yonathan tercatat sudah 2 kali mengadakan pameran tunggalnya, pertama di Sigiarts pada bulan February yang lalu, dan pada bulan Mei kali ini di The Japan Foundation. Sepertinya gairah dan semangat berkarya yang ia dapatkan saat menjalani Proses Residensi dari  Jenesys The Japan Foundation selama kurang lebih 90 hari di Jepang masih sangat kuat melekat dalam dirinya.

Liminal Being
Pada pameran Liminal Being kali ini kita masih bisa menemui karya yang sama seperti yang pernah ia pamerkan di pameran tunggalnya berjudul Cosmic Mantra di Sigiarts yang sebelumnya sudah pernah saya bahas di blog ini. Apa sebenarnya arti dari judul pameran ini ? di dalam katalog NUANSA yang dikeluarkan oleh The Japan Foundation ‘Liminal’ adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah kondisi atau keadaan transisi atau di dalam sebuah proses transformasi. Istilah ini sering digunakan dalam kajian antropologi atau psikologi.

Dari proses yang saya cari, Liminal berarti ‘In Between, Transtitional’, sedangkan di sumber lain yang saya temukan  Liminal Being diartikan sebagai makhluk legendaris yang tubuh Fisiknya terbagi dua sehingga memungkinkan timbulnya 2 sifat yang bertolak belakang.

Berdasarkan pengertian diatas sepertinya kita sudah bisa meraba apa maksud dan korelasi dari ‘Liminal Being’ tersebut dengan karya Albert Yonathan yang dipamerkan di The Japan Foundation ini. Bila kita perhatikan bentuk-bentuk yang Albert cipakan bagaikan bentuk suatu makhluk hidup yang sedang melalui proses transformasi, antara manusia dan makhluk jenis lainnya, bila kita lihat dari banyaknya bentuk simbolik sayap yang ada, burung atau makhluk dengan sayap lainnya sepertinya juga banyak mempengaruhi Albert dalam berkarya.

Albert & program Residensi Jenesys
Albert Yonathan adalah seorang seniman yang berlatar belakang akademik di ITB, ia mempunyai minat yang tinggi di bidang seni keramik dan sangat mengagumi karya-karya seni keramik yang berasal dari Jepang, negara yang ternyata akan membawanya kesana selama 90 hari dalam proses program Residensi Jenesys The Japan Foundation Indonesia.

Bagi seniman manapun, saya rasa Jepang memang menjadi suatu tujuan khusus, Jepang adalah negara yang sangat menghargai berbagai macam karya seni, mereka juga sering mengaplikasikan karya seni ke dalam kehidupan serta kebutuhan hidup sehari-hari, seperti Bento atau kotak bekal makan yang tampilan makanannya sering sekali terkandung unsur estetika. Bukti lainnya adalah nilai total karya seni yang telah di eksport oleh negara berpopulasi 127 juta penduduk ini senilai 124.895.700 US Dollar (Data PBB 2007), bandingan dengan Indonesia yang berpopulasi 240juta tapi hanya dapat mengeksport 9.900.385 US Dollar (Data PBB 2008), dari nilai tersebut kita sudah dapat menilai Jepang dengan alam dan penduduknya disana seperti sudah mendarah daging dengan karya Seni.

Di Jepang, Albert berkesempatan bertemu dengan banyak seniman dari negara lain yang juga datang melalui program residensi Jenesys di negara mereka masing-masing, di akhir programnya setiap seniman diharuskan mengadakan sebuah pameran tunggal yang pada umumnya seperti merefleksikan tentang hal apa saja yang telah mereka dapat selama program residensi. Albert mengatakan ia sangat terkagum-kagum dengan atmosfir berkesenian disana, mulai dari apresiasi masyarakat yang cukup tinggi, serta fasilitas yang mendukung seniman dalam berkarya maupun mengadakan pameran, cerita selengkapnya tentang pengalaman Albert Yonathan selama ia melakukan program residensi dapat dilihat disini.

