New Best Friend
Kemarin selepas acara Nuansa Jazz yang di host Alfred Ticoalu, jam 2 pagi, aku masih chat dengan teman dekatku untuk mengeluarkan uneg2 yang ada di pikiran dan hatiku….[kemarin adalah hari yang kurasa agak melelahkan].
Jam 3 pagi….. tidak terasa 1 jam sudah aku chat dengan temanku….lalu aku pamit, ingin tidur dulu.
Terlalu sering insomnia, aku pingin tidur tidak terlalu pagi lagi kali ini. Sekarang jam 3.44, aku masih 100% terjaga. Lelah namun tanpa rasa kantuk. Aku bangkit dan mendekati laptopku, kupungut lalu kupangku sambil selonjoran di tempat tidur. Menyiapkan extra bantal untuk ganjelan punggung biar dapet posisi ‘wenak’…. mulai kubuka lagi laptopku. Kulihat teman-temanku sudah offline. Ya…sudah terlalu pagi. Browse sana … browse sini, dan tentu aku juga mengunjungi salah satu situs favoritku: facebook.
Mencari teman2 lama dan juga teman2 baru… aku emang suka iseng. Mulai asik. Aku jadi makin melek. Dasar geblek hahaha…..Satu teman yang masih terjaga … di belahan negara lain, baru saja menjadi temanku di situs ini, mengirim message:
“Do I know you from the past? “
Ku reply:
“We do not know each other from the past, I found you from friends …. I would like to meet many new people who live abroad.
As we are running an internet radio with market segment Indo people abroad….who miss to listen to musik2 anak negri [thru www.voiceofjakarta.com]
Everyone is welcome to listen/ tune in for free.
Sorry to bother though…..adding you without enuf info…. My apology”
Ga disangka-sangka dia balas lagi:
“Hi Chloe, that’s fine really. I’m just curious… as I don’t do good in memorizing friends and people …ha.ha..maklum limited space in my brain..he2..
Wah, bagus niih…bisa di add dari itunes ga yaah jd bisa didenger dari iphone/ipod…Usul juga kenapa ga bikin page/group gitu di facebook, nanti gw bantuin promosi ke teman2 di Brisbane sini, kebetulan lagi sekolah disini. Thanks bgt untuk add gw yaah”
Malah jadi chat lewat facebook-message, hatiku gumbira dan sumringah karena keinginan berkawanku mendapat sambutan positif & bersahabat. Meski dah mulai trasa teler n kantuknya, aku balas:
“hehehe…udah kok. Kami punya page n group juga….silakan jadi member. Justru gw say ‘thank U’ for spreading our VOJ …..I really do appreciate that
.
Everyone wherever they might be…. feel free to become our new best friends.Bisa kok pake itunes…Thanks again n enjoy!”
The next reply, ia bilang sudah mulai tune in di VOJ. WOW so fast, my friend!
Menyusul di belakang teman baruku ini, 15 teman baru menerimaku di facebook.
Selepas subuh… aku mencoba tidur dengan senyum tersungging.
Yaa…..kenapa engga?
VOJ is your new best friend…who always b there 4 u 24/7 with music…. Indonesian Music, di tengah kesibukan aktifitas sehari2mu….di saat kamu bete….di saat ga bisa tidur ….. dan tentu saja di saat kamu kangen Indonesia.
> jadi maaf ya temen2 yang aku add…smoga ga mrasa offended…aku ga punya niat buruk di luar bertemen dan bertemen…..Ya! bertemen baik saja <
Cheers,
- Chloe-
Rock Majemuk Sang Ikan
August 21, 2008 by Admin
Filed under SimakMusik
Tatanan musik Tot Licht begitu kaya. Inilah album terbaik progressive rock di negeri ini setelah Guruh Gypsy.
Setelah sukses melambungkan sederet grup papan atas seperti Sheila On 7, Padi, dan Cokelat dengan penjualan jutaan keping, kini Sony Music Indonesia punya “mainan” baru: Progressive Sony atau disingkat PRS. PRS adalah sub-label Sony yang menampung grup-grup musik marginal atau “terpinggirkan” alias tidak bermain dalam jalur pop mainstream. Mereka, grup musik yang tak pernah dijamah industri musik karena muatan idealisme yang dianggap berseberangan dengan selera pasar, digamit oleh Sony Music Indonesia. Produk perdana PRS adalah Discus, grup progressive rock yang pernah dua kali tampil dalam event progressive rock internasional: ProgDay di North Carolina, Amerika Serikat (2000), Baja Prog di Meksiko (2001). Album pertama Discus, Discus 1St, bahkan dirilis secara internasional oleh sebuah label independen Italia, Mellow Record. Selain dirilis di Indonesia oleh PRS Record, album kedua, Tot Licht, juga dirilis di Jepang oleh Gohan Records dan di Prancis oleh Musea Records.
