The Adams - v2.05
May 28, 2008 by Admin
Filed under SimakMusik

Judul Album : v2.05
Artis : The Adams
Label : Aksara Records
Tahun : 2006
Produser : Ario Hendrawan & The Adams
Harmonisasi vokal berbaur dengan riff gitar yang crunchy dan tegas bahkan terkadang kadang menyilang ke solo minimoog yang imajinatif. Itulah kesan yang mencuat ketika menyimak album kedua kelompok The Adams ini. Sajian semacam ini memang mengingatkan kita pada gerakan “power pop” yang berkecambah di akhir era 60-an terutama jika kita menyimak komposisi The Beatles, Beach Boys bahkan The Byrds. Di Indonesia bisa kita telusuri lewat Koes Plus/Bersaudara atau pun Noor Bersaudara. Ditengah riuhnya, band-band berwarna seragam belakangan ini, The Adams terlihat memiliki keunikan. Apalagi saat ini, harmonisasi vokal agak sering diabaikan. The Adams melakukan “pecahan pecahan” nada yang membentuk harmoni melodius nan catchy. Harmoni vokal ini berasal dari semua personil the Adams tanpa terkecuali. Jadi kebayang betapa repotnya konsentrasi jika tampil di pentas pertunjukan. Disamping melodi yang catchy dan akurasi harmoni vokal, The Adams pun menoreh daya pikat dalam pola penulisan lagu yang lugas, ekspresif dan imajinatif. Persoalan simpel sehari-hari tak jarang diangkat menjadi tema lagu. Tak jarang pula mereka mengetengahkan idiom atau ungkapan-ungkapan yang pernah populer di dasawarsa silam. The Adams seolah memoles sesuatu yang vintage dalam konteks kekinian. Jadi tak hanya terjebak dalam romantisme nostalgia. Melainkan memberlakukan hal-hal vintage sebagai materi untuk berekspresi dalam bermusik. Sudah pasti ini bukan hal mudah.
Dalam lagu “Berwisata”, kita mungkin tergelitik menyimak penyampaian The Adams secara a cappela. Dari segi historis, power pop memang pernah timbul tenggelam. Di era 70-an kita mendengar kiprah Badfinger dan The Raspberries. Dan di era 80-an ada Cheap Trick hingga The Knack. Lalu ada Teenage Fan Club hingga The Posies di era 90-an.Melihat fenomena ini, The Adams mestinya sudah membuat planning apabila sajian musik mereka ini berakhir dengan kulminasi.
Tetapi jika mengamati pergeseran antara album pertama dan keduanya, The Adams pasti mampu menyiasatinya. Yang jelas, lewat album ini, The Adams berhasil mencahar iklim industri musik yang sering berkonotasi epigonistik.
TRACK LIST
1.Pahlawan Lokal
2.Selamat Pagi Juwita
3.Halo Beni
4.Lega
5.15/8
6.Gelisah
7.Berwisata
8.Hanya Kau
9.Suara
10.Pijakkan
11.Pagi Siang Malam
12.Sendiri
DENNY SAKRIE
0818417357
http://musicalbox.jdfi.co.id/n
Thanks To : David Tarigan (Aksara Records), Meidy Ferialdi, Kristanto Gunawan (Aquarius Musikindo), Kunto & Mumu (Sony BMG), Adib Hidayat (Warner Music), Aldo Sianturi (Universal Music ) untuk CD-CD nya !
Para Pelacur Kehidupan
May 28, 2008 by Admin
Filed under Sekitar Kita

“Para Pelacur Kehidupan”, kata-kata itu saya temukan beberapa waktu lalu di profile Friendster seorang sahabat, Cornelia. Entah mengapa saya menyukai kata-kata tersebut
Dalam KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, pelacur memiliki arti wanita tuna susila. Wanita yang menjual dirinya. Tapi dalam pengertian saya, para pelacur kehidupan merupakan orang-orang yang menjual dirinya untuk kehidupannya. Pelacur alias wanita tuna susila merupakan bagian dari para pelacur kehidupan. Bahkan kita pun merupakan para pelacur kehidupan.