The Exhibition
Meski karya yang dipamerkan di Pameran Liminal Being ini tidak sebanyak saat di Cosmic Mantra, pengaturan serta tata letak pada pameran ini menurut saya briliant! dengan menggunakan salah satu ruang di The Japan Foundation, pameran Liminal Being ini menempatkan karyanya memusat seperti sedang memandang panggung pertunjukan, tidak ada ruang yang sia-sia sehingga pengunjung dapat dengan leluasa menikmati pameran ini, satu-satunya yang kurang manarik menurut saya adalah tidak adanya katalog, dan hanya disediakan Press release yang berbentuk poster yang dapat dilipat, yah..memang sih tempat pameran ini bukan Gallery Seni, jadi saya maklum saja cuma dapet seadanya, tapi untuk karya Albert Yonathan ini, sayang rasanya hanya dicetak di poster lembaran HVS.

Exhibition Name : Liminal Being
Place : The Japan Foundation
Curator :
Time : 5 May – 19 May 2010
Artist : Albert Yonathan

Blogpost ini disindikasi dari Out of The Box Indonesia (termasuk foto-fotonya)

Eksplorasi Fairy Tale Dalam Vector (Happily (N)ever After)

May 10, 2010 by voj  
Filed under Seni & Budaya

Kalau ada pameran yang paling saya tunggu-tunggu di bulan April yang lalu, Happily (N)ever After – Amalia Kartika Sari oleh Amalia Kartika Sari lah pamerannya. Amalia Kartika Sari atau lebih dikenal dengan nickname Loveshugah adalah seorang Vector Artist, saya sengaja mengambil istilah Vector Artist karena memang semua karya luar biasa miliknya dibuat dengan Vector, coba teman-teman mampir ke deviantart miliknya.

Gaya ilustrasi Vector yang lucu, menarik dan penuh warna mamaksa kita untuk menyukai ilustrasi tersebu, lalu apa yang terjadi bila semua ilustrasi tersebut di masukan ke dalam sebuah Galeri Seni? hasilnya sangat luar biasa, Amalia Kartika Sari berhasil membuat suatu kejutan luar biasa dari tiap karya yang ia buat. Setiap lukisan berukuran besar tersebut disertai pigura yang dibuat satu tema dengan lukisannya, sehingga kita masih merasa bahwa pigura tersebut adalah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari lukisannya. Dari semua karyanya, ”Loro Jonggrang’ bisa disebut sebagai fenomena dalam pameran ini, lukisan yang disertai oleh instalasi Stainless Steel emas ditempatkan tepat di posisi pintu masuk, sehingga dari awal kita sudah diberi kejutan akan ukuran serta detail dari karya tersebut.

Tema yang diangkat oleh Amalia Kartika Sari dalam pameran ini sebagian besar merupkan cerita-cerita Fairy Tale dari Barat, sebut saja judul-judul seperti Alice In Hurryland, Happily (N)ever After – Amalia Kartika Sari, Lie, pinokio, lie, Little Red Hiding what, adanya perubahan nama tersebut sepertinya merupakan keisengiannya dalam berkarya, begitu juga dalam pembuatan ilustrasinya, Amalia Kartika Sari hampir selalu menggunakan figur dirinya sebagai karakter, dan di setiap ada figur dirinya disana selalu tampak karakter laki-laki yang ada bersamanya.

Rasanya saya bisa merasakan, pameran Happily (N)ever After ini akan menjadi tonggak awal kemajuan para Vector Artist Indonesia dalam melebarkan sayapnya ke dalam ranah Galeri Seni, bila benar maka bersiaplah menyambut awal yang baru dalam dunia seni lukis kontemporer Indonesia, Kita lihat saja nanti :)

Exhibition Name : Happily (N)ever After
Place : Kemang Icon Art Space
Curator : Asmudjo Jono Irianto
Time : 15 April – 6 May 2010
Artist : Amalia Kartika Sari

Blogpost ini disindikasi dari Out of The Box Indonesia (termasuk foto-fotonya)

Trotoar untuk Siapa?

May 8, 2010 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Jalan adalah sebuah prasarana penting dalam tata kota dimana banyak prasarana lain ikut bergantung pada keberadaan jalan tersebut yaitu salah satunya transportasi. Beragamnya pengguna jalan maka dirasakan penting untuk dibuat pembagian penggunaan jalan berdasarkan penggunanya, maka kita bisa menemukan apa yang kita sebut dengan trotoar yang saya yakin semua orang sudah tahu fungsinya untuk apa, yaitu untuk pejalan kaki yang melakukan perjalanan dengan alat transportasi alam yang built-in dengan tubuh kita, yaitu sepasang kaki.

