Jimi’s Journal
October 30, 2008 by Admin
Filed under VOJ Updates
Halo,
Hanya ingin mengumumkan bahwa kami akan mengganti nama acara Late Nite with Jimi dengan nama yang lebih relevan bagi pendengar di seluruh dunia. Dan nama yang akan kami pergunakan adalah Jimi’s Journal, sehingga kali ini tidak akan ada lagi kerancuan waktu ketika membaca nama acara ini.
Satu hal lagi, ada kemungkinan acara ini akan dibuat recorded juga dengan komposisi kapan saja yang recorded dan kapan yang live akan ditentukan lebih lanjut.
Sekian pengumuman dari saya.
Aku Dengar Alfred Ticoalu Memutar Jazz
October 23, 2008 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz
Tak disangka, tak diduga. Seorang pendengar Nuansa Jazz, penyair ternama Hasan Aspahani, mendapat inspirasi untuk menulis sebuah puisi kala mendengaran edisi spesial gitar jazz. Dengan izin beliau, berikut terlampir puisi tersebut. Sekali lagi, terima kasih Bung Hasan!
Jangan lupa untuk mengunjungi blog beliau. Di sana anda bisa temukan banyak karyanya.
Selamat menikmati.
NB: Terima kasih juga untuk semua pendengar Nuansa Jazz; terutama mereka yang kala edisi spesial gitar jazz mengudara memberikan berbagai saran dan komentar. Beberapa saran yang masuk secara langsung memberi ide baru untuk edisi-edisi spesial berikutnya. Jadi, tunggu saja tanggal mainnya!
============================
Aku Dengar Alfred Ticoalu Memutar Jazz
/1/
Gerimis, aih, yang semakin genit,
menari menunggangi menit-menit
/2/
Gerimis, aih, yang semakin berlapis,
derap baris, menebal di tepi pelipis
/3/
Adakah gerimis yang tak sampai?
Ia yang terkibas, sangkut di lambai
lambai yang lekas, kembali bergegas,
jangan aku memungut bekas-bekas.
/4/
Jangan percaya pada cuaca,
kata nasihat lama, angin bisa
berdusta, gerimis bisa ia
permainkan sesuka hatinya….
/5/
Siapa memetik senar sepimu? Lepas
lagu demi lagu, meningkah jantungmu
Berdentingan, dan kau curiga pada
jemari gerimis itu, ia ciptakan jazz
bersama angin yang parau mengembus
dari lorong kosong paru-parumu
/6/
Kemana kau cari riuh gerimismu?
di lekuk kelok sungai tak ada
/7/
Aih, akhirnya, reda jua, kau redakan
sepimu, sepi redakan gerimismu,
gerimis meredakan degup jantungmu.
Siapa yang akan bilang selamat tinggal?
Manifesto In Tunes
Lagu kedua edisi pertama Manifesto adalah lagu lama dari Oppie Andaresta, Untung vs Buntung, apa lagi kalau bukan tentang sunat-menyunat dan korupsi sana-sini. Jadi inget waktu gue lagi di Aceh bareng Aulia, mitra LSM untuk keliling mbagiin school supplies ke sekolah-sekolah darurat, cerita… dia terpaksa bikin pengumuman palsu bahwa program sudah dihentikan dan para guru bantu yang honornya udah minim banget, diberhentikan – ini hanya untuk menghindari penyunatan honor oleh pak kepala sekolah! Ampun deh. Kesian banget si ibu-ibu itu, udah ngajar enggak jelas honornya, masih dipalakin juga. Kayaknya pas tuh manifestonya Oppie untuk nyindir para koruptor kecil-kecilan… untung koruptor kelas kakap kali kudu dengerin lagu tentang tikus-tikus kantornya Iwan Fals…
Setelah itu agak santai dengerin bluesy tunesnya Andre Harihandoyo yang kali baru putus cinta, “The Break Up” yah namanya juga blues, mesti ceritanya sedih dong… naaah, abis itu abis kita disindir-sindir lagi sama Naif dengan “Televisi” – hehe emang kita suka gila televisi – abis masuk rumah, gantung kunci, copot sepatu, lempar tas, langsung nyalain tivi deh, padahal engga ditonton juga… Naif ini adalah band paling unik di Indonesia, dimana tema musik yang diusung adalah musik jaman Koes Plus lengkap dengan dandanannya yang wow asoy geboy!!! Naif is all about attitude… selain musik, dandanan, juga stuntnya…. Mereka pernah mbagiin albumnya for free… sekarang mereka sedang merilis A Night at Schowburg… hidup Naif!