Di ibukota negara seperti
Banyak kaum urban yang bekerja di gedung mewah yang bertempat di kawasan bisnis dengan bayaran yang tinggi. Bayaran tinggi untuk menunjang gaya hidup yang tinggi. Tingkat stress pun menjadi tinggi. Bayangkan saja, berangkat dan pulang kerja terkena macet. Bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Rutinitas menjadi bagian dan hasilnya pun kepenatan yang tak kunjung hilang. Bekerja hanya menjadi suatu rutinitas yang tak ada rasa cinta didalamnya. Tak ada perasaan senang dalam menjalaninya. Hanya demi materi yang telah menjadi Tuhan untuk memenuhi gaya hidup. Inilah pemahaman saya terhadap para pelacur kehidupan.
Pernah hal ini saya perbincangkan dengan Cornelia ketika kami online via YM. Dan saya mendapatkan sebuah cerita menarik dari sahabat saya itu. Bahwa ada seorang wanita tuna susila yang pernah ia temui dan, ini yang menarik, wanita tuna susila tersebut bekerja karena ia menyukai sex. Materi yang ia dapat adalah nilai tambah. Menurut saya, ia tidak termasuk ke dalam para pelacur kehidupan walau profesinya adalah pelacur.
Tentang pekerjaan yang disenangi dan kemudian saya perbincangkan dengan Bang Ully Debrur, sangat menyenangkan jika kita menjalani pekerjaan yang disukai. Artinya kita tidak akan pernah terjebak dengan rutinitas yang membuat penat. Jika kita menyenangi pekerjaan kita, hal yang bersifat materi adalah nilai plus dari pekerjaan kita. Hal yang bersifat materi maupun bukan adalah nilai tambah. Dan secara keseluruhan, itu akan menjadi gaya hidup kita. Kita memiliki gaya hidup kita sendiri tanpa terpaku dengan gaya hidup tinggi kota besar. Pada akhirnya kita pun tidak akan menjadi salah satu dari para pelacur kehidupan.
Bunga
Nuansa Jazz + perubahan schedule
May 28, 2008 by Admin
Filed under VOJ Updates
Kabar gembira buat pedengar VOJ khususnya yang menyukai jenis musik jazz dan turunannya, akhirnya programme acara yang dulu sempat mengudara di VOJ lalu mati seiring “tertidur”nya VOJ di masa lalu berhasil disiapkan untuk disiarkan kembali. Alfred Ticoalu kembali bersama kita untuk mengawal acara Nuansa Jazz yang akan disiarkan setiap hari Rabu pukul 11.00am (waktu Singapura) atau pukul 10.00pm (waktu Chicago, US), serta akan di rerun pada hari Sabtu pukul 11.00pm (waktu Singapura) atau pukul 10.00am (waktu Chicago, US). Siaran perdana Nuansa Jazz inikana kami mulai pada tanggal 28 Mei 2008.
Karena adanya perubahan ini maka acara Late Nite With Jimi akan di reschedule, nanti akan kami update lagi….:-)
Thanks
Jimi Gemblung
Masa Depan Industri Musik Rekaman
May 23, 2008 by Admin
Filed under Kabar-Kabari

Saya bingung, kenapa sekarang kalau ditanya gimana masa depannya industri rekaman selalu saja jawabnya susah, sangat suram, dying, dan lain sebagainya. Saya jadi ingat dulu disekitar tahun 96-97 saya sempat ngobrol tentang dunia musik dengan seorang teman yang kebetulan expertise nya didunia IT. Obrol punya obrol akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa dimasa yang akan datang itu musisi/artis/penyanyi cari makannya bukan dari industri rekaman melainkan dari dunia panggung. Yah kasarnya industri rekaman itu bakalan mati alias gak bisa diandalkan untuk membuat dapur ngebul….begitu kesimpulannya.