Jika kita simak Wikipedia tentang trotoar maka akan kita dapati penjelasan sebagai berikut:

Trotoar adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan  pejalan kaki yang bersangkutan.

Para pejalan kaki berada pada posisi yang lemah jika mereka bercampur dengan kendaraan, maka mereka akan memperlambat arus lalu lintas. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama dari manajemen lalu lintas adalah berusaha untuk memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, tanpa menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan pembangunan trotoar.

Pertanyaan pada judul tulisan ini muncul karena definisi pada Wikipedia tersebut di atas tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada trotoar-trotoar di Jakarta. Banyaknya pelencengan yang terjadi pada trotoar, antara lain:

  1. Jalur motor
  2. Tempat parkir
  3. Tempat melakukan usaha (warung dan kaki lima)
  4. Tempat menanam pohon
  5. Jadi satu dengan tempat beradanya tiang-tiang (tiang listrik, tiang telpon, tiang lampu jalan, dll)

Apakah memang di kota Jakarta semua orang diharapkan untuk menggunakan kendaraan sehingga fungsi trotoar untuk pejalan kaki dikorbankan? Tentu seharusnya tidak ya. Yang terjadi adalah law enforcement yang tidak berjalan sehingga masyarakat merasa boleh melakukan hal-hal yang dilarang.

Bagaimana menurut Anda?

Foto oleh: Margie Meiranie Sudiro

Gedung atau Kawasan yang Memberikan Fasilitas Parkir Sepeda

May 3, 2010 by voj  
Filed under Jakarta Green

Selain tidak adanya jalur khusus sepeda, salah satu kendala yang harus dihadapi para pengguna sepeda adalah sulitnya mencari fasilitas parkir saat bersepeda ke mall, kantor atau suatu kawasan.

Namun para pengguna sepeda tidak perlu berkecil hati, karena belakangan ini beberapa pengelola gedung atau kawasan mulai memerhatikan para pengguna sepeda dengan memberikan fasilitas parkir sepeda. Diantaranya:

  1. PT. Anggara Architeam, Jalan Tebet Barat, Jakarta Selatan
  2. RS. Medistra, Pancoran, Jakarta Selatan
  3. Bank Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan
  4. Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan
  5. Siemens Bussiness Park, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan
  6. Kampus Universitas Paramadina, Gatot Subroto, Jakarta Selatan
  7. Menara Energi, kawasan SCBD, Jakarta Selatan
  8. Bursa Efek Jakarta Tower, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan
  9. Graha Niaga Tower, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan
  10. FX Plaza, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan
  11. XL Office, Jalan Mega Kuningan, Jakarta Selatan
  12. Trans TV, Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan
  13. Femina, Setiabudi, Jakarta Selatan
  14. Rekayasa Consultant, Jalan Kalibata, Jakarta Selatan
  15. Wisma Pondok Indah, Jakarta Selatan
  16. Indosat IM2, Jalan Kebagusan Raya, Jakarta Selatan
  17. Gedung Arcadia, Jalan TB Simatupang Kv 88, Jakarta Selatan
  18. PT. Alita Praya Mitra, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan
  19. Pondok Indah Mall (area khusus di parkir motor), Jakarta Selatan
  20. Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat
  21. Plaza Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat
  22. Grand Indonesia (area parkir motor di basement), Jakarta Pusat
  23. EX Plaza, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat
  24. Menara BII, (area khusus di samping gedung) Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat
  25. Danareksa, Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat
  26. PPATK, Jalan Veteran, Jakarta Pusat
  27. Kompas Gramedia, Jalan Palmerah Barat, Jakarta Pusat
  28. Mall Citraland (area khusus di parkir motor), Jakarta Barat
  29. PT. Summarecon Agung, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur
  30. Nestle Indonesia, Pasarrebo, Cijantung, Jakarta Timur
  31. PCS Tanjung Priok, Jakarta Utara
  32. Body Shop, Gd. Sentosa, Bintaro Jaya, Tangerang, Jawa Barat
  33. Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat
  34. Kampus IPB, Bogor
  35. Supermarket Giant, Taman Yasmin, Bogor

