Karya dan Uang

December 5, 2008 by Elyasa  
Filed under Jakarta Green

Geliat sastra dan perbukuan di Indonesia perlahan naik daun. Berbagai jenis buku yang beredar di pasaran semakin beragam. Hal ini juga yang membuat banyak sekali penerbit-penerbit baru yang bermunculan, ataupun penerbit lama yang belum punya nama berusaha mengambil keuntungan dari fenomena yang terjadi. Keuntungan yang dimaksud bukan hanya nama besar, tetapi lebih kepada materi atau uang.

Penghargaan terhadap sastra baik itu prosa, cerpen, maupun puisi dapat kita temui setiap tahunnya. Salah satu acara penganugrahan sastra nasional yang sarat dengan hadiah berupa uang baru saja terjadi di salah satu Mal di dearah Jakarta Selatan. Selain itu lomba-lomba penulisan baik itu cerpen, cerbung, atau hanya sekedar surat cinta sudah menjadi agenda tahunan. Para penulis banyak yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan mendapatkan hadiah serta nama besar.

Hal ini memang terlihat positif bagi perkembangaan sastra dan karya. Namun apakah berkarya harus selalu didasari oleh materi. Apakah benar penulis hanya bisa berkarya dalam rangka memenuhi agenda tertentu. Melimpahnya uang yang diterima oleh penerbit dan penulis merupakan fenomena tersendiri yang bisa menjadi motivasi berkarya dan menerbitkan buku. Tentunya ada juga kelemahan dari fenomena ini, dimana para penulis dan penerbit berlomba-lomba menerbitkan buku yang sejenis dengan buku-buku yang menjadi best seller. Saat hal ini terjadi akan menyebabkan penurunan kreatifitas para penulis yang sudah ter mind set untuk berlomba-lomba menjadi terkenal dan kaya.

Sebenarnya situasi seperti ini sudah ada sejak lama, dimana ada dua kelompok penulis. Kelompok penulis yang pertama adalah kelompok yang berkarya demi karya itu sendiri, dan yang kedua adalah penulis yang berkarya demi uang. Bukan berarti menulis itu tidak menghasilkan, menulis bisa menjadi sebuah pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Namun yang menyedihkan adalah saat tulisan atau karya yang beredar di pasaran merupakan karya-karya ‘sampah’ yang hanya mendompleng kepopuleritasan dari jenis karya atau buku yang menjadi best seller.

Pertanyaan besarnya adalah, apakah ideology dari dasar berkarya itu sudah mati? Apakah seseorang hanya berkarya demi uang? Contohnya adalah seperti penulis-penulis muda yang berusaha mati-matian untuk mencoba menulis seperti Habiburahman dan Andrea Hirarta. Lalu kemana kreatifitas dan orisinalitan yang seharusnya menjadi dasar dari sebuah karya.

Karya itu sendiri sebenarnya adalah ‘anak’ dari penulis. Saat penulis menghasilkan sebuah naskah cerpen, cermin, puisi, atau novel mereka seharusnya merasa bangga dan senang walaupun karya mereka tidak di terbitkan, atau diterbitkan namun tidak menjadi best seller. Memang kebanggaan seorang penulis adalah pada saat karya mereka dibaca. Yang menjadi masalah adalah apakah karya mereka itu mencerminkan kepribadian, kreafitas, orisinalitas dari si penulis.

Pantaskah sebuah karya tulis dinilai dengan uang? Jawabannya mungkin terletak pada individu masing-masing penulis. Sayangnya, sudah sedikit penulis yang berkarya untuk karya itu sendiri. Jadi fenomena saat ini adalah berkarya untuk kaya. Secara langsung fenomena ini ‘membunuh’ kreatifitas dan perkembangaan dunia sastra di Indonesia. Karena penulis sudah ter mind set untuk menelorkan karya yang populer atau best seller, hal ini menyebabkan hancurnya keberagaman karya yang ada.

Penulis bukanlah satu-satunya aspek yang menjadi tolak ukur. Seorang penulis tidak akan bisa menerbitkan karyanya tanpa campur tangan penerbit, kecuali penulis ingin menempuh jalan self publish yang membutuhkan biaya besar. Disinilah letak tanggug jawab penerbit. Penerbitan tentunya adalah sebuah media usaha yang berbasis komersil. Penerbitan biasanya hanya akan menerbitkan buku-buku yang memang sedang ‘panas-panas’nya atau hanya menerbitkan naskah-naskah dari individu yang sudah memiliki nama.