Nah setelah 10 tahun lebih, ternyata apa yang kita obrolin dulu itu semakin menuju ke kenyataan. Dimulai dari lahirnya format MP3 yang membuat format lagu gampang dipertukarkan, lalu munculnya website2 yg menyediakan sarana peer-to-peer, seperti Napster, yang membuat proses tukar-menukar lagu menjadi super mudah sampai ditahun 2005 ini yang penuh dengan kejutan bertubi2 seperti munculnya BitTorrent yang dimata org awam mirip Napster hanya mampu menshare bukan hanya lagu tapi film dvd full version. Lalu juga perkembangan blog yang muncul diawal2 tahun 2000an yg sekarang berkembang ke arah Audio (PodCasting). Semua ini bukan hanya mengancam dan bahkan sudah mulai menggilas industri musik bahkan juga mulai memoroti industri film layar lebar.
Diatas kertas sih industri rekaman memang gak bakalan menang kalau diadu dengan perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang dulunya berjalan side-by-side dengan perkembangan industri rekaman, sekarang jadi musuh dalam selimut yang mulai menghujam dari belakang. Hilang satu tumbuh seribu…ini lah yang dialami oleh RIAA ketika mereka mulai men-sue pelaku distribusi lagu2 berformat MP3, bukannya hilang tapi malah bertumbuhan seperti jamur.
Jadi…apakah industri rekaman bakalan punah? Ada dua skenario yang diprediksikan bakal muncul, yaitu pertama industri rekaman mulai menyadari bahwa “mengkontrol” perkembangan (musik digital) adalah langkah yang salah sehingga sedikit demi sedikit mereka mulai melakukan kompromi. Ini ditandai dengan munculnya distribusi2 musik digital resmi seperti iTunes, buymusic.com, new napster (99 cents per lagu atau mbayar bulanan download sepuasnya) , etc…etc. Skenario kedua adalah skenario yg lebih ekstrim, dimana industri rekaman akan benar2 bermetamorfosis menjadi sebuah industri semi non-profit dimana tujuan musisi/artis/penyanyi membuat rekaman adalah untuk membuat sample yg akan dibagikan kepada audiens. Terus pertanyaannya bagaimana musisi/artis/penyanyi bisa hidup? Industri pertunjukkan-lah yang akan mengambil alih peran utama sebagai sumber mata pencaharian mereka, dimana industri pertunjukkan akan berkembang pesat dengan ditopang oleh perkembangan teknologi yang juga melejit pesat. Sekedar bayangan saja, sebuah band seperti U2 yang tadinya bisa meraup profit dr hasil tour nya keseluruh dunia dimasa yang akan datang hanya cukup melakukan konser di sebuah panggung di kota asalnya dimana penontonnya akan meluas sampai keseluruh dunia di negara mereka masing dengan menggunakan teknologi streaming video dan tentunya harus bayar kalau mau nonton….:-) Bisa dibayangkan ya?.
Sekarang untuk industri rekaman tinggal pilih saja, tapi kelihatannya untuk mempertahankan pola industri rekaman konvensional (rekaman distudio lalu hasilnya dijual ditoko kaset/cd) sama juga dengan bunuh diri secara pelan2.
Bagaimana menurut anda?
Regards,
Foto oleh Joe Madonna
Voice of Jakarta = Suara dari Jakarta?
May 22, 2008 by Admin
Filed under Sekitar Kita
Pertama kali saya mendengar Voice of Jakarta (VoJ) yakni dari seorang teman yang berbaik hati mencoba mengeluarkan saya dari suatu perasaan sendiri yang mencekam [berlebihan banget yah hehehehhe]. Dimulai dengan mengisi name dan password, akhirnya saya berkenalan dengan oknum pembuat VoJ beserta teman-teman yang aktif di Kotak Ngobrol.