Artikel ini diambil dari Greenlifestyle

Foto oleh: markhillary

Transportasi Publik Yang Bisa Diandalkan

April 26, 2010 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Setiap kali saya pulang ke Jakarta, saya selalu merasakan kesumpekan dan keruwetan yang terus bertambah. Saya bisa merasakan ini karena seperti penduduk Jakarta yang lain, saya adalah termasuk dari salah satu warga Jakarta yang tiap hari harus melakukan commute dari kawasan suburb di selatan Jakarta ke tempat saya beraktifitas dengan menghabiskan waktu sekitar 45 menit kalau kondisi jalanan tidak macet (silahkan bayangkan sendiri berapa lama yang harus tempuh jika kondisi jalanan sedang macet). Bagi warga yang tinggal di kawasan kota satelit Jakarta bahkan harus menghabiskan waktu yang lebih lama lagi untuk mencapai tempat kerja mereka.

Apa yang sebenarnya menjadi masalah? Memang sebagai sentra aktifitas bagi sebagian besar warga, kondisi Jakarta yang semakin tidak nyaman untuk dijadikan tempat bekerja dan tinggal ini tidak memiliki jalan keluar lain selain mencoba untuk beradaptasi dengan kondisi yang makin lama makin memburuk ini. Dampak langsungnya adalah pengorbanan yang sangat besar dari kualitas hidup kita demi kelanjutan hidup. Ya coba bayangkan saja, kita harus menyiapkan ekstra waktu dan ekstra kekuatan mental hanya untuk bisa bekerja di Jakarta. Atau bisa dikatakan perjalanan pergi dan pulang serta beraktifitas adalah perjuangan tersendiri dalam kehidupan sehari-hari di Jakarta di luar perjuangan untuk hidup itu sendiri (bekerja). Ini menjadikan hidup di Jakarta saya bisa bilang sama sekali tidak bisa dibilang nyaman.

Masalah transportasi publik di Jakarta adalah masalah yang tidak pernah selesai, dan seperti juga permasalahan-permasalahan lainnya, karena saking lama nya tidak dipecahkan maka warga Jakarta menjadi skeptik dan mencoba memecahkan permasalahannya masing-masing sendiri yang akhirnya menimbulkan masalah baru lagi. Untuk lebih jelasnya saya akan coba memaparkan dari sudut pandang seorang warga Jakarta:

  1. Jakarta memiliki sistem transportasi publik dalam kota seperti bis kota, kereta api, minibus (Metromini & Kopaja), angkot, dan taksi
  2. Jakarta tidak memiliki sistem pembatasan jumlah mobil pribadi seperti yang dilakukan oleh negara tetangga kita Singapura, sehingga perkembangan jumlah mobil pribadi tidak bisa di kontrol.
  3. Menaikkan besaran pajak terhadap kendaraan pribadi ternyata bukanlah jalan keluar yang baik untuk membatasi jumlah kendaraan pribadi.  Karena itu seperti menaikkan standar harga, begitu masyarakat bisa membeli mobil dengan harga katakanlah tingkat menengah, maka opsi membeli kendaraan pribadi jadi semakin luas karena kendaraan tingkat bawah pun jadi bisa terjangkau.
  4. Naiknya jumlah pemilik kendaraan pribadi tidak bisa diimbangi oleh pertumbuhan jalan, sehingga yang terjadi adalah munculnya kemacetan di mana-mana.
  5. Kemacetan di mana-mana ini merugikan seluruh warga Jakarta, dan warga menjadi skeptis karena selama bertahun-tahun tidak ada perbaikan (dari pemerintah) untuk kondisi ini. Oleh karena itu mereka mencoba memecahkan masalah ini dengan hanya melihat pada diri mereka masing-masing (no time to pay attention to others), yaitu dengan membeli kendaraan pribadi yang bisa at least memecahkan masalah waktu tempuh dan kenyamanan (dibadingkan dengan menggunakan kendaraan umum). Kendaraan pribadi ini adalah Motor.
  6. Pertumbuhan jumlah motor yang merupakan pemecahan jangka pendek bagi pemiliknya ternyata menciptakan masalah baru, karena motor maupun mobil tetap saja mengkonsumsi tiap jengkal jumlah jalan yang pertumbuhannya sangat timpang.
  7. Alhasil, kondisi bukannya menjadi semakin nyaman tapi ya semakin buruk.
  8. Tambahan lagi, warga kita sudah sejak lama tidak pernah dibiasakan patuh hukum, karena jujur saja pelaku hukumnya pun kebanyakan di jalan raya sering melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum yang ujung-ujungnya jadi muncul paradigma tidak ada yang tidak boleh di jalanan Jakarta asal kita bisa membayar.

