Para Pelacur Kehidupan

May 28, 2008 by voj  
Filed under Sekitar Kita

“Para Pelacur Kehidupan”, kata-kata itu saya temukan beberapa waktu lalu di profile Friendster seorang sahabat, Cornelia. Entah mengapa saya menyukai kata-kata tersebut.

Dalam KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, pelacur memiliki arti wanita tuna susila. Wanita yang menjual dirinya. Tapi dalam pengertian saya, para pelacur kehidupan merupakan orang-orang yang menjual dirinya untuk kehidupannya. Pelacur alias wanita tuna susila merupakan bagian dari para pelacur kehidupan. Bahkan kita pun merupakan para pelacur kehidupan.

Di ibukota negara seperti Jakarta, banyak kaum urban yang menetap. Gegar budaya pun kerap terjadi. Alhasil, gaya hidup yang tinggi pun menjadi suatu harga diri. Uang menjadi Tuhan. Dalam pemahaman saya, saat ini fenomena ini sedang melanda kaum urban di Jakarta. Menjadi para pelacur kehidupan. Tidak hanya terjadi pada perempuan tetapi juga para lelaki.

Banyak kaum urban yang bekerja di gedung mewah yang bertempat di kawasan bisnis dengan bayaran yang tinggi. Bayaran tinggi untuk menunjang gaya hidup yang tinggi. Tingkat stress pun menjadi tinggi. Bayangkan saja, berangkat dan pulang kerja terkena macet. Bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Rutinitas menjadi bagian dan hasilnya pun kepenatan yang tak kunjung hilang. Bekerja hanya menjadi suatu rutinitas yang tak ada rasa cinta didalamnya. Tak ada perasaan senang dalam menjalaninya. Hanya demi materi yang telah menjadi Tuhan untuk memenuhi gaya hidup. Inilah pemahaman saya terhadap para pelacur kehidupan.

Pernah hal ini saya perbincangkan dengan Cornelia ketika kami online via YM. Dan saya mendapatkan sebuah cerita menarik dari sahabat saya itu. Bahwa ada seorang wanita tuna susila yang pernah ia temui dan, ini yang menarik, wanita tuna susila tersebut bekerja karena ia menyukai sex. Materi yang ia dapat adalah nilai tambah. Menurut saya, ia tidak termasuk ke dalam para pelacur kehidupan walau profesinya adalah pelacur.

Tentang pekerjaan yang disenangi dan kemudian saya perbincangkan dengan Bang Ully Debrur, sangat menyenangkan jika kita menjalani pekerjaan yang disukai. Artinya kita tidak akan pernah terjebak dengan rutinitas yang membuat penat. Jika kita menyenangi pekerjaan kita, hal yang bersifat materi adalah nilai plus dari pekerjaan kita. Hal yang bersifat materi maupun bukan adalah nilai tambah. Dan secara keseluruhan, itu akan menjadi gaya hidup kita. Kita memiliki gaya hidup kita sendiri tanpa terpaku dengan gaya hidup tinggi kota besar. Pada akhirnya kita pun tidak akan menjadi salah satu dari para pelacur kehidupan.

Jakarta, 23 Mei 2008

Bunga

Comments

13 Comments on "Para Pelacur Kehidupan"

  1. cornelia on Wed, 28th May 2008 8:39 PM 

    waduh…. nama gw disebut… :(

  2. Orion on Wed, 28th May 2008 10:01 PM 

    Gpp… jimi mengulas sesuatu yg cukup menarik koq… jadi kaya co-writer gitu, hehehe

  3. Jimi G on Thu, 29th May 2008 2:11 AM 

    Bay..yang nulis bukan gue, artikel ini full yang nulis si Bungabunga….:-)

  4. bungabunga on Thu, 29th May 2008 3:05 PM 

    whoaduh foto ini gyahahhahahahha aku gi itemitemnya ni bis pulang dari bali jadinya gosong begituh hehehhehe
    tapi dgn foto ini terkesan aku bagian dari para pelacur kehidupan ni hahhahahahhahhaa,,,pdhal intrview orang adalah pekerjaan yang aku suka banget,,,

  5. Remy on Fri, 30th May 2008 10:30 AM 

    komen di atas gw pikir ada cw dari India mo di interview :D ….lol j/k bung….ehheheh

  6. bungabunga on Fri, 30th May 2008 1:59 PM 

    ouh rembol,,,aku arab bukan india,,,india mah si nehi doong gyahahhahahhahaha,,,

  7. chloe on Fri, 30th May 2008 7:09 PM 

    gw stuju dg kita melakukan pekerjaan yang kita cintai. Karena banyak orang bekerja sekedar ngumpulin uang aja tapi dilakukan dg bersungut-sungut. Nah yg ada jadi cepet bosen, lama2 males ke kantor…cuma karena harus aja.