Tadinya, saya pikir, VoJ adalah sebuah situs yang berisi suara-suara warga Jakarta mengenai kota Jakarta. Ternyata, VoJ adalah sebuah komunitas radio internet yang isinya anak-anak Indonesia yang menetap di luar negeri entah untuk bekerja ataupun belajar. Ada yang menggelitik di pikiran saya, dimanakah “suara dari Jakarta”-nya?
Terlepas dari itu, saya merasa amat beruntung dapat bergabung dengan komunitas ini. [Tepatkah saya menyebutnya dengan komunitas?]. Ya saya beruntung karena dapat berkenalan dengan teman-teman dari berbagai latar belakang. Ada pemusik, pelajar, akuntan, fotografer, dan lainnya. Dari segi usia juga mungkin, sebab saya tidak tahu pasti, mulai dari usia 20 hingga 40 tahun pun ada di VoJ. Berlatarkan hal tersebut, obrolan pun mengalir melalui Kotak Ngobrol. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini.
Tentang semangat untuk berkembang. Maksudnya, pembicaraan-pembicaraan yang mengalir melalui Kotak Ngobrol itu, menurut saya, dapat dijadikan semangat untuk berkembang. Cerita-cerita mengenai teman-teman tentang segala sesuatu, terlepas dari celaan Bang Jimjim, tapi kita bisa ambil sisi positif mengenai suatu semangat dalam mengembangkan diri kita. Seperti saya yang tidak mau kalah dari Andre Harihandoyo [teuteup hehehehe], Mas Devian, Bang Ully Debrur, Mba Chloe & Bang Jimjim di VoJ, saya sedang berusaha mengembangkan diri untuk berkarya. Semangat itu timbul dari percakapan-percakapan yang mengalir melalui Kotak Ngobrol ini.
Tentang pengalaman yang di-sharing. Pengalaman-pengalaman yang di-share dalam Kotak Ngobrol juga bisa menjadi info bagi teman-teman yang merindukan Indonesia. Sehingga timbul suatu perasaan terikat secara emosional pada Indonesia. [nasionalis sekali hehehehhe]
Tentang canda tawa. Ini hal yang paling sering terjadi di Kotak Ngobrol. Cela-celaan kemudian jadi bercanda. Sebatas hiburan yang bisa menghilangkan penat. Kebiasaan yang sudah mendarah daging bagi kita yang hidup di jaman yang terikat dengan rutinitas.
Tentang musik. Saya pikir, hidup tanpa musik seakan hampa. Semua orang membutuhkan musik. Membutuhkan nada yang menjadi suatu harmoni. Kehadiran VoJ, menurut saya, turut membantu perkembangan musik Indonesia dikenal di luar negeri. Ditambah lagi para musisi Indonesia terkadang berinteraksi di Kotak Ngobrol.
Tentang Voice of Jakarta. Tentang Suara dari Jakarta. Semoga Voice of Jakarta ini bisa menjadi pelipur lara kerinduan akan Indonesia bagi teman-teman yang menetap di luar negeri.
Jakarta, 22 Mei 2008
Bunga
Endah N’ Rhesa - Nowhere To Go
May 22, 2008 by Admin
Filed under SimakMusik

Judul Album: Nowhere To Go
Artis: Endah n’ Rhesa
Label: REI Project
Tahun: 2006
Mendengarkan 7 lagu dari duo Endah n’ Rhesa di album “Nowhere to Go” ini seakan-akan kita dibawa ke suasana alam yang damai, di mana kuping kita tidak dipaksa untuk mendengarkan nada-nada rumit, melainkan dibuai oleh alunan duet gitar akustik dan bass. Kalau menurut saya pribadi, lagu-lagu yang bernuansa acoustic pop-folk-jazzy ini adalah merupakan proses pematangan berkarya dari Endah sendiri yang sudah kenyang untuk menjelajahi genre musik dengan gitar.