Itulah yang bisa saya tangkap, silahkan kalau ingin menambahkan. Lalu apa kira-kira yang bisa sekiranya memperbaiki kondisi ini?
Kebetulan saya mendapat kesempatan untuk tinggal di dua kota yang memiliki sistem transportasi cukup baik, yaitu New York City dan Singapura. Eits jangan terburu-buru menyebutkan bahwa Jakarta tidak sebanding dengan dua kota ini? Kita akan tetap jalan di tempat jika tidak mau melihat dan membandingkan dengan tempat-tempat lainnya. Pengalaman tinggal di dua kota ini membuat saya mengerti bahwa wajar jika warga kota ini tidak perlu punya kendaraan pribadi sendiri. Transportasi publik yang mereka miliki sangatlah bisa diandalkan. Sehingga warga lebih memilih menggunakan transportasi publik dibandingkan kendaraan pribadi karena bahan bakar mahal dan tempat parkir gila2an mahalnya. Namun transportasi publiknya nyaman. Lalu apakah artinya di kedua kota tersebut tidak dikenal yang namanya macet/traffic jam? Jangan salah, tetap ada, tapi jauh lebih bisa di manage dan pengertian traffic jam mereka berbeda. Jika di Jakarta rumah-kantor = 1-2 jam karena traffic jam, kalau di Singapura/New York, naik kendaraan molor 20 menit = traffic jam.

Hal lainnya lagi adalah yang berkaitan dengan poin nomer 8, yaitu law enforcement. Di NYC/Singapura, practically tidak ada masalah serius, sedangkan di Jakarta, untuk mengatur agar dua jalur (busway & umum) bisa dipergunakan sebagaimana mestinya saja susahnya bukan main.

Sekali lagi, saya sangat yakin, jika kita memiliki transportasi publik yang bisa diandalkan maka hampir sebagian masalah warga Jakarta akan bisa terselesaikan.

Bagimana menurut Anda?

Tulisan ini bisa dibaca juga di sini

Berkelana Di atas Gelombang Estetika (album “…Laju” – Bonita)

December 23, 2009 by voj  
Filed under Seni & Budaya

Mendengarkan album “…Laju” dari Bonita ini seperti menjelajah negeri dongeng yang terpendam dalam setiap sanubari umat manusia. Hampir semua lagu-lagu yang diciptakan, dipilih dan dibawakan oleh Bonita pada album ini berpotensi membuat kita semua melamun dan terbang.

Mendengarkan album “…Laju” dari Bonita ini membuat kita kembali disadarkan bahwa sebuah karya musik tidak lah perlu harus hingar bingar dan jor-joran untuk mendapatkan sebuah impact yang kuat. Kesederhanaan eksekusi pada tiap-tiap lagu membuat lagu-lagu dalam album ini menjadi mencuat kepermukaan sehingga masing-masing bisa jadi sebuah nomor yang memiliki independensi di telinga kita semua.

Album ini benar-benar seperti sebuah papan selancar yang digunakan oleh Bonita untuk menjelajahi gelombang estetika bermusik mereka. Kenapa saya sebut mereka? karena tanpa kehadiran musisi-musisi dan produser yang bisa bersinergi dengan Bonita maka akan sangat sulit mencapai tingkatan seperti ini. Di gawangi oleh Yuka Dian Narendra dan juga sang suami Adoy (P.B. Adi), bisa disebut Bonita ada dalam jalur yang tepat untuk mengekspresikan karya-karyanya.

Lagu yang berjudul “Rumahku” karya Bonita & Boris Simandjuntak (gitaris dari Flower) membuka album ini. Semburat kesederhanaan dan masa kecil menyeruak dalam komposisi ini. Sebuah sambutan yang menyenangkan. Dan lucunya album ini juga diakhiri oleh sebuah lagu yang bernuansa kanak-kanak yang berjudul “Jatuh Cinta”, sebuah representasi jatuh cinta ala Bonita? well we should ask Bonita for this.