Voiztas, pernah enggak merasa kesal karena terjebak macet? Kalau yang penghuni Jakarta pasti sudah biasa ya… dan mungkin sudah pasrah juga… Gue sempat terjebak macet di malam takbiran karena lewat By Pass (Ahmad Yani) yang dipenuhi truk-truk dan metromini penuh manusia yang ingin rame-rame… atau malah bikin ribut… Truk mereka parkir di tengah jalan sementara mereka ngelempar petasan dan nabuh beduk… tinggal kita yang kesel karena masih harus nganter opor ketupat kesana kemari… akhirnya sampe di rumah tengah malem… Yah, namanya juga mohon maaf lahir batin, hahahahaaaaa jadi bikin dosa aja jor-joran biar minta maapnya berasa…
Nah, kalo kesel, yang keren kayak Endah dan Rhesa nih… mereka kayaknya gondok sama dosennya yang sok killer tapi kuliahnya enggak mutu (voiztas, pernah kan punya dosen kaya gini?)… langsung deh mereka menyenyong tentang si dosen itu dalam “Bad Lecturer”… hehe
Masih seputar Hari Raya Lebaran, pernah gak kita mikir, kita ini ibadah karena bener-bener khusuk untuk Yang di Atas, atau karena perhitungan dosa-pahala? Nah ini yang dipertanyakan Chrisye dalam lagu “Jika Surga+Neraka Tak Ada” hasil kolaborasi dengan Ahmad Dani – keren nada-nada minornya…
MORE EDGY TUNES AT MANIFESTO….
Voiztas, kalo punya band indie, atau ada temen yang punya band indie, silahkan mampir di Manifesto… Big ideas and bold attitudes in music are welcome…
Pertama kali ngeliat albumnya Agrikulture, grafisnya keren juga… ternyata lagu-lagunya juga keren, yang diputer disini, “New Day”, diawali dengan newscast bo’ongan yang dengan seriusnya ngelawak, katanya “wah ada laporan jumlah pengangguran, semuanya laki! Jadi yang kerja semuanya cewe…” Kayaknya ini ditujukan untuk pacar cowo yang males dan diomel-omelin ama ceweknya yang gedek sama dia…
Salah satu rapper yang baru merilis album pertamanya adalah Pandji Pragiwaksono, penyiar heboh Hard Rock FM dengan programnya Provocative-Proactive, persis kaya judul albumnya. His attitude is all over this album, dari kisah jujur dia waktu kecil di-bully temen-temennya, bahkan juniornya!hihihi lucu yah… Semangat bela negara dan rasa sayangnya untuk keluarganya, ibunya yang cerai, istrinya yang suka dijailin, perasaannya jadi seorang ayah, ada semua disini… Keistimewaan Pandji tidak berhenti disitu: album ini diawali lagu yang menyuruh kita pendengarnya membajak lagu tersebut… dan kabarnya sih keuntungan dari penjualan album ini akan dibagi dengan C3 yaitu LSM yang membantu “children with cancer”. Lagunya Pandji yang diputer di Manifesto, “Ada Yang Salah” berkolaborasi dengan Tompi si suara helium, engga tanggung-tanggung nyindir orang2 munafik yang suka sok nasionalis dan menghujat rap sebagai “budaya Amerika” AHA! Pandji nge-rap: “serangan balik ala M-U kalo gitu jeans yang lo pake dari mana? Cisitu??” Bwahahahahahaaaaaa.
