Shortcut

December 30, 2008 by Admin  
Filed under Celotehan

Jalan pintas atau kalau dalam bahasa Inggris (yang mungkin malah lebih sering digunakan) disebut dengan Shortcut adalah kata kunci yang kadang-kadang bikin kisruh hidup kita dan juga hidup orang banyak. Mmmmm, sebentar…. dalam konteks apa dulu nih? hehehe, shortcut yang saya maksud disini adalah cara cepat untuk mencapai sesuatu. Memang tidak semuanya buruk, tapi dalam tulisan ini seperti yang saya singgung di atas saya akan fokuskan ke yang bikin kisruh kita. Banyak contohnya, dari mulai dari pengamen yang genjreng-genjreng dengan niat supaya kita buru-buru ngasih duit, sehingga genjreng-genjreng nya di modifikasi sehingga membuat yang mendengar terganggu; get-rich-quick scheme yang mengobral janji cepat kaya yang nyatanya justru morotin orang-orang yang kemakan sampai dengan ke tingkat milyaran yang sekarang sedang ketar-ketir karena sorotan KPK.

Mencari cara untuk segera menyelesaikan sesuatu bukanlah hal yang tercela, tapi jika cara tersebut dilakukan hanya untuk kepentingan sendiri dan merugikan orang lain maka itu lain perkara. Dan susahnya saya sendiri melihat hal ini sudah menjadi hal yang lumrah di negara kita sampai ke akar rumput sekalipun. Contoh kecil ya seperti anak-anak di pengkolan yang tiba-tiba menjadi “polisi lalu lintas” hanya karena dengan modal melambai-lambaikan tangan bisa mendapatkan uang. Saya pun pernah punya pengalaman dimana dengan enteng dan tanpa merasa bersalah client saya mengambil ide saya dan membuatnya sendiri tanpa ia membayar hak saya dari ide yang saya kembangkan tersebut. Contoh-contoh lain bisa anda dapatkan sendiri di koran-koran karena kasus-kasus seperti ini yang kalibernya kakap banyak sekali terjadi.

Baru-baru ini hal serupa terjadi juga pada Voice Of Jakarta, sebuah radio internet yang sudah ada sejak tahun 2004. Salah seorang pengguna Facebook yang menggunakan nama Hj. Sutiyoso meniru Facebook Group VOJ yang dimiliki oleh radio ini yang lalu akhirnya membuat kebingungan pada pengunjung dan pendengar radio VOJ ini. Mungkin modus nya mereka ingin mendapatkan jumlah anggota dengan cepat dengan cara “menipu” para pengguna Facebook. Kemungkinan motif-motif lain bisa diurut dan saya pikir anda semua bisa mengembangkannya sendiri apa yang diinginkan oleh seseorang yang mencuri identitas pihak lain.

Apa yang salah dengan bangsa kita? Apakah ketika sesuatu ingin dicapai maka etika dan respek terhadap orang jadi sesuatu yang tidak lagi penting?

Bagaimana menurut anda?

Vox – Pada Awalnya

December 29, 2008 by Admin  
Filed under SimakMusik

Haa……? Saya beberapa kali mengusap kuping saya seolah tak percaya ketika menyimak track pertama dari album debut grup Vox asal Surabaya bertajuk “Pada Awalnya”.Dari intro yang diawali ketukan drum,lalu gitar telah membawa saya ke sebuah era masa lampau……tepatnya 60-an. Ya betul apalagi intro lagu ini betul-betul memorable yaitu “Wouldn’t It Be Nice” The Beach Boys dari album masterpiece-nya “Pet Sounds”.

Hmmmm…….kemanakah citarasa musik yang akan dibawa kelompok yang digawangi Josep Sudiro (bas,vokal), Donnie Setiohandono (piano, Rhodes, Harmmond, vokal), Vega Antares Setianegra (gitar elektrik, akustik, vokal) dan Gabriel Mayo Riberu (drums, vokal) ini?. Tampaknya mereka tengah silau dengan wabah musik pop era 60-an yang kadung disebut “sunshine pop” atau “power pop” dan lain sebagainya. Musik Beat memang tengah melanda dunia. Beach Boys sendiri mengaku terpengaruh The Beatles. Dan Vox bahkan mencoba menyelusupkan pula arwah The Beatles dalam komposisi lagunya yang berjumlah 11.

Keempat pemusik Vox memang punya tugas berat. Karena mereka pun menyanyi. Harus membagi harmoni vokal yang telah ditata Donnie Setiohandono.

