<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Karya dan Uang</title>
	<atom:link href="http://www.voiceofjakarta.com/2008/12/05/karya-dan-uang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.voiceofjakarta.com/2008/12/05/karya-dan-uang/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 11:00:24 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>By: signifiant</title>
		<link>http://www.voiceofjakarta.com/2008/12/05/karya-dan-uang/comment-page-1/#comment-148</link>
		<dc:creator>signifiant</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 14:45:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.voiceofjakarta.com/?p=199#comment-148</guid>
		<description>Wah membaca istilah &quot;ideologi&quot; disebut-sebut, jadi inget jaman Lekra &amp; Manikebu dulu. Kalau dulu yang jadi masalah adalah paham &quot;politik sebagai panglima&quot;, sekarang era kapitali$me global dengan waham &quot;pa$ar sebagai panglima&quot;. Memang siklus akan terus berulang walau dengan wajah berbeda :D

Tapi tenang, yang namanya dialektika ngga akan pernah berhenti. Seperti film2 dengan formula Hollywood ditanggapi dengan film indi/festival. Oscar diimbangi Cannes &amp; saudara2nya, sampai akhirnya film low budget seperti &quot;Little Miss Sunshine&quot; juga mendapat penghargaan Oscar. Kotak-kotak itu ngga selamanya baku.

Saya pikir soal orang berlomba2 jadi seperti Andrea Hirata itu sesuatu yang positif, artinya penulis Indonesia masih bisa menghasilkan &quot;writerly text&quot; (meminjam istilah Barthes) yang tidak hanya selesai dibaca tetapi juga menginspirasi pembaca untuk memproduksi &quot;text&quot; baru. Begitu pula mekanisme pasar yang berorientasi profit juga bisa dimaknai secara positif sebagai tantangan bagi penulis bagaimana menghasilkan karya yang berkualitas sekaligus DIMINATI pembaca di era konsumtif serba instan dan orang2nya udah stres kerja n malas baca yang berat-berat (itu sebabnya chicklit/teenlit/metropop kelihatannya lebih diminati ketimbang, misalnya, Olenka-nya Budi Darma atau Bilangan Fu-nya AU).

Saya tetap optimis mekanisme pa$ar ini juga punya banyak &quot;celah&quot; untuk dimanfaatkan sekaligus disiasati untuk menghasilkan karya yang gak sepenuhnya di-drive pasar/penguasa modal, asal kita selalu berusaha mencari sisi positifnya :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah membaca istilah &#8220;ideologi&#8221; disebut-sebut, jadi inget jaman Lekra &amp; Manikebu dulu. Kalau dulu yang jadi masalah adalah paham &#8220;politik sebagai panglima&#8221;, sekarang era kapitali$me global dengan waham &#8220;pa$ar sebagai panglima&#8221;. Memang siklus akan terus berulang walau dengan wajah berbeda <img src='http://www.voiceofjakarta.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tapi tenang, yang namanya dialektika ngga akan pernah berhenti. Seperti film2 dengan formula Hollywood ditanggapi dengan film indi/festival. Oscar diimbangi Cannes &amp; saudara2nya, sampai akhirnya film low budget seperti &#8220;Little Miss Sunshine&#8221; juga mendapat penghargaan Oscar. Kotak-kotak itu ngga selamanya baku.</p>
<p>Saya pikir soal orang berlomba2 jadi seperti Andrea Hirata itu sesuatu yang positif, artinya penulis Indonesia masih bisa menghasilkan &#8220;writerly text&#8221; (meminjam istilah Barthes) yang tidak hanya selesai dibaca tetapi juga menginspirasi pembaca untuk memproduksi &#8220;text&#8221; baru. Begitu pula mekanisme pasar yang berorientasi profit juga bisa dimaknai secara positif sebagai tantangan bagi penulis bagaimana menghasilkan karya yang berkualitas sekaligus DIMINATI pembaca di era konsumtif serba instan dan orang2nya udah stres kerja n malas baca yang berat-berat (itu sebabnya chicklit/teenlit/metropop kelihatannya lebih diminati ketimbang, misalnya, Olenka-nya Budi Darma atau Bilangan Fu-nya AU).</p>
<p>Saya tetap optimis mekanisme pa$ar ini juga punya banyak &#8220;celah&#8221; untuk dimanfaatkan sekaligus disiasati untuk menghasilkan karya yang gak sepenuhnya di-drive pasar/penguasa modal, asal kita selalu berusaha mencari sisi positifnya <img src='http://www.voiceofjakarta.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arik</title>
		<link>http://www.voiceofjakarta.com/2008/12/05/karya-dan-uang/comment-page-1/#comment-146</link>
		<dc:creator>arik</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 10:29:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.voiceofjakarta.com/?p=199#comment-146</guid>
		<description>hurm... ternyata dalem jg ya pikiran yasa :D *masih dendam... perihal syaharani =)) &gt;&gt; becanda

well to be frank , ya itu lah memang kendala yang ada yang bisa dilihat...mungkin juga itu merupakan salah satu tantangan penulis yang serius dan benar benar mencari mata pencaharian nya dari menulis (totally). Memang ada yang straight pure dari hati untuk menulis bukan untuk dipublikasi, entah itu dengan menyamarkan nama asli / bagaimana... Tentunya itu jg bergantung dari individu penulis sendiri, dan apabila publik sebelum terbit buku sudah mengakui, tentunya hal itu jg udah lumayan memuaskan penulis... karena penulis lebih suka apa yang mereka tulis dibaca khalayak umum..
Mungkin jg karena dari itu ada beberapa / banyak penulis yang memilih jalur independen penerbitannya seperti dewi lestari sehingga melahirkan supernova...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hurm&#8230; ternyata dalem jg ya pikiran yasa <img src='http://www.voiceofjakarta.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  *masih dendam&#8230; perihal syaharani =)) &gt;&gt; becanda</p>
<p>well to be frank , ya itu lah memang kendala yang ada yang bisa dilihat&#8230;mungkin juga itu merupakan salah satu tantangan penulis yang serius dan benar benar mencari mata pencaharian nya dari menulis (totally). Memang ada yang straight pure dari hati untuk menulis bukan untuk dipublikasi, entah itu dengan menyamarkan nama asli / bagaimana&#8230; Tentunya itu jg bergantung dari individu penulis sendiri, dan apabila publik sebelum terbit buku sudah mengakui, tentunya hal itu jg udah lumayan memuaskan penulis&#8230; karena penulis lebih suka apa yang mereka tulis dibaca khalayak umum..<br />
Mungkin jg karena dari itu ada beberapa / banyak penulis yang memilih jalur independen penerbitannya seperti dewi lestari sehingga melahirkan supernova&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