Komposisi2 dari album Garasi buat saya terdengar sangat edgy… Inilah band terunik karena lahir dari sebuah movie berjudul sama, dan sampai sekarang masih bermusik di bawah nama itu. Lagu “Bukan” adalah salah satu di antaranya.
Edisi pertama Manifesto ditutup dengan Plastik yang agak slenge’an, sangat energetik, dan asik…
salam/peace,
Inggita “Gito” Notosusanto
Welcome to Manifesto!
Hello world! (biasa kalau baru mulai nge-blog disuruh nulis gini dulu)
Welcome to Manifesto, an hour of great ideas, unique tunes, brilliant people, bold attitude…
So, voiztas, all of you VOJ listeners all over the globe, “What is your manifesto for this world?”
Wha’eva it is, shout it out… do not let your voice be unheard!
Manifesto pertama dimulai dengan pekik Netral “Lintaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang….” Yeaaaaah….
Yup, it’s my favorite song out of the Laskar Pelangi the movie-inspired tunes album, about one of the movie’s characters, the gutsy genius, Lintang, who has to pedal 80km of his way to school everyday, beating morning traffic of a large crocodile sunbathing on his bike trail.
Bayangkan, tiap hari si kecil ini harus mengayuh sepeda begitu jauh “hanya” untuk pergi ke sekolah, dan harus menunggu buaya lewat pula! Saya menunggu kereta lewat di jalan Pramuka aja udah ngomel-ngomel kena macet… kalau telat kan disetrap disuruh lari keliling lapangan! Inilah salah satu kekuatan kisah Laskar Pelangi, yang konon kisah sejati penulisnya, Andrea Hirata, growing up in Belitong Island. Pantasan Netral terinspirasi membuat komposisi musik cadas tentang anak jenius yang harus putus sekolah karena kemiskinan ini. Entah si buaya itu bener-bener ada atau tidak, tapi kisahnya benar-benar mengharukan – you have got to read at least that part… I cried when I’m reading the crocodile part… Yang lagi di luar Indonesia, pesan dong novelnya…
Jakarta, bahkan Indonesia, sedang “demam” Laskar Pelangi – semua antri ingin nonton film yang diilhami novel bestseller Laskar Pelangi. Tampaknya sih jumlah penonton sudah memecahkan rekor, sama seperti bukunya, yang dalam waktu tiga tahun saja sudah mencapai angka 700 ribu – dan ini belum termasuk bajakannya! Dee-dee my team member at the office reported: Mbak, di stasiun kereta ada lho yang jual bajakannya di emperan! Gila nggak suksesnya buku ini, 600 halaman lebih tapi masih dibajak juga. Tampaknya di tengah segala berita brengsek di media tanah air, dan bacaan-bacaan sensasional, publik pembaca haus dengan pengalaman menakjubkan dari sudut pandang inosen seorang anak, growing up in poverty and inequality, tapi bisa menjalani itu semua dengan kebahagiaan dan kenangan manis.
Laskar Pelangi ini “perjalanan hidup”nya sebagai sebuah judul buku dan kini film juga sama menariknya sampai-sampai dibikinkan buku lagi “Fenomena Laskar Pelangi” yang juga mengisahkan para pembacanya yang berubah jalan hidupnya setelah membaca novel ini. Lain kali kita ngobrol lebih banyak tentang LP ini ya…
salam/peace,
Inggita “Gito” Notosusanto
Manifesto for a Consumptive World
October 22, 2008 by inggita
Filed under Kabar-Kabari
Comments Off
Radio kayu yang imut dan minimalis ini ternyata sarat cerita dan pembelajaran. Dari perbincangan MANIFESTO edisi 17 Oktober 2008 dengan Singgih Susilo Kartono, desainernya, terungkap bahwa Magno, seri radio kayu keluaran studio desain dari Temanggung ini merupakan reaksi dia atas ‘kelakuan’ kita yang sangat konsumtif dan gemar ‘nyampah’, saban ada model gadget baru, yang lama dibuang, menimbulkan sampah yang sukar terurai dan mencemari lingkungan. “Jangan beli kalau tidak bisa memelihara!” ucapnya. Pilihan material kayu ingin mengingatkan kita bahwa hidup ini ada batasnya, karena kayu suatu saat akan lapuk tidak seperti plastik dan material ‘modern’ yang menjanjikan kehidupan abadi namun tidak ramah lingkungan. Pada Magno ”personal” radio, tidak ada skala frekuensi karena Singgih ingin menyatakan bahwa kita harus punya hubungan dengan benda-benda milik kita, bukan hanya memakai atau membanggakannya saja. Apabila kita sudi sedikit berpayah mengasah “feeling”, kita akan bisa menemukan radio station kesayangan kita. Radio ini sangat ‘bersih’ tanpa banyak tulisan di permukaannya yang tidak dipernis, juga menonjolkan desain yang ‘hangat’ dengan pasak kayu bahkan karet dan kancing untuk mekanisme penutup tempat baterainya.