Pada lagu “Oh Well” dengan cerdik Vox kembali menyulam aura lagu “God Only Knows” nya The Beach Boys. Permainan slide gitar Vega di lagu ini justeru mengingatkan kita pada karakteristik George Harrison dari The Beatles. Lalu di bagian koda pendengar diberi ilusi seolah terjebak deja vu aura “All You Need Is Love” nya The Beatles dengan tumpukan bebunyian brass section yang dimainkan Indra Aziz, Ijo dan Teguh. Dan mendadak kita pun bisa mengingat aura Paul McCartney pada lagu “My Baby Blue”. Apalagi ditambah arransemen brass section yang dibuat Ramondo Gascaro dari grup Sore yang mau gak mau mengingatkan saya pada “Getting Better” The Beatles (Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band). Atmosfer serupa pun tersimak pada lagu “Menjadi Dewasa” dan “Apapun Itu”.

Vox tampaknya berupaya keras pula untuk membuat lirik yang tak dangkal.Sepintas mereka lebih banyak menomosatukan ekspresi.Liriknya singkat tapi padat makna.
Simak ketika vox bercerita tentang persahabatan dalam lagu “Ingatkah Pertama” :

Ingatkah pertama kau terhenti
Dan berjanji untuk mencoba kembali
Ingatkah pertama kau menyerah
Hingga saat terakhir kau hembuskan nafas

Dan simak bagaimana vox mengungkapkan kota kelahirannya Surabaya dalam “Surabaya # 1?

walkin’ down the river, walkin’ down the river
I was born when the moon was gone
kissed the sky of Surabaya’s sunshine
I got my blues right below my shoes
it just the life that I cannot choose
I rest my soul in the rock and roll
I am the son of our traffic sounds

Jika jenuh dengan berkelebatnya band-band yang tipikal belakangan ini, Vox layak disimak.

TRACKLIST

1. PADA AWALNYA
2. GOING DOWN
3. OH WELL
4. MY BABY BLUE
5. AK.SA.RA.
6. PAGI
7. INGATKAH PERTAMA
8. MENJADI DEWASA
9. APAPUN ITU
10. DEAR LORD
11. SURABAYA # 1

JUDUL ALBUM: PADA AWALNYA
ARTIS: VOX
LABEL: AKSARA RECORDS
TAHUN: 2007
PRODUSER: DAVID TARIGAN & JOSEPH SUDIRO

DENNY SAKRIE
0818417357

Desain Baru Website Voice Of Jakarta

December 29, 2008 by Admin  
Filed under Dari Redaksi

Halo,

Akhirnya setelah beberapa saat lamanya menunggu waktu yang lowong dan juga template yang tepat, akhirnya desain baru website Voice of Jakarta jadi juga. Themes yang kami pakai adalah themes yang dibuat oleh Brian Gardner yang kebetulan saya pernah jadi customernya beliau. Themes yang namanya adalah Revolution Church ini merupakan turunan dari themes sebelumnya yang namanya Revolution Music, dan yang saya suka adalah ada featured gallery nya dan juga untuk menyisihkan thumbnail-thumbnail didepan jadi lebih mudah.

Silahkan memberikan komen berupa masukkan-masukkan pada kami, dan untuk itu kami ucapkan terima kasih…:-)

salam,

-Admin-

Lambert, Hendricks, and Ross

December 26, 2008 by Alfred Ticoalu  
Filed under Nuansa Jazz

Lambert, Hendricks and Ross merupakan salah satu kelompok vokal Jazz terhebat sepanjang masa. Tanpa mereka tidak akan ada yang kita ketahui sekarang seperti Manhattan Transfer, LA Voices, New York Voices, dan lain-lain. Dave Lambert, bersama Buddy Stewart, adalah 2 orang pertama yang menyanyikan style Bop secara keseluruhan. Tak heran julukan Lambert adalah “The Oldest Living Bop Singer”. Jon Hendricks dikenal sebagai penyanyi dan juga penulis lirik yang amat handal. Sesukar apapun sebuah komposisi dapatlah dibuat dan dimasukkan lirik oleh Jon Hendricks. Hal yang sama juga dimiliki oleh Lambert namun untuk LH&R lebih kental peranan Hendricks ketimbangnya. Annie Ross, dari Inggris, sebenarnya adalah seorang artis teater dan juga merupakan guru olah suara. Namun dengan kapasitas suaranya yang handal dan kemampuannya untuk berimprovisasi, tak salah dia ditarik masuk sebagai anggota ketiga dari kelompok ini.