Seperti album pertamanya, Discus 1St (Chicoira Productions, 1999), grup yang dimotori gitaris Iwan Hasan ini masih percaya pada konsep musik fusi: menggabungkan sedemikian banyak style musik. Dengan basis rock, Discus, yang didukung delapan pemusik, mengadon musiknya dengan anasir jazz, klasik, folk, dan etnik Indonesia. Bahkan mereka pun kini terlihat berani dengan menampilkan sentuhan metal. Simak saja riff-riff gitar Iwan Hasan yang tegas, tebal, dan sarat distorsi. Permainan drum Hayunaji yang powerful serta dipertegas dengan growl (teknik nyanyi menggeram yang menjadi ciri musik metal) yang dilakukan oleh Ombat Nasution, penyanyi grup metal Tengkorak, menjadi bintang tamu pada lagu Breathe. Anasir musik yang beraneka ragam ini tampaknya diperlakukan sebagai simbolisasi. Untuk lagu yang cenderung bertendensi kritik sosial seperti System Manipulation dan Breathe, simbol bunyi itu jatuh pada sentuhan metal, yang memang memiliki kesan anger. Dalam atmosfer yang lain, Discus memberi ruang untuk bunyi-bunyian instrumen etnik dari Bali, Kalimantan, ataupun Toraja. Cerdiknya, Discus tidak berupaya memempelaikan instrumen Barat dan Timur, tapi lebih mementingkan hadirnya instrumen tradisional sebagai elemen bunyi. Tak jauh seperti pemahaman musik yang pernah dilontarkan pemusik I Wayan Sadra: mainkanlah instrumen etnik itu dengan mengabaikan pakem. Sangat berbeda dengan apa yang pernah dilakukan Eberhard Schoener, pemusik Jerman yang mencoba menggabungkan musik rock dengan gamelan Bali pada album Bali Agung (1976), yang terkesan tempelan belaka. Menyimak musik Discus di album ini, kita seperti tengah menaiki roller coaster. Nyaris tidak ada ruang untuk bernapas. Rhythm dan komposisi melodinya padat. Beat berubah-ubah. Tapi toh mereka tak menampakkan kesan pamer kemampuan. Bahkan dinamika ritme, melodi, dan beat yang tidak konstan ini sepertinya memang diupayakan untuk mendramatisasi tema lirik. Teror musikal semacam ini memang mengingatkan kita pada upaya yang sering dilakukan Frank Zappa. Musik Discus yang bermain tanpa batas musik ini—berlari dari rock, jazz, hingga klasik—memang tak jauh dari apa yang pernah dilakukan pemusik 70-an seperti Frank Zappa ataupun Canterbury Scene, gerakan pemusik Inggris yang berasal dari Canterbury seperti National Health, Egg, Khan, Soft Machine, Matching Mole, yang bereksperimen menampilkan rock dengan dimensi majemuk. Satu-satunya lagu yang agak menyempal di album ini adalah P.E.S.A.N, yang justru bercorak ear candy. Harmonisasi vokalnya terasa bagai kelompok PAHAMA. Paling tidak, di lagu yang dilatari petikan gitar akustik ini, kebetulan lagu ini ditempatkan pada pertengahan dari susunan 6 lagu album Tot Licht, bisa dijadikan jeda setelah dibombardir deretan lagu yang njelimet. Pada komposisi Music 4.5 Players, Discus menampilkan dialog instrumen biola (Eko Partitur), gitarharpa 21 senar (Iwan Hasan), dan klarinet (Anto Praboe). Sebuah chamber music yang bernuansa kontemporer dan mengingatkan kita pada Dixie Dregs, grup progressive rock-nya gitaris Steve Morse. Dibanding album sebelumnya, di album Tot Licht ini, selain ingin menyajikan tatanan musik yang kaya dan majemuk, Discus juga ingin serius dalam menggarap tema lirik. Mereka ingin melakukan ekspansi tema, tidak ingin terjebak dalam tema-tema mitologi atau fiksi ilmiah seperti yang menjadi tipikal kelompok-kelompok progressive-rock mainstream di era 70-an seperti Yes atau Genesis. Kritik terhadap perilaku korup, yang masih jadi isu nasional sekarang ini, termaktub dengan lugas dan gamblang pada lagu System Manipulation:
Ethical manipulation gets justified as such
Contextual proposition, considered absolute
You thinks you’re such a noble, you’re just another clown
Manipulate, take advantage, twist meanings as you wish….