Dengarkan obrolan dengan Singgih Kartono, tamu MANIFESTO yang pertama, perjalanan hidupnya, perjuangannya melatih karyawan dan membesarkan usaha kecilnya, dan prinsip-prinsip di balik kreasinya, seri radio kayu Magno yang kini tengah bertarung di People’s Award dari Cooper-Hewitt Design Museum di New York City. Sudah banyak yang memberi dukungan bagi Magno berupa vote - sudahkah Anda voting? Kunjungi www.magno-design.com untuk mengakses voting page People’s Award.
Vote for Singgih’s Wooden Radio
Salah satu desainer produk Indonesia kembali menorehkan kebanggaan buat kita semua bangsa Indonesia, kali ini Singgih Kartono, nama desainer produk tersebut hasil karyanya yaitu Radio Kayu Magno masuk dalam nominasi People’s Design Award yang diadakan oleh Cooper Hewit - National Design Museum di New York City. Untuk mendukung Radio Kayu Magno nya Singgih ini silahkan vote di sini agar Radio Kayu Magno nya Singgih ini bisa naik urutannya, sekalian anda bisa melihat wujud rupa Radio Kayu ini…:-)
What is your MANIFESTO to the world? Whatever it is… DO NOT LET YOUR VOICE BE UNHEARD…
October 13, 2008 by Admin
Filed under VOJ Updates
Helo voicesters… Mari kita ucapkan selamat datang buat MANIFESTO - inilah ruang tempat berbagi kisah dan musik unik, bersama Inggita Notosusanto tiap Jumat jam 7 malam WIB, dengan tayang ulang tiap hari jam 7 malam.
Jangan lewatkan episode perdana hari Senin tgl 13 Oktober 2008 jam 12:30 WIB
Jangan lupa kirimkan musik dan kisah Anda, terutama bila Anda punya band indie, ke manifesto@voiceofjakarta.com
Welcome to MANIFESTO! For voicesters, Voice of Jakarta listeners, this is a space to share your unique story, creations, passions, personal discoveries, and personal worries…
and, of course, music for the free souls…
An hour with Inggita Notosusanto, every Friday 8pm Singapore time… with reruns every day at 8pm
Tune in for its debut episode on Monday, October 13th, 2008, at 10am Singapore time.
For indie bands and alternative music, send in your music… for the rest of you, send in your stories - to manifesto@voiceofjakarta.com
Tayang Ulang Edisi Spesial Nuansa Jazz: Gitar Jazz, episode 1 & 2
October 9, 2008 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz
Terima kasih banyak kepada para pendengar yang telah menyimak kedua episode edisi spesial Nuansa Jazz dalam jangka 2 minggu terakhir. Atas banyak masuknya permintaan dari pendengar setia VOJ, dan Nuansa Jazz khususnya, yang berhalangan atau sedang keluar kota untuk menayangkan kembali kedua episode spesial Nuansa Jazz, kami mengambil keputusan untuk melakukannya.