Style musik mereka mencakup semua jenis yang ada di Jazz namun satu keistimewaan membuat hal ini wajib dijadikan sebuah kategori terpisah. Style dari kategori ini dinamakan “Vocalese.” Apakah itu? Kala seseorang mengambil sebuah lagu yang sudah pernah dimainkan oleh seorang musisi lain dan juga diambil solo improvisasi yang dilakukan oleh musisi itu, kemudian diberikan lirik, dan dinyanyikan nada demi nada, dus itu adalah “Vocalese.” Sebuah tekhnik yang pertama kalinya digunakan oleh musisi seperti King Pleasure dan Eddie Jefferson. King dikenal atas karya vocalese-nya terhadap karya saxophonist James Moody, “I’m in the Mood for Love” alias “Moody’s Mood for Love” sementara Eddie Jefferson dikenal atas karya vocalese-nya atas karya Charlie Parker, “Parker’s Mood.”

Dave Lambert lah yang pertama kali memikirkan penggunaan metoda Vocalese ini terhadap sebuah kelompok musik alias “vocal group”. Pada saat yang bersamaan Jon Hendricks juga memikirkan hal yang sama, dan tak lama kemudian setelah mereka bertemu, dimulailah sebuah hubungan kerja profesional yang berlangsung sampai tewasnya Dave Lambert dalam sebuah kecelakaan yang terjadi di ruas jalan tol New Jersey (New Jersey Turnpike) di tahun 1966. Dikenal sebagai seorang yang murah hati, Lambert berusaha membantu orang yang ban mobilnya pecah; dan kala sedang berusaha mengganti ban tersebut lewatlah sebuah truk yang seketika menghisap dan melindasnya. Sebuah akhir hidup yang tragis dari seseorang yang sangat tinggi bakat dan sumbangannya kepada dunia musik.

Sebelum kecelakaan itu terjadi Annie Ross sudah meninggalkan kelompok tersebut (1962), kembali ke Inggris, karena masalah kesehatan dan juga karena masalah izin kerja yang sudah habis. Kalau anda pernah mendengar nama kelompok Lambert, Hendricks and Bavan, maka inilah kelompok yang dibentuk sesudah perginya Ross. Bavan adalah dari nama sang penyanyi baru, Yolande Bavan, seorang wanita Asia yang berasal dari Ceylon atau Sri Lanka sekarang. Namun tak lama setelah itu, dengan meninggalnya Dave Lambert, bubarlah kelompok ini untuk selamanya.

=====

NB: Tulisan pendek  di atas dibuat untuk seorang pendengar Nuansa Jazz yang bertanya soal kelompok ini setelah mendengarkan edisi spesial Natal Nuansa Jazz (yang mana sebuah lagu karya LH&R terdengar). Sebagai bonus akan gw mainkan lagu-lagu karya kelompok ini di beberapa edisi Nuansa Jazz yang akan datang.

Salam hangat,

Alfred D. Ticoalu
Chicago, IL
25 Desember, 2008

Musik Natal + Jazz @ Nuansa Jazz

December 18, 2008 by Alfred Ticoalu  
Filed under Nuansa Jazz

Untuk menyambut datangnya hari raya Natal Nuansa Jazz akan menampilkan berbagai lagu pilihan yang pada dasarnya lagu-lagu Natal yang sudah umum diketahui namun kali ini diberikan sentuhan Jazz menarik.  Salah satu yang terpilih adalah sebuah lagu Natal unik yang ditulis oleh Thelonius Monk. Lagu ini ditulis oleh beliau dan kemudian terkubur bertahun-tahun dan tak diketahui selain oleh orang-orang tertentu. Akan hadir dua buah versi: instrumental piano oleh Benny Green dan vokal oleh Dianne Reeves. Dan tentunya akan dimainkan pula beberapa lagu Natal dengan sentuhan Jazz dari musisi negeri kita seperti Indra Lesmana, Ireng Maulana, Margie Segers, dan lain-lain.

Jadi jangan lupa untuk untuk mendengarkan edisi Nuansa Jazz Sabtu ini, 20 Desember, 2008 jam 9:00am CST, 22:00 WIB, atau 23:00 Singapore. Akan ditayangkan ulang pula di minggu selanjutnya.