    We have to love what we’re doin’.

    Tapiii kendalanya: ga selalu apa yang menyenangkan hati kita bisa menghasilkan uang yg cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita apalagi di jaman sekarang yg harganya mahal2. Tapi…ya kudu pinter2/ cerdik2 mengusahakannya. Make our hobby be our job as-well….
    Satu lagi: kudu halal bow!

  8. gito belkanto on Mon, 9th Jun 2008 12:00 AM 

    somse ach… b’gaulnya ama yg kerja di pencakar langit aja…
    sekali-kali wawancara dong ibu2 yg saben pagi jam 3 pagi tidur di atas sayur2nya di bak truk noooh di bypass
    ask them ‘are they having fun?’ doesn’t look like it… but guess what, that’s probably what half the population of the planet have to do… emang kita ngejar duit… hla gak ada duit gak makan…?? welcome to life.

    masih bagus kita semua masih bisa online, menghamburkan waktu utk sekedar bertukar sapa… menghibur diri ndengerin musik endonesa….

    some people have to work double shift just to make ends meet… (wah jadi mengenang masa2 kelam 12 thn lalu hiks – sekarang juga double shift tapi judulnya besukaan)

    not everyone has the luxury of having the work they love, girls… so be grateful if you do… and move on… gak usah ngatain orang yg belom beruntung… heran, hare gene… semua lagi susah dan prihatin tau…
    SBY baru nongol di tv barusan ngemis spy nda ada yg dipecat…. guess what, kalo PLN naekin listrik utk business, akan ada massive layoff… yah termasuk yg di pencakar langit… sama aja ama yg di pabrik2…. no money no jobs

    like it or not, this is what’s happening to your people…. would reaaaally ‘ppreciate it if you can keep such words to yourselves – have a bit ’simpati’ for your struggling people, ok
    kasian deh kita, udah struggling dituduh menggerutu di tempat kerja… apa boleh buat… life is not always a picnic (maybe it is a picnic for you)

    just one lone voice from jakarta….

  9. bejo on Wed, 11th Jun 2008 1:20 PM 

    kerja untuk makan… or makan untuk kerja… dari dulu muter terus disitu. ga makan ga bisa kerja, ga kerja ga bisa makan, kalo selama ini si gw kerja sambill makan, juga kadang makan sambil kerja, hahaha… life is beautiful!

  10. Elfrizo TL Tobing on Thu, 28th Aug 2008 12:39 AM 

    pengalaman gw tuh banyak sama anak2 sma, mereka tuh pada awalnya ingin berexplorasi saja sambil iseng2 nyari uang tambahan. Tidak jarang dari mereka adalah anak2 orang yang mampu. Pada dasarnya mereka suka sekali ngsex dengan orang yang ahli. Gw sendiri jadi ketagihan.

  11. bintang alzeyra on Sat, 27th Sep 2008 6:42 PM 

    kenapa sich mereka disebut kupu-kupu malam, kenapa tidak disebut kelelawar ato yang lain?

  12. Mr.Nunusaku on Fri, 17th Oct 2008 11:07 PM 

    Kata-kata pelacur sangat terkesan indah seperti dapat saya katakan; Dunia ini tanpa pengsungsi wanita apa jadinya. Sebagai lelaki kita dapat berkata pada pasangan kita
    (suami istri) dapat berkata pada istri kita jika berberahi dengan kata-kata;

    Seorang istri harus bisa menjadi pelacur bagi suminya ditempat tidur.

    kata-kata pelacur ini mempunyai kenikmatan sexuel bergairah bagi pasangannya.

  13. reno on Mon, 16th Nov 2009 1:03 PM 

    saya…setuju apa yang kamu katakan. karena ada pelacur juga adanya permintaan…? siapa yang meminta? ya..masyarakat itu sendiri. ini adalah fenomena kehidupan yang tidak perlu di bahas karena dia ada sejak zaman nabi.

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!