Album ini diawali oleh hentakan gitar akustik dari Endah yang membawakan lagu yang berjudul “Bad Lecturer”, ada sedikit sentuhan style dari Beautiful South pada lagu ini, terutama pada stroke nya Endah di gitar akustiknya. Lagu-lagu bernuansa acoustic pop jazzy sangat ketara di lagu-lagu “Blue Day”, “Uncle Jim” dan juga “Understand Me”
Lagu ketiga yang berjudul “When You Love Someone” adalah lagu jagoan dari duo Endah n’ Rhesa di mana lagu ini sempat menduduki 10 besar top download di IM:port. Lagu manis ini memang punya potensi untuk jadi hits, di mana lirik yang begitu puitis dan juga suara gitar akustik Endah ditingkahi dentuman bass gitar Rhesa yang sekaligus menjaga beat dari keseluruhan lagu membuat lagu ini menjadi sangat catchy dan nyaman untuk didengar.
Lagu keempat yang berjudul “Living With Pirates” mewakili nuansa folk-rock versi akustik minus drum, di mana basic lagunya sendiri adalah rock & roll, yang ditingkahi sentuhan pada akustik guitalele pada part solo yang dilakukan oleh Rhesa (selain memainkan electric bass, Rhesa ini juga memainkan guitalele).
Sangat menarik kalau melihat bagaimana duo ini menciptakan sebuah lagu yang didedikasikan untuk almarhum Munir dari Kontras yang tewas di perjalanan ke Belanda tempo hari. Judul lagunya adalah “Thousand Candles Lighted”, dengan ritme hentakan konstan bass nya Rhesa, lalu stroke gitar Endah yg ekspresif membuat lagu ini enak diikuti lirik maupun iramanya.
Selain itu perlu diketahui bahwa duo ini mendistribusikan cd album mereka ini secara indie dan juga melalui IM:port untuk digital full-track serta RBTnya
TRACKLIST
1. Bad Lecturer
2. Blue Day
3. When You Love Someone
4. Living With Pirates
5. Uncle Jim
6. Thousand Candles Lighted (Dedicated to Munir Kontras)
7. Understand Me
Mister Botak
Kalo liat dari judul artikel ini mungkin kalian pada mikir: siapa yg dimaksud sih? Is it Jimi G? Hahaha bukan koq. Jimi itu gonjez.
Ceritanya pas hari sabtu lalu team VOJ janjian dengan salah satu pendengar setia kami…..ialaaah: OrionKnight alias Bayu. Janjian makan siang bareng di suatu tempat makan bernama Botak Jones.
Siang itu cerah sekali, tepatnya puanaaaas menyengat ngat ngaat…perjalanan jauh yang penuh perjuangan ke daerah ujung east Singapura kami tempuh dengan semangat, mengingat mau makan soalnya :P.
Setelah transfer 10 kali MRT (kreta bawah tanah –red) akhirnya nyampe juga di wilayah bernama Clementi. Oreo yang sedari tadi sudah sms kasih tau: “guys, gua di deket exit B!” udah ga sabar tentunya nungguin team VOJ yang ga kunjung tiba. Dengan modal petunjuk minim di sms itu…kami keluar dari stasiun MRT menuju arah Exit B dan mencari wajah2 celingukan yang bisa dijadikan korban bernama Oreo. Mana ga kenal muka pula huihihiih !
Ternyata ga sulit sih…tinggal liat mana yg tampangnya mupengma (muka pengen makan) bin celingak celinguk. Ahaa…nemu juga. Kusapa dia: “Hey, situ Oreo ya? Sini Ve Ou Je” Yg di ajak omong goyang2 kepala a la india. Pria yang lagi asik maen game itu ga langsung beranjak mendekati kami karena harus nyelesai-in game nya dulu…daripada loss hehehe.
Abis bersalam-salaman dan cium pipi kiri dan kanan sambil tepok tepok tangan-pundak-kaki-lutut sebanyak 3 kali, akhirnya Oreo led kita semua ke arah yang mengeluarkan bau2 masakan (mengikuti aroma bak di filem2 kartun –red).