Walaupun banyak penulis dan penerbit yang menutup mata akan hal ini. Sebenarnya hal inilah yang membuat perkembangan sastra menjadi stagnan. Penerbitan harus berani mengambil resiko dengan menerbitkan naskah dari individu yang belum memiliki nama di kancah sastra nasional, dengan syarat naskah yang diterbitkan haruslah berkualitas. Tapi sepertinya hal ini masih jauh dari mungkin. Penerbit yang memang profit oriented nampaknya enggan mengambil langkah ini demi perkembangan sastra nasional. Padahal banyak karya sastra yang baik namun berasal dari ‘orang baru’.

Untungnya sekarang banyak media yang memungkan seorang penulis, sehingga karyanya diapresiasi oleh orang lain. Yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah mereka memang murni berkarya atau merintis karier sehingga bisa menembus barikade yang telah dibuat sendiri oleh penerbitan? Jika memang demikian apakah esensi dari berkarya itu masih menjadi ideology atau hanya untuk meraup materi semata? Jika hal ini terjadi, maka pantaslah jika karya sastra identik dengan materi berupa uang.

Aulya Elyasa


Comments

2 Comments on "Karya dan Uang"

  1. arik on Fri, 5th Dec 2008 6:29 PM 

    hurm… ternyata dalem jg ya pikiran yasa :D *masih dendam… perihal syaharani =)) >> becanda

    well to be frank , ya itu lah memang kendala yang ada yang bisa dilihat…mungkin juga itu merupakan salah satu tantangan penulis yang serius dan benar benar mencari mata pencaharian nya dari menulis (totally). Memang ada yang straight pure dari hati untuk menulis bukan untuk dipublikasi, entah itu dengan menyamarkan nama asli / bagaimana… Tentunya itu jg bergantung dari individu penulis sendiri, dan apabila publik sebelum terbit buku sudah mengakui, tentunya hal itu jg udah lumayan memuaskan penulis… karena penulis lebih suka apa yang mereka tulis dibaca khalayak umum..
    Mungkin jg karena dari itu ada beberapa / banyak penulis yang memilih jalur independen penerbitannya seperti dewi lestari sehingga melahirkan supernova…

  2. signifiant on Sat, 6th Dec 2008 10:45 PM 

    Wah membaca istilah “ideologi” disebut-sebut, jadi inget jaman Lekra & Manikebu dulu. Kalau dulu yang jadi masalah adalah paham “politik sebagai panglima”, sekarang era kapitali$me global dengan waham “pa$ar sebagai panglima”. Memang siklus akan terus berulang walau dengan wajah berbeda :D

    Tapi tenang, yang namanya dialektika ngga akan pernah berhenti. Seperti film2 dengan formula Hollywood ditanggapi dengan film indi/festival. Oscar diimbangi Cannes & saudara2nya, sampai akhirnya film low budget seperti “Little Miss Sunshine” juga mendapat penghargaan Oscar. Kotak-kotak itu ngga selamanya baku.

    Saya pikir soal orang berlomba2 jadi seperti Andrea Hirata itu sesuatu yang positif, artinya penulis Indonesia masih bisa menghasilkan “writerly text” (meminjam istilah Barthes) yang tidak hanya selesai dibaca tetapi juga menginspirasi pembaca untuk memproduksi “text” baru. Begitu pula mekanisme pasar yang berorientasi profit juga bisa dimaknai secara positif sebagai tantangan bagi penulis bagaimana menghasilkan karya yang berkualitas sekaligus DIMINATI pembaca di era konsumtif serba instan dan orang2nya udah stres kerja n malas baca yang berat-berat (itu sebabnya chicklit/teenlit/metropop kelihatannya lebih diminati ketimbang, misalnya, Olenka-nya Budi Darma atau Bilangan Fu-nya AU).

    Saya tetap optimis mekanisme pa$ar ini juga punya banyak “celah” untuk dimanfaatkan sekaligus disiasati untuk menghasilkan karya yang gak sepenuhnya di-drive pasar/penguasa modal, asal kita selalu berusaha mencari sisi positifnya :)

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!