Salam hangat,

Alfred Ticoalu

Membayangkan: Hidup Tanpa Kebencian

December 8, 2008 by Admin  
Filed under Sekitar Kita

foto oleh jimjarmo

Tragedi kembali terjadi lagi. Belum hilang ingatan kita ketika para teroris membom beberapa tempat di Bali dan menyebabkan 200 orang lebih meninggal dunia. Kini dunia dihadapkan pada peristiwa serupa yang terjadi di Mumbai, India. Lebih dari 150 orang meninggal ketika teroris membom empat buah tempat, menahan sandera serta membunuh sandera-sandera tersebut. Sama seperti ketika bom Bali terjadi, para pelaku menargetkan orang-orang yang berasal dari negara-negara barat seperti Amerika, Inggris dan juga bangsa yang dianggap sekutu barat, Yahudi.

Mohon maaf, saya tidak akan mendiskreditkan religi, kepercayaan atau faham di sini, tapi seperti yang saya yakini, semua religi dan kepercayaan tidak ada yang menganjurkan kita berbuat jahat terhadap orang lain walaupun ada perbedaan faham dengan kita.

Dua tragedi yang terjadi di atas jelas didasari oleh kebencian. Kebencian yang sudah berakar dan mendarah daging. Kebencian yang sampai saat ini saya tidak bisa mengerti menagap harus terjadi. Sedikitnya ada tiga agama yang terlibat dalam lingkaran kebencian di dunia ini dan mereka mulai menularkan benih-benih kebencian tersebut ke kelompok-kelompok lain. Dan ironisnya ketiga agama tersebut berasal dari orang yang sama, dan bangsa yang sama, Ibrahim (atau Abraham). Bagi umat Kristiani, Isaac (Ishak) anak dari Abraham (Ibrahim) adalah titik mulainya agama mereka ketika pada saat itu muncul perintah YHWH (sebutan Tuhan oleh bangsa Yahudi) kepada Abraham untuk mengorbankan anaknya (Isaac). Buat umat Islam, diyakini bahwa mulainya agama Islam adalah dari Ismail (Ishmael) saudara dari Ishak, dimana menurut Al Quran, Ismail lah yang di perintahkan untuk di korbankan oleh Allah kepada Ibrahim untuk menguji kesetiaannya terhadap Allah. Abraham sendiri disebut sebagai bapak bangsa Semit (Arab & Israel).

Cerita di atas adalah cerita yang saya dapatkan dari sejarah. Masih ada missing link yang besar, mengapa mereka mesti saling membenci? dan mengapa Agama yang kita peluk yang seharusnya menjadi life-guidance buat kita semua justru mereka jadikan sebagai dasar dari kebencian tersebut? Dan yang sangat ironis adalah di negara kita pun ada orang-orang yang memiliki pandangan yang didasari kebencian serupa. Coba simak komen-komen yang masuk menanggapi blog entry di sini, jelas sekali banyak yang pro terhadap kebencian tersebut dan banyak juga yang menanggapi balik dengan kebencian serupa. Apa yang terjadi dengan Indonesia yang cinta damai? Indonesia yang punya toleransi tinggi terhadap perbedaan?

Kalau sudah begini saya jadi ingat apa yang John Lennon bilang dalam lagu karyanya, Imagine:

Imagine there’s no Heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

You may say that I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world

You may say that I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will live as one

Still wondering til now. Will it be happening to us?

Karya dan Uang

December 5, 2008 by Elyasa  
Filed under Celotehan

Geliat sastra dan perbukuan di Indonesia perlahan naik daun. Berbagai jenis buku yang beredar di pasaran semakin beragam. Hal ini juga yang membuat banyak sekali penerbit-penerbit baru yang bermunculan, ataupun penerbit lama yang belum punya nama berusaha mengambil keuntungan dari fenomena yang terjadi. Keuntungan yang dimaksud bukan hanya nama besar, tetapi lebih kepada materi atau uang.

Penghargaan terhadap sastra baik itu prosa, cerpen, maupun puisi dapat kita temui setiap tahunnya. Salah satu acara penganugrahan sastra nasional yang sarat dengan hadiah berupa uang baru saja terjadi di salah satu Mal di dearah Jakarta Selatan. Selain itu lomba-lomba penulisan baik itu cerpen, cerbung, atau hanya sekedar surat cinta sudah menjadi agenda tahunan. Para penulis banyak yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan mendapatkan hadiah serta nama besar.