Kaya apa sih ya? Kami masih penasaran dengan Botak Jones itu. Akhirnya setelah jalan kaki beberapa meter, nemu juga tempat yg diidamkan. Ternyata Botak Jones di daerah ini hanya berupa sebuah stand kecil di antara jenis2 makanan lainnya di food court tersebut. Oreo memberikan sedikit pengarahan (seperti yang sering dia lakukan sesuai profesinya sebagai trainer fitness): ”Jadi, Botak Jones ini menawarkan makanan a la Amerika namun dengan bumbu bernuansa asia, makanan yang rekomended ada di etalase, tapi di luar itu juga banyak menu lain seperti yang tertulis di papan dekat kasir itu”.
Setelah melihat beberapa pilihan, akhirnya kuputuskan untuk memilih menu Black Pepper Chicken lengkap dengan coleslaw dan french fries-nya yang gurih. Sementara Oreo dan Jimi G sehati dengan menu Cajun Chicken yang juga disertai coleslaw plus french fries. Imaji (salah seorang pendengar VOJ juga) yang juga bergabung dengan kami, memilih menu: Botak Jones Burger plus coleslaw dan french fries.
Sehabis milih2 minuman kami kembali ke tempat duduk sambil nunggu makanan kami diantar ke meja. Ngobrol2 deh kita dengan seru namun gelisah karena masih laper hahaha.
Sekian menit kemudian…datang makanan kami satu per satu seperti terlihat di foto2 ini:

Tuh muka hepi Oreo saat makanan datang dan saat sudah kenyang (huihihi).
Thank you Oreo yang udah memperkenalkan kita ke Mister Botak!! Lain kali kita kesana lagi yach temen2
Cheers,
Chloe Voj
Chingay Parade di Esplanade
May 21, 2008 by Admin
Filed under Sekitar Kita
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis dolore te feugait nulla facilisi. Nam liber tempor cum soluta nobis eleifend option congue nihil imperdiet doming id quod mazim placerat facer possim assum. Typi non habent claritatem insitam; est usus legentis in iis qui facit eorum claritatem. Investigationes demonstraverunt lectores legere me lius quod ii legunt saepius. Claritas est etiam processus dynamicus, qui sequitur mutationem consuetudium lectorum. Mirum est notare quam littera gothica, quam nunc putamus parum claram, anteposuerit litterarum formas humanitatis per seacula quarta decima et quinta decima. Eodem modo typi, qui nunc nobis videntur parum clari, fiant sollemnes in futurum.
Hentakan The Police.
May 21, 2008 by Admin
Filed under Sekitar Kita
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis dolore te feugait nulla facilisi. Nam liber tempor cum soluta nobis eleifend option congue nihil imperdiet doming id quod mazim placerat facer possim assum. Typi non habent claritatem insitam; est usus legentis in iis qui facit eorum claritatem. Investigationes demonstraverunt lectores legere me lius quod ii legunt saepius. Claritas est etiam processus dynamicus, qui sequitur mutationem consuetudium lectorum. Mirum est notare quam littera gothica, quam nunc putamus parum claram, anteposuerit litterarum formas humanitatis per seacula quarta decima et quinta decima. Eodem modo typi, qui nunc nobis videntur parum clari, fiant sollemnes in futurum.
Lampion Beterbangan.
May 21, 2008 by Admin
Filed under Sekitar Kita

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis dolore te feugait nulla facilisi. Nam liber tempor cum soluta nobis eleifend option congue nihil imperdiet doming id quod mazim placerat facer possim assum. Typi non habent claritatem insitam; est usus legentis in iis qui facit eorum claritatem. Investigationes demonstraverunt lectores legere me lius quod ii legunt saepius. Claritas est etiam processus dynamicus, qui sequitur mutationem consuetudium lectorum. Mirum est notare quam littera gothica, quam nunc putamus parum claram, anteposuerit litterarum formas humanitatis per seacula quarta decima et quinta decima. Eodem modo typi, qui nunc nobis videntur parum clari, fiant sollemnes in futurum.