Selain lagu “Komidi Putar” yang juga dipakai untuk film Sang Pemimpi (MiLes), coba simak lagu “Telur” dan “Pengulangan” cukup membuat saya kembali mengulang beberapa kali untuk menyimak lagu-lagu yang menarik ini. Seperti memperhatikan seorang anak yang sedang bergumam asik dengan dunianya, dan karena anak ini adalah Bonita, maka jadilah lagu-lagu ini seperti yang kita dengarkan.

Kedalaman lirik yang puitis juga sebuah nilai yang buat saya tidak bisa diindahkan. Kebanyakan lirik dibuat oleh Bonita sendiri dan didapatnya dari kontemplasi dalam diri selama perjalanan hidupnya. Simak lagu “Dendangku”:

ketika cinta berbalik
membunuhmu
maukah kau mati ditangannya
hidup dengan benci yang mendalam
meraungkan pilu yang
menyayat hati

Pada lagu ini Bonita seperti menyuarakan sebuah aftermath dari peristiwa yang telah terjadi dalam hidupnya.

Pada lagu “Mellow”, Bonita mencoba menggambarkan bagaimana ia menikmati suasana “mellow” yang bagi sebagian orang adalah sebuah suasana muram.

Tema bersyukur banyak digunakan oleh Bonita, yang saya duga mungkin memang dengan album ini Bonita mencoba mengekspresikan perasaan bersyukurnya atas hidup yang telah ia lalui selama ini. Dan salah satu lagu yang menurut saya berhasil merefleksikan rasa syukur seorang Bonita adalah pada lagu “It’s Over Now”

Satu hal yang agak mengganggu dalam album ini adalah cover CD. Saya mengagumi artwork yang digunakan pada album ini. Ilustrasinya boleh dibilang sangat menarik dan pas, tapi pemilihan warna dan type membuat kita agak kesulitan untuk membaca judul-judul lagu di bagian belakang cover CD tersebut. Pemilihan warna background (dark pink) dan tulisan (hitam) pada ukuran fonts sekecil itu pun jadi menyulitkan untuk dibaca pada bagian Ucapan Terimakasih. Ya secara artistik keseluruhan memang menarik tapi secara desain masalahnya ya itu tadi.

Over all, saya merekomendasikan album “…Laju” dari Bonita ini untuk disimak, terutama bagi yang ingin merasakan berkelana di atas gelombang estetika musik ala Bonita.

Tracklist:

  1. Rumahku
  2. Komidi Putar
  3. Telur
  4. Pengulangan
  5. Dendangku
  6. Bangun
  7. Hari Ini
  8. Pena
  9. Mellow
  10. Ari
  11. Tinggal
  12. Kelana Bersama
  13. You Cheer Me Up
  14. It’s Over Now
  15. Reprise
  16. Jatuh Cinta

Foo Fighters Live Streaming

October 30, 2009 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Foo Fighters Live Performance from Studio 606 on Friday October 30, 2009, 7PM PT/10PM ET (October 31, around 9AM (pagi) – WIB)

Sneak-Preview: Good For The Soul

October 14, 2009 by voj  
Filed under Jakarta Kita

Salah satu band indie, Andre Harihandoyo & SONICPEOPLE minggu ini merilis album mereka yang berjudul Good For The Soul. Sebelum membeli tentunya kita semua ingin tahu bagaimana musik mereka, lalu bagi yang sudah kenal dengan mereka tentunya ingin tahu ada cerita apa di balik terbentuknya album ini.

VOJ memberikan waktu buat mereka untuk bercerita dan juga memperdengarkan album baru mereka disini, caranya mudah. Silahkan tune-in di website kami ini pada:

  • Hari Rabu Tanggal 14 Oktober 2009
  • Jam 11 siang dan 11 malam (dua kali siaran) WIB

Silahkan ikutan ngobrol juga di Kotak Ngobrol kami dan kemungkinan kalian bisa ngobrol langsung dengan personil-personil Andre Harihandoyo & SONICPEOPLE pada saat acara berlangsung.

Thanks and enjoy the show…:-)

Next Page »