Hal ini memang terlihat positif bagi perkembangaan sastra dan karya. Namun apakah berkarya harus selalu didasari oleh materi. Apakah benar penulis hanya bisa berkarya dalam rangka memenuhi agenda tertentu. Melimpahnya uang yang diterima oleh penerbit dan penulis merupakan fenomena tersendiri yang bisa menjadi motivasi berkarya dan menerbitkan buku. Tentunya ada juga kelemahan dari fenomena ini, dimana para penulis dan penerbit berlomba-lomba menerbitkan buku yang sejenis dengan buku-buku yang menjadi best seller. Saat hal ini terjadi akan menyebabkan penurunan kreatifitas para penulis yang sudah ter mind set untuk berlomba-lomba menjadi terkenal dan kaya.

Sebenarnya situasi seperti ini sudah ada sejak lama, dimana ada dua kelompok penulis. Kelompok penulis yang pertama adalah kelompok yang berkarya demi karya itu sendiri, dan yang kedua adalah penulis yang berkarya demi uang. Bukan berarti menulis itu tidak menghasilkan, menulis bisa menjadi sebuah pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Namun yang menyedihkan adalah saat tulisan atau karya yang beredar di pasaran merupakan karya-karya ‘sampah’ yang hanya mendompleng kepopuleritasan dari jenis karya atau buku yang menjadi best seller.

Pertanyaan besarnya adalah, apakah ideology dari dasar berkarya itu sudah mati? Apakah seseorang hanya berkarya demi uang? Contohnya adalah seperti penulis-penulis muda yang berusaha mati-matian untuk mencoba menulis seperti Habiburahman dan Andrea Hirarta. Lalu kemana kreatifitas dan orisinalitan yang seharusnya menjadi dasar dari sebuah karya.

Karya itu sendiri sebenarnya adalah ‘anak’ dari penulis. Saat penulis menghasilkan sebuah naskah cerpen, cermin, puisi, atau novel mereka seharusnya merasa bangga dan senang walaupun karya mereka tidak di terbitkan, atau diterbitkan namun tidak menjadi best seller. Memang kebanggaan seorang penulis adalah pada saat karya mereka dibaca. Yang menjadi masalah adalah apakah karya mereka itu mencerminkan kepribadian, kreafitas, orisinalitas dari si penulis.

Pantaskah sebuah karya tulis dinilai dengan uang? Jawabannya mungkin terletak pada individu masing-masing penulis. Sayangnya, sudah sedikit penulis yang berkarya untuk karya itu sendiri. Jadi fenomena saat ini adalah berkarya untuk kaya. Secara langsung fenomena ini ‘membunuh’ kreatifitas dan perkembangaan dunia sastra di Indonesia. Karena penulis sudah ter mind set untuk menelorkan karya yang populer atau best seller, hal ini menyebabkan hancurnya keberagaman karya yang ada.

Penulis bukanlah satu-satunya aspek yang menjadi tolak ukur. Seorang penulis tidak akan bisa menerbitkan karyanya tanpa campur tangan penerbit, kecuali penulis ingin menempuh jalan self publish yang membutuhkan biaya besar. Disinilah letak tanggug jawab penerbit. Penerbitan tentunya adalah sebuah media usaha yang berbasis komersil. Penerbitan biasanya hanya akan menerbitkan buku-buku yang memang sedang ‘panas-panas’nya atau hanya menerbitkan naskah-naskah dari individu yang sudah memiliki nama.

Walaupun banyak penulis dan penerbit yang menutup mata akan hal ini. Sebenarnya hal inilah yang membuat perkembangan sastra menjadi stagnan. Penerbitan harus berani mengambil resiko dengan menerbitkan naskah dari individu yang belum memiliki nama di kancah sastra nasional, dengan syarat naskah yang diterbitkan haruslah berkualitas. Tapi sepertinya hal ini masih jauh dari mungkin. Penerbit yang memang profit oriented nampaknya enggan mengambil langkah ini demi perkembangan sastra nasional. Padahal banyak karya sastra yang baik namun berasal dari ‘orang baru’.

Untungnya sekarang banyak media yang memungkan seorang penulis, sehingga karyanya diapresiasi oleh orang lain. Yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah mereka memang murni berkarya atau merintis karier sehingga bisa menembus barikade yang telah dibuat sendiri oleh penerbitan? Jika memang demikian apakah esensi dari berkarya itu masih menjadi ideology atau hanya untuk meraup materi semata? Jika hal ini terjadi, maka pantaslah jika karya sastra identik dengan materi berupa uang.