Berikut jadwal tayang setiap episode:
Gitar Jazz, episode 1: 1890-1956
Sabtu, 11 Oktober, 2008 (22:00 WIB, 23:00 Singapore, atau 10:00am CST)
Selasa, 14 Oktober, 2008 (10:00pm CST) atau Rabu, 15 Oktober, 2008 (10:00 WIB, 11:00 Singapore)
Anda akan mendengarkan penjabaran secara lugas sejarah penggunaan gitar di Jazz melalui karya permainan berbagai musisi; antara lain: Vess Ossman, Eddie Lang, Carl Kress, Django Reinhardt, Freddie Green, Eddie Durham, Charlie Christian, George van Eps, Tal Farlow, dan lain-lain.
Gitar Jazz, episode 2: 1956 - sekarang
Sabtu, 18 Oktober, 2008 (22:00 WIB, 23:00 Singapore, atau 10:00am CST)
Selasa, 21 Oktober, 2008 (10:00pm CST) atau Rabu, 22 Oktober, 2008 (10:00 WIB, 11:00 Singapore)
Anda akan mendengarkan penjabaran secara santai dan lugas sejarah penggunaan gitar di Jazz melalui karya permainan berbagai musisi; antara lain: George van Eps, T-Bone Walker, Mary Osborne, Wes Montgomery, Buddy Emmos, Charlie Byrd, Derek Bailey, James Blood Ulmer, Jim Hall, Joe Pass, Pat Metheny, Charlie Hunter, dan banyak lainnya.
Jangan lupa untuk bergabung bersama kami di acara Nuansa Jazz dan selamat mendengarkan!
Salam hangat dan Jazz Always…
Alfred Ticoalu
Edisi Spesial Nuansa Jazz: Gitar Jazz, episode 2: 1956 - sekarang
October 2, 2008 by Alfred Ticoalu
Filed under Nuansa Jazz
Episode ini akan diputar ulang Selasa, 7 Oktober (10:00pm CST-Amerika) atau Rabu, 8 Oktober (10:00 WIB Indonesia, 11:00 Singapore).
========
Nuansa Jazz di hari Sabtu, 4 Oktober, 2008 (22:00 WIB, 23:00 Singapore, atau 10:00am Amerika CST) akan menampilkan edisi spesial: Gitar Jazz, episode 2: 1956 - sekarang. Anda akan mendengarkan penjabaran secara santai dan lugas sejarah penggunaan gitar di Jazz melalui karya permainan berbagai musisi; antara lain: George van Eps, T-Bone Walker, Mary Osborne, Wes Montgomery, Buddy Emmos, Charlie Byrd, Derek Bailey, James Blood Ulmer, Jim Hall, Joe Pass, Pat Metheny, Charlie Hunter, dan banyak lainnya.
Jangan lupa untuk bergabung bersama kami hari Sabtu ini dan selamat mendengarkan!
Salam hangat dan Jazz Always…
Alfred Ticoalu
Edisi Spesial Nuansa Jazz: Gitar Jazz, episode 1: 1890-1956
VOJ menjadi Media Partner JakJazz 2008
October 1, 2008 by Admin
Filed under VOJ Updates

Voice Of Jakarta menjadi salah satu online media partner untuk acara perhelatan besar musik jazz tingkat dunia yang dilangsungkan di Jakarta pada bulan November 2008. JakJazz 2008, yang kali ini merayakan tahun ke 10 menggamit Voice Of Jakarta sebagai salah satu online media partner mereka. Seperti kita semua ketahui, VOJ sebagai radio internet selalu diakses oleh pendengar yang datang dari seluruh dunia, oleh karena itu pihak penyelenggara JakJazz 2008 tertarik untuk menjadikan VOJ sebagai online media partner mereka dikarenakan sifat jangkauan radio ini yang “mendunia”.
Selain menjadi online media partner, VOJ pun rencananya juga akan bertindak sebagai ticket box bagi calon pengunjung JakJazz 2008 nantinya.
Informasi tentang JakJazz 2008 bisa dilihat di:
www.jakjazz.com