Discus pun merasa perlu membolak-balik catatan dua wanita yang tertindas dengan konteks yang berbeda: R.A. Kartini, wanita Jawa yang terbelenggu nilai adat, dan Anne Frank, gadis Jerman Yahudi yang melarikan diri dari holocaust Nazi dan meninggal di Kamp Konsentrasi Belsen pada usia 16 tahun. Dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisikan kumpulan surat-surat Kartini, lalu muncul lagu “Verso Kartini – Door Duisternis tot Licht!”. Sedangkan buku harian Anne Frank yang legendaris itu menjadi gagasan utama lagu Anne, yang berdurasi 19,23 menit. Liriknya digarap oleh Fadhil Indra, sang pemencet bilah-bilah kibor. Kedua lagu ini disajikan dalam gaya naratif dan sedikit berkesan operatic. Lagu ini rasanya punya potensi kuat untuk dikembangkan menjadi semacam opera rock seperti Tommy (Pete Townshend) atau Jesus Christ Superstar (Andrew Lloyd Weber & Tim Rice). Sayangnya, kedua lagu ini terasa sangat mubazir. Padatnya narasi harus tumpang tindih dengan music score yang juga sangat padat. Terlalu menjelas-jelaskan. Sepertinya, Discus tidak begitu yakin pesan dari tema lagu tersebut bisa dipahami pendengarnya. Padahal, dengan hanya menggunakan bunyi-bunyian musik sebagai idiom, sebetulnya Discus mampu bertutur tentang pedihnya penderitaan yang dialami Kartini ataupun Anne Frank, tanpa harus bertutur secara verbal. Uniknya lagi, Discus menampilkan tematik historis ini dengan interpretasi yang agak nyeleneh. Misalnya, cuplikan surat Kartini terhadap Stella Zeehandelaar dan Ms. Abendanon justru dibacakan oleh suara pria dengan nada geram dan tegas. Atau, gamelan Bali dan kor Kecak menyelimuti aransemen lagu Anne, bukannya musik klasik, musik yang akrab dengan atmosfer Eropa. Dan Tot Licht merupakan album progressive rock terbaik negeri ini setelah Guruh Gipsy, album kolaborasi Guruh Sukarno Putra dengan grup rock Gipsy 27 tahun yang lalu.
Denny Sakrie – pengamat musik
Diambil dari:
Majalah Tempo No. 34/XXXII/20 – 26 Oktober 2003
‘Rock’ Majemuk Sang Ikan
Rencana VOJ Meetup di Jakarta
August 21, 2008 by Admin
Filed under Jakarta Kita
Kemarin kebetulan saya melihat Rhesa Aditya (salah satu dari duo Endah & Rhesa) lagi online di Facebook, bagi yang belum tahu, dua Endah & Rhesa ini adalah salah satu musisi yang sering tune-in di VOJ. Seinget saya Endah & Rhesa ini punya jadwal main reguler di Loca, Kemang (silahkan lihat di Endah & Rhesa Facebook Group), langsung kebayang……seru juga kali ya kalau ngajakin temen-temen pendengar VOJ di Jakarta buat ketemuan, dan Loca juga tempatnya asik, lalu yang paling penting…..asik banget kalo ngajakin temen-temen musisi akustikan disitu, terutama temen-temen yang suka nongkrong dengerin VOJ. Alhasil ya gue sapa aja Rhesa dan tanya-tanya tentang kemungkinan untuk bikin VOJ Meetup di Loca, Kemang. Dan bisa ditebak dong, Rhesa bahkan menawarkan untuk bantu menanyakan ke Loca dengan tentatif waktu tanggal 30 Agustus 2008.
Kita tunggu aja nanti bagaimana ya.