Aulya Elyasa


VOJ @ JakJazz

December 2, 2008 by Elyasa  
Filed under Jakarta Kita

Bulan November 2008, pada tanggal 28, 29, dan 30 VOJ menjadi media partner resmi dari JakJazz 2008. Akhirnya VOJ mengirimkan dua orang VJ mereka yaitu Uly a.k.a Elyasa (Sastra dan Kita) dan Gito a.k.a Inggita (Manifesto), dan juga seorang fotographer handal yang langsung bertolak dari Singapore bernama Budi a.k.a Imaji. Kami bertiga dengan tangguh dan tanpa lelah meliput segala yang terjadi pada salah satu event Jazz terbesar di Indonesia itu. Semuanya demi para pendengar setia VOJ yang penasaran mengenai JakJazz 2008.

Pada hari pertama Uly dengan semangat mewawancarai penonton yang kebetulan sedang istirahat. Imaji dengan gagah dan perkasa, tanpa lelah mengarahkan kameranya untuk mengabadikan suasana yang sangat menarik dan asik. Begitu juga dengan Inggita yang dengan sabar membuat laporan acara secara lengkap untuk disiarkan. Penampilan penutup oleh TOMPI sangat mengugah suasana, rasa ngantuk dan lelah seakan hilang dari wajah penonton yang hadir. Selain TOMPI hari pertama juga menampilkan Devian, Maliq and D’Essential, serta Idang Rasidi and friends

Hari kedua ternyata tak seramai hari pertama. Tetapi pada hari kedua JakJazz, VOJ memutuskan untuk mengadakan Kuis On The Road. Kuis ini bertujuan untuk membagi-bagikan tiket gratis, dengan cara memberikan pertanyaan seputar Jazz. Uly yang menjadi koordinator Kuis On The Road ini, dengan gigih mencari orang-orang yang menjadi “korban” untuk ikut kuis. Tanpa diduga, antusiasme orang sangat luar biasa.

Inggita bertugas untuk mewawancarai Sister Duke pada hari kedua ini. Penonton dihari kedua umumnya orang tua tidak seperti hari pertama yang dipadati oleh remaja dan ABG. Penampilan menggugah dari Barry Likumahuwa dan Daniel Sahuleka menjadi yang terbesar di hari kedua.

Hari terakhir yang merupakan hari penutup event JakJazz 2008 berlangsung pada hari minggu tanggal 30 November. Sayangnya pada hari terakhir ini Imaji tidak bisa bergabung bersama kami, karena dia harus segera bertolak balik ke negara asalnya. Setelah Uly dan Inggita berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk meminta bantuan dari dua orang VOJers. Arik dan Nina terpilih menjadi orang yang beruntung. Arik bertugas menggantikan Imaji, dan Nina mendapat kesempatan untuk mewawancarai Gugun and The Bluesbug.

Uly pada hari ketiga mengadakan kuis On the Road di salah satu mal di daerah Jakarta Selatan. Setelah itu Uly langsung bertolak ke Senayan, karena sudah ada jadwal Interview dengan DIva Jazz Indonesia Syaharani. Sehabis mewawancarai Syaharani, Arik dan Nina baru datang bergabung. Arik langsung menjadi seorang fotographer handal dan mengabadikan sesi wawancara Uly dengan MOMENTO. Arik juga mengambil gambar para pemenang kuis.

Inggita yang baru datang jam 7 malam WIB, langsung mengejar RAN. RAN adalah Boy Band baru tanah air yang sedang naik daun. Baru jam 9 malam WIB, Inggita berhasil menemui RAN dan mewawancarai mereka. Uly yang ikut menemani Inggita sebagai sidekick, langsung mengabadikan inggita yang sedang wawancara.

Hari ketiga diisi oleh artis-artis top seperti Syaharani, Kiboud Maulana, Yellow Jackets, Sister Duke, dan banyak lagi. Pada akhir acara sekitar jam 1 dini hari, acara ditutup dengan penampilan spektakuler dari artis-artis Jazz papan atas Indonesia. Setelah berakhirnya penampilan kolaborasi tersebut, bukan berarti tugas VOJ berakhir. Kami masih harus mengedit hasil rekaman dan foto-foto yang kami dapatkan, sehingga pendengar setia VOJ bisa ikut menikmati liputan kami. Jadi jangan lewatkan siaran khususnya yang akan dipandu oleh Chloe.

-The end of Paint a Whole Lotta Jazz-

-Sampai ketemu lagi di JakJazz 2009-